Retorika Para Pemalas
Dalam masyarakat kita, sering muncul ungkapan-ungkapan yang terdengar bijak namun sesungguhnya meninabobokan. Kalimat seperti “Harta gk dibawa mati” atau “Uang bukan segalanya” kerap dijadikan alasan untuk tidak berusaha lebih keras. Retorika semacam ini, bila dibiarkan, dapat melanggengkan budaya pasrah dan menghambat kemajuan.
Ungkapan “Jangan terlalu mengejar dunia” misalnya, seolah mengingatkan agar tidak terjebak materialisme. Namun dalam praktik, ia sering dipakai untuk menjustifikasi kemalasan. Padahal, keseimbangan dunia dan akhirat justru menuntut kerja nyata, bukan sekadar pasrah. Begitu pula dengan kalimat “Tidak apa miskin juga yang penting bahagia”. Kebahagiaan memang penting, tetapi menjadikan kemiskinan sebagai pilihan tanpa usaha memperbaiki hidup berisiko menjerumuskan pada stagnasi.
Ada pula retorika yang mengandalkan takdir, seperti “Hidup dibawa santai aja, rejeki udah ada yang ngatur”. Keyakinan pada takdir tentu sah, tetapi jika dipahami secara sempit, ia bisa mematikan semangat berusaha. Demikian juga dengan “Gpp menderita di dunia, asal bahagia di akhirat”. Kalimat ini menekankan akhirat, tetapi mengabaikan tanggung jawab duniawi yang juga merupakan bagian dari ajaran agama.
Ungkapan lain seperti “Uang gk bisa membeli kebahagiaan” atau “Hidup mending seadanya aja” terdengar menenangkan, tetapi bisa berbahaya bila dijadikan tameng untuk tidak berkembang. Uang memang bukan segalanya, tetapi tanpa uang, kebutuhan dasar sulit terpenuhi. Kesederhanaan memang baik, tetapi jika dijadikan alasan untuk stagnan, potensi diri akan terbuang.
1. Harta Tidak Dibawa Mati
Sering dijadikan alasan untuk tidak menabung atau bekerja keras, padahal harta bisa dipakai membantu orang lain sebelum mati.
2. Jangan Terlalu Mengejar Dunia
Kalimat ini bisa meninabobokan, membuat orang berhenti berusaha, padahal keseimbangan dunia–akhirat justru butuh kerja nyata.
3. Tidak Apa Miskin, yang Penting Bahagia
Bahagia memang penting, tapi menjadikan kemiskinan sebagai pilihan tanpa usaha memperbaiki hidup bisa menjerumuskan pada pasrah berlebihan.
4. Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan
Benar, tapi uang bisa membeli kebutuhan dasar. Menolak mengejar uang sama sekali bisa berujung pada ketergantungan pada orang lain.
5. Hidup Serba Kekurangan, Tidak Apa. Nikmati dan Syukuri Saja
Syukur itu baik, tapi jika dijadikan tameng untuk tidak berusaha, akhirnya hanya melanggengkan kekurangan.
6. Hidup Dibawa santai aja, Rejeki Suda Ada yang Ngatur
Keyakinan pada takdir sering disalahartikan, membuat orang malas berusaha karena merasa semua sudah ditentukan.
7. Tidak Apa Menderita di Dunia, Asal Bahagia di Akhirat
Mengabaikan tanggung jawab duniawi bisa berbahaya, karena agama pun menekankan keseimbangan antara dunia dan akhirat.
8. Uang Bukan Segalanya
Benar, tapi tanpa uang hidup bisa sulit. Menolak pentingnya uang bisa jadi alasan untuk tidak bekerja keras.
9. Hidup Mending Seadanya Saja
Kesederhanaan baik, tapi jika dijadikan alasan untuk stagnan, maka hidup tidak berkembang dan potensi diri terbuang.






Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!