Tag Archive for: Konsumerisme

Mengapa Ekonomi Pertumbuhan Membuat Kita Sulit Bahagia

Ada sesuatu yang ganjil dalam cara kita menjalani kehidupan modern.

Kita bekerja untuk mendapatkan uang. Uang digunakan untuk membeli sesuatu yang kita harapkan membuat hidup lebih baik. Setelah mendapatkannya, kebahagiaan itu datang sebentar—lalu menghilang. Tidak lama kemudian muncul kebutuhan baru, keinginan baru, standar baru, dan perasaan bahwa hidup kita masih kurang.

Mungkin persoalannya bukan karena manusia terlalu lemah untuk merasa puas.

Mungkin kita hidup di dalam sistem yang memang membutuhkan ketidakpuasan terus-menerus agar roda ekonominya tetap berputar.

Inilah salah satu tesis utama ekonom ekologis Tim Jackson. Dalam artikelnya di IAI, ia mempertanyakan obsesi ekonomi modern terhadap pertumbuhan GDP dan menunjukkan paradoks yang lebih dalam: ekonomi berbasis pertumbuhan tidak terutama bertahan karena berhasil memenuhi semua kebutuhan manusia, tetapi karena ia terus menciptakan keinginan baru yang membuat kita merasa belum cukup.

Ekonomi yang Membutuhkan Keinginan

Selama beberapa dekade, pertumbuhan ekonomi telah diperlakukan sebagai ukuran keberhasilan. GDP menjadi semacam angka yang digunakan untuk mengatakan apakah sebuah negara sedang “maju” atau “mundur”.

Masalahnya muncul ketika pertumbuhan disamakan dengan kemakmuran.

Jika kemakmuran berarti semakin banyak, maka berhenti menjadi semakin banyak akan terlihat seperti kegagalan. Negara harus terus meningkatkan produksi. Perusahaan harus terus menjual. Konsumen harus terus membeli. Investasi harus terus berkembang.

Dengan demikian, sistem tidak hanya membutuhkan produksi.

Ia membutuhkan keinginan.

Dan keinginan manusia ternyata mudah dibentuk.

Sebuah telepon yang kemarin masih terasa sempurna tiba-tiba tampak tua ketika model baru muncul. Rumah yang dahulu terasa cukup menjadi terasa sempit ketika lingkungan sosial menaikkan standar. Mobil bukan lagi sekadar alat transportasi, tetapi simbol keberhasilan. Pakaian bukan sekadar pakaian, melainkan pesan tentang siapa kita.

Jackson menunjukkan bahwa konsumsi modern bekerja bukan hanya melalui kegunaan benda, tetapi juga melalui makna simbolik: status, identitas, harapan, dan rasa memiliki.

Di sinilah ekonomi bertemu dengan psikologi manusia.

Ketika Kebahagiaan Menjadi Target yang Selalu Bergeser

Bayangkan seseorang berlari mengejar garis finis.

Ia terus berlari karena percaya bahwa kebahagiaan berada di sana.

Namun setiap kali ia mendekat, garis itu bergeser lebih jauh.

Ia membeli sesuatu.

Standarnya naik.

Ia memperoleh pencapaian.

Definisi sukses berubah.

Ia mencapai tingkat pendapatan tertentu.

Lingkungan sosialnya segera membuat tingkat tersebut terasa biasa.

Ia akhirnya menemukan bahwa yang berubah bukan hanya jumlah barang yang dimiliki, tetapi juga ambang tentang apa yang dianggap cukup.

Inilah yang membuat kritik terhadap ekonomi pertumbuhan menjadi lebih dalam daripada sekadar kritik terhadap konsumerisme.

Masalahnya bukan hanya bahwa kita membeli terlalu banyak.

Masalahnya adalah kita mungkin telah membangun sebuah kebudayaan yang membuat rasa cukup semakin sulit dicapai.

Jackson menyebut paradoksnya dengan tajam: keberhasilan ekonomi berbasis pertumbuhan justru dapat bergantung pada kemampuannya untuk terus mengecewakan kita. Jika konsumen benar-benar merasa cukup dan berhenti menginginkan hal baru, mesin pertumbuhan akan kehilangan salah satu bahan bakarnya.

