Ketika Manusia Tidak Lagi Harus Bekerja untuk Bertahan Hidup
Bayangkan suatu hari ketika manusia tidak lagi harus bekerja hanya agar dapat makan, membayar tempat tinggal, dan mempertahankan hidupnya.
Pertanyaannya mungkin terdengar seperti sebuah utopia. Tetapi justru di situlah persoalan yang lebih sulit dimulai.
Selama ribuan tahun, sebagian besar kehidupan manusia dibentuk oleh kebutuhan untuk bertahan hidup. Kita bekerja karena tanpa kerja, kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Karena itu, ketika teknologi semakin mampu melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia, pertanyaan yang muncul biasanya sederhana: apakah AI akan mengambil pekerjaan kita?
Namun pertanyaan itu mungkin terlalu sempit.
Jika suatu hari teknologi benar-benar mampu menghasilkan sebagian besar kebutuhan material manusia dengan jauh lebih sedikit tenaga kerja, persoalannya bukan lagi semata-mata bagaimana manusia memperoleh pekerjaan. Persoalannya berubah menjadi sesuatu yang lebih mendasar:
Apa yang akan dilakukan manusia dengan hidupnya ketika pekerjaan tidak lagi menjadi syarat utama untuk bertahan hidup?
Di sinilah gagasan tentang post-work society menjadi menarik. Sebab masyarakat pascakerja, jika benar-benar mungkin, tidak otomatis berarti masyarakat yang telah menyelesaikan persoalan manusia. Bisa jadi kita justru sedang bergerak menuju pertanyaan yang lebih dalam: bukan masyarakat setelah kerja, melainkan masyarakat setelah kebutuhan untuk bekerja demi kelangsungan hidup.
Dan perbedaan itu sangat besar.
Dunia dengan Lebih Sedikit Kerja
Pada 1930, John Maynard Keynes menulis Economic Possibilities for our Grandchildren ketika dunia sedang menghadapi krisis ekonomi. Ia membayangkan kemungkinan bahwa kemajuan teknologi dan produktivitas pada akhirnya akan membuat persoalan ekonomi dasar semakin ringan. Keynes memperkirakan bahwa kebutuhan manusia untuk bekerja dapat berkurang secara drastis ketika kemampuan produksi meningkat.
Yang menarik dari Keynes bukan bahwa ia meramalkan AI. Ia tentu tidak melakukannya.
Yang penting adalah cara ia melihat hubungan antara kemajuan ekonomi dan waktu manusia.
Kemajuan teknologi pada dasarnya menjanjikan sesuatu yang sangat sederhana yakni kemampuan menghasilkan lebih banyak dengan lebih sedikit tenaga.
Jika satu orang dengan bantuan teknologi dapat melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan sepuluh orang, secara teoritis masyarakat memperoleh pilihan. Kita dapat menghasilkan jumlah barang yang sama dengan lebih sedikit kerja, atau menghasilkan lebih banyak dengan jumlah kerja yang sama.
Tetapi pilihan teknis tidak otomatis menjadi pilihan sosial.
Produktivitas yang meningkat tidak dengan sendirinya berubah menjadi waktu luang. Ia dapat berubah menjadi keuntungan perusahaan, peningkatan konsumsi, ekspansi produksi, atau konsentrasi kekayaan.
Dengan kata lain, teknologi menciptakan kemungkinan; masyarakat menentukan bagaimana kemungkinan itu dibagikan.
Di sinilah persoalan AI menjadi lebih serius.
AI mungkin dapat meningkatkan produktivitas secara besar-besaran. Tetapi jika peningkatan produktivitas hanya berarti semakin sedikit manusia dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan sementara kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan tetap melekat pada manusia, kita tidak sedang memasuki masyarakat pascakerja.
Kita hanya memasuki masyarakat dengan pekerjaan yang semakin sedikit dan kompetisi yang semakin keras untuk mendapatkannya.
Manusia Lebih Besar daripada Sekadar Bekerja
Hannah Arendt membantu kita melihat lapisan lain dari persoalan ini.
Dalam The Human Condition, Arendt membedakan tiga bentuk aktivitas dalam vita activa: labor, work, dan action. Labor berkaitan dengan aktivitas yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan; work berkaitan dengan penciptaan dunia benda yang dihuni manusia; sedangkan action berkaitan dengan kehidupan bersama, pluralitas, dan kebebasan manusia.
