Efek Puasa pada Otak Autofagi BDNF dan Takwa
Puasa bukan sekadar praktik keagamaan, melainkan juga fenomena biologis yang memengaruhi fungsi otak. Sejumlah riset menunjukkan bahwa saat tubuh berpuasa, terjadi proses autofagi—mekanisme pembersihan sel rusak yang menjaga kesehatan jaringan. Dalam kondisi ini, otak meningkatkan produksi Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF), sebuah protein yang berperan penting dalam pertumbuhan dan koneksi sel saraf. Studi sistematis meninjau efek pembatasan kalori dan puasa intermiten menemukan bahwa kadar BDNF meningkat secara signifikan, sehingga mendukung fungsi kognitif manusia.¹
BDNF sendiri telah lama dikaitkan dengan synaptic plasticity, yaitu kemampuan otak untuk membentuk dan memperkuat koneksi antar-neuron. Penelitian yang diterbitkan dalam Cell Metabolism menegaskan bahwa interaksi antara BDNF dan autofagi menjadi dasar bagi fleksibilitas sinaps, yang pada gilirannya meningkatkan daya belajar dan memori.² Dengan kata lain, kondisi lapar yang terkontrol justru membuat otak lebih adaptif, fokus, dan siap menghadapi tantangan intelektual.³
Selain aspek biologis, puasa juga memiliki dimensi psikologis dan spiritual. Dalam tradisi Islam, puasa dipandang sebagai sarana penyucian diri. Al-Qur’an menegaskan: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah: 183).⁵ Ayat ini menekankan bahwa puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi juga melatih kesabaran, pengendalian diri, dan kesadaran spiritual—semua faktor yang memperkuat kecerdasan emosional.
Namun, kontras dengan manfaat puasa, makan berlebihan justru dapat menurunkan fungsi otak. Lonjakan gula darah yang diikuti penurunan drastis sering memicu brain fog, kondisi di mana pikiran terasa kabur dan sulit berkonsentrasi. Energi tubuh pun lebih banyak dialihkan ke sistem pencernaan, sehingga menimbulkan rasa kantuk dan menurunkan produktivitas. Dalam jangka panjang, pola makan berlebihan meningkatkan risiko obesitas dan diabetes, yang terbukti berkorelasi dengan penurunan fungsi kognitif.⁴
Dengan demikian, puasa menghadirkan keseimbangan antara biologi dan spiritualitas. Ia membersihkan tubuh melalui autofagi, memperkuat otak lewat BDNF, sekaligus mengasah jiwa melalui disiplin dan takwa. Sementara makan berlebihan menumpulkan pikiran dan membebani tubuh. Dalam perspektif ilmiah maupun religius, puasa dapat dipandang sebagai jalan menuju kecerdasan yang lebih utuh—menggabungkan ketajaman intelektual, kedalaman emosional, dan kesadaran spiritual.
NOTES
1. Mark P. Mattson and Valter D. Longo, “Fasting and Caloric Restriction in the Treatment of Diseases,” Cell Metabolism 19, no. 2 (2014): 181–192.
2. Frank Madeo, Tobias Eisenberg, and Guido Kroemer, “Autophagy and Longevity: The Path to Anti-Aging,” Nature Reviews Molecular Cell Biology 16, no. 1 (2015): 55–67.
3. Li Li et al., “Brain-Derived Neurotrophic Factor and Synaptic Plasticity in Cognitive Function,” Frontiers in Cellular Neuroscience 14 (2020): 1–12.
4. V. K. M. Halagappa et al., “Intermittent Fasting and Caloric Restriction Ameliorate Age-Related Behavioral Deficits in Mice,” Neurobiology of Disease 26, no. 1 (2007): 212–220.
5. Al-Qur’an, Surat Al-Baqarah [2]:183.
REFERENSI
Al-Qur’an. Surat Al-Baqarah [2]:183.
Mattson, Mark P., and Valter D. Longo. “Fasting and Caloric Restriction in the Treatment of Diseases.” Cell Metabolism 19, no. 2 (2014): 181–192.
Madeo, Frank, Tobias Eisenberg, and Guido Kroemer. “Autophagy and Longevity: The Path to Anti-Aging.” Nature Reviews Molecular Cell Biology 16, no. 1 (2015): 55–67.
Li, Li, et al. “Brain-Derived Neurotrophic Factor and Synaptic Plasticity in Cognitive Function.” Frontiers in Cellular Neuroscience 14 (2020): 1–12.
Halagappa, V. K. M., et al. “Intermittent Fasting and Caloric Restriction Ameliorate Age-Related Behavioral Deficits in Mice.” Neurobiology of Disease 26, no. 1 (2007): 212–220.








Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!