Ekonomi pertumbuhan membutuhkan manusia yang belum selesai menginginkan.

Dari Keinginan ke Kecemasan

Pada titik tertentu, keinginan tidak lagi terasa menyenangkan.

Ia berubah menjadi kecemasan.

Kita mulai bertanya:

Apakah saya cukup sukses?

Apakah rumah saya cukup bagus?

Apakah penghasilan saya cukup tinggi?

Apakah kehidupan saya terlihat berhasil di mata orang lain?

Apakah anak-anak saya memiliki apa yang dimiliki anak-anak lain?

Konsumsi kemudian tidak lagi hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan.

Ia digunakan untuk menghindari rasa tertinggal.

Jackson menghubungkan dinamika ini dengan gagasan Adam Smith tentang kebutuhan material dan rasa malu sosial. Yang dahulu diperlukan untuk mempertahankan martabat sosial dapat berkembang tanpa batas ketika standar kehidupan terus bergerak naik. Dalam ekonomi konsumen modern, kecemasan tersebut dapat menjadi bahan bakar pemasaran.

Kita tidak selalu membeli karena membutuhkan sesuatu.

Kadang kita membeli karena takut menjadi seseorang yang tidak memiliki sesuatu.

Perbedaannya sangat besar.

“Lebih Banyak” sebagai Penjara yang Tidak Terlihat

Ada paradoks lain.

Kita mengira kebebasan berarti memiliki lebih banyak pilihan.

Namun semakin banyak yang kita inginkan, semakin besar pula ketergantungan kita pada sistem yang memungkinkan keinginan tersebut dipenuhi.

Kita membutuhkan pekerjaan untuk membeli.

Kita membutuhkan pendapatan untuk mempertahankan gaya hidup.

Kita mempertahankan gaya hidup karena standar sosial telah berubah.

Standar itu kemudian menciptakan kebutuhan baru.

Akhirnya kita bekerja semakin keras bukan untuk hidup, tetapi untuk mempertahankan kehidupan yang semakin mahal.

Jackson menyebut konsumsi semacam ini sebagai sebuah “iron cage” keinginan tanpa akhir. Dalam kerangka ini, janji tentang kehidupan yang semakin baik justru dapat membuat manusia terperangkap dalam siklus produksi, konsumsi, dan ketidakpuasan.

Yang menarik, Jackson tidak berhenti pada kritik terhadap konsumen.

Ia melihat persoalan yang lebih struktural.

Lembaga keuangan, aturan hukum, sistem pajak, dan mekanisme akuntansi telah dibentuk sedemikian rupa sehingga pertumbuhan menjadi kebutuhan sistemik. Bahkan ketika individu ingin berhenti berlari, keseluruhan sistem masih mendorongnya untuk terus bergerak.

Kita Salah Mendefinisikan Kemakmuran

Di sinilah gagasan Jackson menjadi lebih menarik.

Ia tidak sekadar mengatakan bahwa kita harus mengonsumsi lebih sedikit.

Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:

Bagaimana jika kita salah memahami arti kemakmuran sejak awal?

Selama ini kemakmuran sering dibayangkan sebagai akumulasi.

Lebih banyak uang.

Lebih banyak barang.

Lebih banyak produksi.

Lebih banyak pertumbuhan.

Namun kehidupan biologis bekerja dengan logika yang berbeda.

Tubuh yang sehat tidak terus tumbuh tanpa batas.

Ia mencari keseimbangan.

Ketika sesuatu kurang, tubuh menambah. Ketika sesuatu berlebihan, tubuh mengurangi. Kesehatan tidak berarti pertumbuhan tanpa akhir, tetapi kemampuan mempertahankan keseimbangan yang hidup.

Jackson menggunakan gagasan ini untuk mengusulkan pergeseran dari wealth sebagai akumulasi menuju prosperity sebagai health—kemakmuran sebagai kesehatan manusia, masyarakat, dan planet.