Perbedaan ini penting karena bahasa modern sering mencampurkan semuanya ke dalam satu kata: kerja.
Padahal, jika seseorang tidak lagi harus bekerja demi memenuhi kebutuhan biologisnya, bukan berarti seluruh aktivitas manusia menghilang.
Justru mungkin sebaliknya.
Ketika tekanan untuk mempertahankan hidup berkurang, ruang bagi bentuk-bentuk kehidupan lain dapat terbuka.
Manusia dapat mencipta. Belajar. Merawat. Berpikir. Membentuk komunitas. Berpolitik. Mengembangkan ilmu. Membuat seni. Mengasuh anak. Menolong orang lain. Membangun sesuatu yang tidak langsung menghasilkan uang.
Dengan demikian, pertanyaan tentang masa depan kerja tidak berhenti pada:
“Apa pekerjaan yang tersisa?”
Ia bergerak menuju:
“Kehidupan seperti apa yang ingin kita bangun?”
Ini adalah perubahan yang sangat mendasar.
Selama kerja dipahami terutama sebagai alat untuk memperoleh pendapatan, kehilangan pekerjaan berarti kehilangan keamanan hidup. Tetapi jika kebutuhan dasar dapat dipenuhi tanpa keterikatan penuh pada pekerjaan, hubungan antara manusia dan kerja dapat berubah.
Kerja tidak lagi menjadi satu-satunya pintu menuju martabat.
Dan mungkin di sinilah tantangan terbesar masyarakat masa depan.
Sebab masyarakat modern telah begitu lama menghubungkan pekerjaan dengan identitas, status, penghasilan, disiplin, bahkan harga diri sehingga kita mungkin tidak benar-benar siap menghadapi dunia di mana kerja tidak lagi menjadi pusat kehidupan.
Paradoks Pekerjaan yang Tidak Perlu
David Graeber membawa kita kepada paradoks lain.
Jika kemajuan teknologi seharusnya membuat manusia semakin produktif dan membebaskan waktu, mengapa masyarakat modern justru menghasilkan begitu banyak pekerjaan yang dirasakan tidak bermakna?
Dalam Bullshit Jobs, Graeber mengangkat fenomena pekerjaan yang bahkan oleh orang yang mengerjakannya sendiri dianggap tidak perlu atau tidak memberikan kontribusi berarti. Ia mempertanyakan mengapa pekerjaan semacam itu dapat terus bertahan dalam sistem ekonomi modern.
Paradoksnya sangat tajam.
Kita sering mengatakan bahwa manusia harus bekerja karena masyarakat membutuhkan pekerjaan agar segala sesuatu berjalan.
Tetapi bagaimana jika sebagian pekerjaan justru tidak diperlukan agar masyarakat berjalan?
Pertanyaan ini mengganggu asumsi yang sangat dalam: bahwa pekerjaan yang dibayar selalu identik dengan nilai sosial.
Padahal keduanya berbeda.
Seorang perawat dapat melakukan pekerjaan yang sangat penting bagi kehidupan manusia tetapi menerima kompensasi yang tidak sebanding dengan nilainya. Sebaliknya, seseorang dapat memperoleh penghasilan besar dari aktivitas yang kontribusi sosialnya jauh lebih sulit dipertanggungjawabkan.
Artinya, pasar tidak selalu mengukur apa yang paling bernilai bagi kehidupan manusia.
Karena itu, jika AI kemudian menggantikan sebagian pekerjaan, kita tidak seharusnya hanya bertanya berapa banyak pekerjaan yang hilang.
Kita juga perlu bertanya:
Pekerjaan apa yang sebenarnya ingin kita pertahankan?
Dan lebih jauh:
Nilai apa yang selama ini kita ukur melalui pekerjaan?
AI Membuat Pertanyaan Lama Menjadi Konkret
Di sinilah AI memberikan dimensi baru.
Perdebatan mengenai otomatisasi bukan sesuatu yang baru. Mesin telah menggantikan banyak jenis pekerjaan manusia selama berabad-abad. Namun AI berbeda dalam satu hal penting: ia semakin mampu menangani tugas-tugas yang sebelumnya dianggap membutuhkan kemampuan kognitif manusia.
