Kehendak Bebas Itu Nyata: Ketika Sains Harus Mengakui Agensi Manusia
Ada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi dapat mengguncang seluruh cara kita memahami manusia: apakah kita sungguh memilih, atau hanya merasa sedang memilih?
Jika setiap peristiwa di alam semesta sepenuhnya merupakan akibat dari kondisi sebelumnya, maka keputusan manusia tampaknya tidak lebih dari mata rantai panjang sebab-akibat. Kita memilih pekerjaan, pasangan, keyakinan, atau tindakan tertentu karena keadaan biologis, pengalaman masa lalu, lingkungan, dan hukum fisika yang bekerja di dalam diri kita.
Dalam gambaran seperti itu, kehendak bebas mudah dianggap sebagai ilusi yang nyaman.
Namun, kosmolog George Ellis mengajak kita berhenti sejenak sebelum menerima kesimpulan tersebut. Dalam pembahasannya di Institute of Art and Ideas (IAI), Ellis mempertahankan gagasan bahwa free will atau kehendak bebas adalah sesuatu yang nyata, dan bahwa sains tidak semestinya menyingkirkan agensi manusia hanya karena alam dapat dijelaskan melalui hukum-hukum fisika.
Apakah Manusia Hanya Produk Hukum Fisika?
Masalahnya berawal dari cara kita membayangkan hubungan antara sebab dan akibat.
Dalam fisika klasik, kita cenderung membayangkan dunia sebagai rangkaian peristiwa yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan. Kondisi sebelumnya menghasilkan kondisi berikutnya. Jika seluruh keadaan alam semesta pada suatu saat diketahui secara sempurna, tampaknya masa depan pun dapat dianggap telah ditentukan.
Pandangan semacam ini menjadi salah satu sumber intuisi deterministik: manusia dianggap tidak benar-benar memilih karena keputusan mereka pada akhirnya dapat ditelusuri kembali kepada kondisi yang mendahuluinya.
Tetapi kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar lintasan benda-benda fisik sederhana.
Sebuah otak bukan hanya kumpulan partikel. Ia merupakan sistem kompleks yang memiliki organisasi, informasi, tujuan, kemampuan belajar, dan kemampuan merespons lingkungan. Pada tingkat tertentu, pola yang muncul dari sistem tersebut memiliki daya kausal yang tidak mudah direduksi menjadi deskripsi setiap partikelnya.
Di sinilah Ellis menempatkan persoalan kehendak bebas.
Dari Partikel Menuju Manusia: Masalah Kausalitas
Bayangkan sebuah kota.
Kota itu tersusun dari gedung, jalan, kendaraan, kabel, dan jutaan benda fisik lainnya. Namun kita tidak akan memahami bagaimana sebuah kota bekerja hanya dengan mempelajari satu batu bata.
Ada tingkat organisasi yang lebih tinggi.
Demikian pula manusia. Molekul membentuk sel, sel membentuk jaringan, jaringan membentuk organ, dan organ membentuk sistem biologis yang sangat kompleks. Pada tingkat yang lebih tinggi muncul kemampuan seperti persepsi, pengambilan keputusan, bahasa, perencanaan, dan tindakan yang diarahkan pada tujuan.
Karena itu, hubungan sebab-akibat tidak selalu harus dibayangkan hanya bergerak dari bawah ke atas. Dalam sistem kompleks, organisasi tingkat tinggi juga dapat memengaruhi bagaimana bagian-bagian di bawahnya berperilaku.
Dengan kata lain, kausalitas dapat bekerja secara dua arah: dari bagian menuju keseluruhan, tetapi juga dari keseluruhan menuju bagian.
Inilah salah satu gagasan penting yang membuat argumen Ellis menarik. Kehendak manusia tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar alam. Justru sebaliknya, kehendak dapat dipahami sebagai kemampuan yang muncul dari organisasi alam yang sangat kompleks.
Alam Semesta Tidak Brisi iPhone Sejak Awal
Ada eksperimen pemikiran sederhana yang membantu menjelaskan persoalan ini.
Pada kondisi awal alam semesta tidak terdapat iPhone. Tidak ada Boeing 747. Tidak ada perpustakaan, universitas, kota, atau karya seni.
Namun miliaran tahun kemudian, benda-benda tersebut benar-benar ada.
Tentu saja, semua itu tetap tersusun dari materi yang mengikuti hukum-hukum fisika. Tetapi hukum fisika saja tidak memberi kita gambaran lengkap tentang bentuk spesifik yang akhirnya muncul melalui sejarah kehidupan dan kebudayaan manusia.
Sebuah pesawat terbang bukan sekadar kumpulan atom.
Ia merupakan hasil dari pengetahuan, tujuan, desain, keputusan, kerja sama, dan tindakan manusia. Atom-atom tersebut memang diperlukan. Tetapi penjelasan tentang atom saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa Boeing 747 itu ada.
Di sinilah konsep agency menjadi penting.
Manusia bukan sekadar sesuatu yang terjadi di alam. Manusia juga merupakan makhluk yang melakukan sesuatu terhadap alam.
Agensi Manusia Bukan Berarti Melanggar Hukum Alam
Namun ada kesalahpahaman yang perlu dihindari.
Mengatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas tidak harus berarti mengatakan bahwa manusia adalah makhluk gaib yang dapat keluar dari hukum fisika. Kehendak bebas tidak harus berarti kemampuan melakukan sesuatu tanpa sebab.
Justru persoalannya adalah: jenis sebab apa yang relevan ketika kita menjelaskan tindakan manusia?
Ketika seseorang memutuskan untuk belajar, misalnya, kita dapat menjelaskan proses itu melalui aktivitas neuron. Tetapi kita juga dapat menjelaskannya melalui alasan: ia ingin memahami sesuatu, memiliki tujuan tertentu, mempertimbangkan masa depan, lalu mengambil keputusan.