Ini bukan gagasan baru dalam pemikiran Jackson. Dalam Prosperity without Growth, ia telah mengembangkan argumen bahwa masyarakat perlu menemukan cara untuk berkembang dalam batas ekologis, tanpa menjadikan pertumbuhan ekonomi eksponensial sebagai tujuan utama. Edisi keduanya secara khusus membahas redefinisi kemakmuran, dilema pertumbuhan, konsumerisme, dan kemungkinan ekonomi pascapertumbuhan.

Dari Ekonomi Pertumbuhan ke Ekonomi Kepedulian

Jika kemakmuran bukan lagi tentang memiliki sebanyak mungkin, lalu apa yang sebenarnya kita cari?

Mungkin jawabannya lebih sederhana daripada yang kita bayangkan.

Kesehatan.

Hubungan.

Waktu.

Rasa memiliki.

Makna.

Perawatan.

Lingkungan yang memungkinkan manusia dan makhluk hidup lain berkembang.

Jackson karena itu mengusulkan care bukan sekadar sebagai salah satu sektor ekonomi, tetapi sebagai prinsip pengorganisasian kehidupan ekonomi. Ekonomi yang sehat seharusnya memiliki kemampuan untuk memperlambat, mengoreksi kelebihan, dan mengembalikan sistem kepada keseimbangan—seperti mekanisme pemulihan dalam organisme hidup.

Gagasan ini berlanjut dalam Post Growth, ketika Jackson mengajak pembaca membayangkan masyarakat yang menempatkan relasi dan makna di atas profit dan kekuasaan.

Perubahan yang dibayangkan bukan sekadar perubahan kebijakan.

Ia adalah perubahan imajinasi.

Kita harus belajar membayangkan kehidupan yang baik tanpa selalu menambahkan kata lebih di depannya.

Mungkin Masalah Kita Bukan Kekurangan, Melainkan Ketidakmampuan Merasa Cukup

Di titik ini, kritik ekonomi Jackson bertemu dengan pertanyaan filosofis yang jauh lebih tua.

Apa sebenarnya yang membuat manusia merasa sejahtera?

Pertanyaan ini pernah muncul dalam berbagai tradisi pemikiran, dari Aristoteles hingga pemikiran Buddhis, dari Stoisisme hingga tasawuf.

Dalam bentuk yang berbeda-beda, semuanya menyentuh satu persoalan: kehidupan yang baik tidak identik dengan penumpukan benda.

Manusia dapat memiliki banyak hal dan tetap merasa miskin.

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki sedikit dan merasakan kehidupan yang penuh.

Tentu saja, ini bukan argumen romantis bahwa kemiskinan adalah kebahagiaan. Kebutuhan material tetap nyata. Kelaparan harus diatasi. Perumahan harus tersedia. Kesehatan, pendidikan, keamanan, dan pekerjaan yang layak bukan kemewahan.

Justru karena itu, konsep cukup harus dibedakan dari kekurangan.

Cukup bukan berarti tidak memiliki.

Cukup berarti memiliki tanpa harus terus-menerus memperbesar kebutuhan.

Pertumbuhan yang Tidak Tahu Kapan Berhenti

Masalah terbesar dari sebuah sistem yang hanya mengenal akselerasi adalah ia kehilangan kemampuan untuk mengerem.

Jackson menggunakan gagasan keseimbangan sebagai tandingan terhadap logika pertumbuhan tanpa batas. Ketika ada kekurangan, pertumbuhan mungkin memang dibutuhkan. Tetapi ketika sudah terjadi kelebihan, kemampuan menahan diri menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memperluas.

Dalam kehidupan manusia, kita memahami ini secara intuitif.

Kita tahu bahwa makan lebih banyak tidak selalu membuat tubuh lebih sehat.

Kita tahu bahwa bekerja lebih lama tidak selalu membuat hidup lebih bermakna.

Kita tahu bahwa memiliki lebih banyak barang tidak otomatis membuat rumah terasa lebih hangat.