Analisis IMF memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di dunia terekspos terhadap AI. Di negara maju, angkanya sekitar 60 persen. Tetapi “terekspos” tidak berarti semuanya akan hilang. Sebagian pekerjaan dapat menjadi lebih produktif karena AI melengkapi kemampuan manusia, sementara sebagian lainnya menghadapi risiko berkurangnya permintaan tenaga kerja.
World Economic Forum juga melihat AI sebagai salah satu kekuatan utama yang sedang mengubah struktur pekerjaan global, bersama perubahan teknologi, ekonomi, demografi, dan faktor sosial lainnya.
Karena itu, narasi “AI akan mengambil semua pekerjaan” terlalu sederhana.
Persoalannya bukan sekadar penggantian manusia oleh mesin.
AI dapat mengubah tugas, mengubah struktur organisasi, mengurangi kebutuhan terhadap jenis keahlian tertentu, sekaligus menciptakan jenis pekerjaan baru.
Tetapi perubahan tersebut membawa kita kembali kepada pertanyaan yang lebih tua.
Jika produktivitas meningkat, siapa yang mendapatkan manfaatnya?
Jika pekerjaan manusia berkurang, siapa yang memperoleh keamanan hidup?
Jika perusahaan dapat menghasilkan lebih banyak dengan lebih sedikit pekerja, apakah keuntungan tersebut berubah menjadi waktu luang bagi masyarakat—atau justru menjadi konsentrasi kekayaan yang lebih besar?
Teknologi tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Institusi sosial dan politiklah yang menjawabnya.
Masyarakat Pascakerja Belum Tentu Masyarakat yang Bebas
Di sinilah kita perlu berhati-hati dengan istilah post-work society.
Masyarakat pascakerja terdengar seperti masyarakat yang telah terbebas dari pekerjaan.
Tetapi ada perbedaan antara bebas dari pekerjaan dan bebas karena kebutuhan untuk bekerja telah hilang.
Yang pertama dapat berarti pengangguran massal.
Yang kedua dapat berarti kebebasan.
Keduanya mungkin terlihat sama dari jauh: manusia bekerja lebih sedikit.
Tetapi pengalaman manusia di dalamnya sangat berbeda.
Jika seseorang tidak bekerja karena tidak ada pekerjaan, ia mungkin kehilangan pendapatan, status sosial, dan rasa aman.
Jika seseorang tidak harus bekerja karena kebutuhan hidupnya telah terjamin, berkurangnya pekerjaan justru dapat membuka ruang kehidupan yang sebelumnya tidak tersedia.
Karena itu, pertanyaan sesungguhnya bukan:
“Apakah AI akan menghilangkan pekerjaan?”
Melainkan:
“Apakah masyarakat mampu mengubah produktivitas teknologi menjadi kebebasan manusia?”
Inilah titik di mana persoalan ekonomi berubah menjadi persoalan politik dan filosofis.
Dari Kelangkaan Menuju Kebebasan
Selama manusia hidup dalam kondisi kelangkaan, sebagian besar energi masyarakat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan.
Kita bekerja untuk makan.
Kita bekerja untuk memiliki rumah.
Kita bekerja untuk membayar pendidikan.
Kita bekerja agar dapat terus bekerja.
Sistem ini begitu akrab sehingga kita sering lupa bahwa ia bukan satu-satunya kemungkinan yang dapat dibayangkan.
Kemajuan produktivitas membuka kemungkinan lain.
Jika semakin sedikit waktu manusia diperlukan untuk memenuhi kebutuhan material, sebagian waktu yang sebelumnya diserap oleh kebutuhan ekonomi dapat dikembalikan kepada manusia.
Namun waktu luang tidak otomatis menjadi kebebasan.
Seseorang dapat memiliki waktu tetapi tidak tahu untuk apa menggunakannya.
Ia dapat terbebas dari pekerjaan tetapi tetap terperangkap dalam konsumsi, hiburan, kecemasan, atau kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan.
Karena itu, masyarakat pascakerja bukan hanya membutuhkan teknologi baru.
Ia membutuhkan gagasan baru tentang kehidupan yang baik.
Dan mungkin inilah persoalan yang paling sering hilang dalam perdebatan tentang AI.
Kita terlalu sibuk bertanya apa yang akan dilakukan mesin sehingga lupa bertanya apa yang ingin dilakukan manusia.