Kedua penjelasan tersebut tidak harus saling menghancurkan.
Penjelasan neurobiologis menjelaskan bagaimana keputusan itu diwujudkan secara fisik. Penjelasan pada tingkat manusia menjelaskan mengapa keputusan tersebut dibuat.
Dengan demikian, menjelaskan manusia secara ilmiah tidak harus berarti menghapus manusia sebagai agen.
Mengapa Kehendak Bebas Penting bagi Tanggung Jawab?
Persoalan ini bukan hanya permainan filsafat.
Jika manusia benar-benar tidak memiliki agensi, konsep seperti tanggung jawab, pilihan, niat, dan akuntabilitas ikut mengalami guncangan.
Mengapa seseorang harus bertanggung jawab atas tindakannya jika ia hanyalah hasil dari gen, lingkungan, masa lalu, dan hukum alam?
Sebaliknya, jika manusia memiliki kemampuan nyata untuk merespons alasan, mempertimbangkan kemungkinan, mengubah perilaku, dan mengarahkan tindakannya menuju tujuan, maka tanggung jawab memperoleh dasar yang berbeda.
Kita tidak lagi melihat manusia sebagai benda yang sekadar bergerak karena didorong dari belakang.
Kita melihat manusia sebagai agen yang mampu bertindak berdasarkan alasan.
Sains Tidak Harus Memilih antara Fisika dan Kebebasan
Di sinilah argumen Ellis memiliki konsekuensi filosofis yang lebih luas.
Sains berhasil luar biasa ketika menjelaskan dunia melalui hukum, mekanisme, dan pola yang dapat diuji. Tetapi keberhasilan itu tidak otomatis berarti bahwa semua realitas harus direduksi ke satu tingkat penjelasan yang sama.
Ellis sendiri telah lama menekankan bahwa kosmologi membawa persoalan filosofis yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah data atau persamaan. Pertanyaan tentang apa yang ada, bagaimana alam semesta dipahami, serta hubungan kosmologi dengan makna dan tujuan membawa kita ke wilayah yang bersinggungan dengan filsafat.
Karena itu, mempertahankan kehendak bebas bukan berarti menolak sains.
Sebaliknya, bisa jadi justru berarti meminta sains memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang sedang dijelaskannya.
Manusia Bukan Sekadar Penonton Alam Semesta
Ada sesuatu yang sangat menarik dalam persoalan ini.
Manusia bukan hanya mengamati alam semesta. Manusia juga mengubahnya.
Kita membangun bahasa, menciptakan teknologi, mendirikan institusi, membuat karya seni, mengembangkan teori ilmiah, dan mengambil keputusan yang kemudian mengubah kondisi dunia bagi generasi berikutnya.
Jika semua itu disebut sekadar “ilusi”, kita mungkin kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam pemahaman tentang manusia.
Sebab dunia yang kita tinggali bukan hanya dunia yang menyebabkan kita.
Dunia juga merupakan dunia yang kita ikut sebabkan.
Tindakan manusia menjadi bagian dari sejarah kausal alam semesta. Keputusan yang dibuat hari ini dapat menjadi kondisi awal bagi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.
Kehendak Bebas sebagai Kemampuan untuk Menciptakan Kemungkinan
Mungkin karena itu, kehendak bebas sebaiknya tidak dibayangkan sebagai kemampuan ajaib untuk memilih tanpa sebab.
Pengertian yang lebih masuk akal adalah kemampuan sebuah makhluk kompleks untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan, merespons alasan, membentuk tujuan, lalu mengarahkan tindakannya berdasarkan proses tersebut.
Kebebasan tidak berarti bebas dari seluruh kondisi.
Kebebasan berarti memiliki kapasitas untuk bertindak melalui kondisi yang ada, bukan sekadar ditentukan olehnya secara pasif.
Manusia tetap memiliki masa lalu. Ia tetap memiliki tubuh, gen, lingkungan, dan keterbatasan. Tetapi dari semua itu muncul kemampuan untuk berkata: yang sudah terjadi bukan berarti satu-satunya kemungkinan yang harus terjadi berikutnya.
Di situlah agensi menemukan tempatnya.
Pada Akhirnya, Sains Perlu Menjelaskan Manusia sebagai Pelaku
Perdebatan tentang kehendak bebas sering terjebak pada pilihan yang terlalu sederhana: determinisme atau kebebasan, hukum alam atau kehendak manusia, fisika atau metafisika.
Padahal realitas mungkin lebih kaya daripada dikotomi tersebut.
Manusia memang bagian dari alam. Namun menjadi bagian dari alam tidak berarti menjadi benda pasif di dalamnya. Kompleksitas kehidupan memungkinkan munculnya tingkat organisasi baru, dan pada tingkat tertentu muncul kemampuan untuk memahami, menilai, memilih, serta bertindak.
Karena itu, pertanyaan tentang kehendak bebas belum selesai hanya karena kita menemukan mekanisme fisik yang berkaitan dengan keputusan manusia.
Justru di sanalah pertanyaan yang lebih dalam dimulai.
Bagaimana alam yang tunduk pada hukum dapat melahirkan makhluk yang mampu bertindak berdasarkan alasan dan tujuan?
George Ellis mengajak kita melihat kemungkinan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut bukan dengan menyingkirkan kehendak bebas, melainkan dengan memperluas cara kita memahami kausalitas, kompleksitas, dan manusia.
Pada akhirnya, manusia bukan hanya bagian dari cerita alam semesta.
Manusia juga menjadi salah satu cara alam semesta menghasilkan sesuatu yang sebelumnya belum ada.



iStock Photo
iStock

Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!