Mengapa kita kemudian memperlakukan ekonomi seolah-olah hukum kehidupan berbeda?

Mungkin karena kita telah mengubah pertumbuhan dari alat menjadi tujuan.

Dan ketika sebuah alat menjadi tujuan, kita akhirnya melayani sesuatu yang seharusnya melayani kita.

Kebahagiaan Setelah Kita Berhenti Berlari

Mungkin karena itu persoalan ekonomi pada akhirnya bukan hanya persoalan angka.

Ia adalah persoalan tentang gambaran manusia seperti apa yang kita bangun melalui sistem ekonomi kita.

Jika manusia dipandang sebagai konsumen tanpa akhir, maka ketidakpuasan menjadi bahan bakar.

Jika manusia dipandang sebagai makhluk yang membutuhkan relasi, makna, kesehatan, dan rasa memiliki, maka ukuran kemakmuran harus berubah.

Di sinilah kritik terhadap pertumbuhan menjadi kritik terhadap sebuah cerita.

Cerita bahwa hidup akan selalu lebih baik jika kita memiliki lebih banyak.

Cerita bahwa inovasi selalu berarti kemajuan.

Cerita bahwa pertumbuhan selalu berarti kesejahteraan.

Cerita bahwa keinginan yang terus berkembang adalah tanda keberhasilan.

Padahal mungkin kehidupan yang baik tidak selalu bergerak ke arah lebih banyak.

Kadang ia bergerak ke arah lebih dalam.

Lebih banyak waktu untuk orang yang kita cintai.

Lebih banyak perhatian terhadap tubuh.

Lebih banyak ruang untuk keheningan.

Lebih banyak kepedulian terhadap alam.

Lebih banyak makna dalam pekerjaan.

Namun semua itu memiliki satu ciri yang aneh bagi ekonomi pertumbuhan:

tidak semuanya dapat diukur dengan GDP.

Bagaimana Jika “Cukup” Adalah Bentuk Kemajuan?

Barangkali salah satu pertanyaan terbesar abad ini bukan:

“Bagaimana kita membuat ekonomi tumbuh lebih cepat?”

Melainkan:

“Untuk apa ekonomi itu tumbuh?”

Jika pertumbuhan menghancurkan kesehatan manusia, merusak ekosistem, memperbesar kecemasan, dan memaksa masyarakat terus mengejar sesuatu yang tidak pernah cukup, maka kita perlu berani membedakan antara pertumbuhan dan kemajuan.

Tim Jackson menawarkan sebuah pembalikan perspektif: kemakmuran tidak harus berarti akumulasi tanpa akhir. Ia dapat berarti kesehatan—kesehatan manusia, masyarakat, dan planet. Ekonomi yang baik bukan yang terus bergerak semakin cepat, melainkan yang tahu kapan harus tumbuh, kapan harus berhenti, dan bagaimana merawat kehidupan yang menopangnya.

Mungkin kemajuan bukan ketika manusia mampu memiliki semakin banyak.

Mungkin kemajuan dimulai ketika manusia akhirnya tahu berapa yang cukup.

Dan mungkin pertanyaan paling radikal dalam ekonomi bukanlah:

“Berapa banyak yang masih bisa kita miliki?”

melainkan:

“Berapa banyak yang sebenarnya kita perlukan untuk hidup dengan baik?”

“Sebuah ekonomi menjadi sakit ketika pertumbuhan tidak lagi menjadi sarana bagi kehidupan, tetapi kehidupan dipaksa menjadi sarana bagi pertumbuhan.”

B I B L I O

Jackson, Tim. Prosperity without Growth: Foundations for the Economy of Tomorrow. 2nd ed. London: Routledge, 2017.

Jackson, Tim. Post Growth: Life after Capitalism. Cambridge: Polity Press, 2021.

Smith, Adam. The Theory of Moral Sentiments. 1759.

Schumpeter, Joseph A. Capitalism, Socialism and Democracy. New York: Harper & Brothers, 1942.

Daly, Herman E. Beyond Growth: The Economics of Sustainable Development. Boston: Beacon Press, 1996.