Pertanyaan Terbesar Mungkin Bukan tentang Pekerjaan
Keynes memberi kita bayangan tentang kemungkinan berkurangnya kebutuhan kerja.
Arendt mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak dapat direduksi menjadi aktivitas mempertahankan hidup.
Graeber menunjukkan bahwa pekerjaan yang dibayar tidak selalu identik dengan nilai sosial.
Dan AI membuat semua pertanyaan itu semakin konkret.
Jika semuanya dipertemukan, kita mendapatkan persoalan yang jauh lebih besar daripada sekadar masa depan pekerjaan.
Kita sedang berhadapan dengan kemungkinan perubahan dalam hubungan antara produksi dan kehidupan.
Selama ini, manusia membangun sistem ekonomi dengan asumsi bahwa manusia harus bekerja untuk memperoleh hak atas kehidupan.
Tetapi bagaimana jika teknologi perlahan mengikis kebutuhan ekonomi tersebut?
Apakah kita akan tetap mempertahankan masyarakat yang mendistribusikan hak hidup terutama melalui pekerjaan?
Atau kita akan mulai memikirkan kembali hubungan antara produktivitas, kepemilikan, pendapatan, waktu, dan martabat manusia?
Di sinilah masa depan AI menjadi sekaligus persoalan ekonomi dan persoalan peradaban.
Sebab teknologi mungkin suatu hari dapat membuat manusia bekerja jauh lebih sedikit.
Tetapi teknologi tidak dapat menentukan apakah kebebasan yang muncul dari berkurangnya kerja akan digunakan untuk hidup lebih manusiawi.
Itu adalah keputusan kita.
Jika Kita Tidak Lagi Harus Bekerja, Lalu Apa?
Mungkin karena itulah istilah post-survival society lebih radikal daripada post-work society.
Masyarakat pascakerja masih memusatkan perhatian pada kerja.
Masyarakat pascakelangsungan hidup memaksa kita melihat sesuatu yang berada di balik kerja: kebutuhan manusia untuk mempertahankan keberadaan materialnya.
Jika kebutuhan itu semakin dapat dipenuhi melalui teknologi, maka pertanyaan tentang pekerjaan perlahan kehilangan kedudukannya sebagai pertanyaan utama.
Yang muncul menggantikannya adalah pertanyaan yang jauh lebih tua dan jauh lebih sulit:
Untuk apa manusia hidup?
Kita mungkin dapat membuat mesin yang bekerja tanpa lelah.
Kita mungkin dapat membuat AI yang menulis, menghitung, menganalisis, merancang, bahkan mengambil keputusan dalam semakin banyak bidang.
Tetapi tidak ada peningkatan produktivitas yang secara otomatis memberi manusia tujuan.
Tidak ada algoritma yang dapat memutuskan apa yang layak dicintai.
Tidak ada mesin yang dapat menentukan kehidupan seperti apa yang pantas dijalani.
Karena itu, paradoks terbesar masa depan mungkin justru seperti ini:
semakin banyak pekerjaan yang dapat dilakukan mesin, semakin penting bagi manusia untuk memahami apa yang tidak seharusnya diserahkan kepada pekerjaan.
Bukan karena manusia harus mempertahankan pekerjaan demi pekerjaan itu sendiri.
Melainkan karena ketika kebutuhan untuk bekerja demi bertahan hidup mulai berkurang, kita akhirnya dipaksa menghadapi kehidupan tanpa alasan lama yang selama ini mengaturnya.
Dan mungkin itulah tantangan sebenarnya dari dunia pascakerja.
Bukan bagaimana manusia akan mengisi waktu yang tersisa.
Tetapi apakah manusia telah belajar menggunakan kebebasan.
B I B L I O
Arendt, Hannah. The Human Condition. Chicago: University of Chicago Press, 1958.
Graeber, David. Bullshit Jobs: A Theory. New York: Simon & Schuster, 2018.
International Monetary Fund. “AI Will Transform the Global Economy. Let’s Make Sure It Benefits Humanity.” January 14, 2024.
Keynes, John Maynard. “Economic Possibilities for Our Grandchildren.” 1930. Essays in Persuasion. Cambridge: Cambridge University Press.
World Economic Forum. The Future of Jobs Report 2025. Geneva: World Economic Forum, 2025.







Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!