Tag Archive for: Kesadaran

Mengapa Materialisme Belum Mampu Menjelaskan Kesadaran?

Kesadaran adalah sesuatu yang paling akrab bagi setiap manusia, tetapi justru menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Kita mengetahui seperti apa rasanya melihat langit senja, merasakan sakit ketika terluka, jatuh cinta, atau menikmati secangkir kopi hangat. Pengalaman-pengalaman itu begitu nyata, bahkan lebih dekat daripada segala sesuatu yang dapat kita amati di luar diri.

Ironisnya, ketika sains modern mencoba menjelaskan bagaimana semua itu terjadi, muncul sebuah pertanyaan yang belum memperoleh jawaban yang disepakati: mengapa proses fisik di dalam otak disertai pengalaman subjektif? Pertanyaan inilah yang dikenal sebagai Hard Problem of Consciousness, salah satu perdebatan paling penting dalam filsafat pikiran kontemporer.

Keberhasilan Materialisme dalam Menjelaskan Otak

Sulit untuk menyangkal bahwa materialisme telah memberikan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan modern. Melalui kemajuan neuroscience, psikologi kognitif, dan kecerdasan buatan, para ilmuwan kini memahami jauh lebih banyak tentang bagaimana otak bekerja dibandingkan beberapa dekade lalu.

Aktivitas neuron dapat dipetakan. Proses pembentukan memori mulai dipahami. Mekanisme perhatian, pengambilan keputusan, hingga bahasa juga semakin dapat dijelaskan melalui jaringan saraf dan pemrosesan informasi. Dalam banyak hal, pendekatan materialistik berhasil menunjukkan bahwa berbagai fungsi mental memiliki dasar biologis yang dapat diteliti secara empiris.

Selain itu, berbagai teori terus dikembangkan untuk menjelaskan hubungan antara otak dan pikiran. Teori identitas modern menganggap pengalaman mental identik dengan keadaan otak tertentu. Fungsionalisme memandang pikiran sebagai pola fungsi atau pemrosesan informasi, bukan sekadar bahan penyusunnya. Sementara itu, Global Workspace Theory, Integrated Information Theory, serta berbagai pendekatan neurokomputasional berusaha menjelaskan bagaimana aktivitas neural menghasilkan perilaku sadar.

Semua pendekatan tersebut memperkaya pemahaman kita mengenai mekanisme kerja otak. Namun, muncul pertanyaan yang tampaknya melampaui penjelasan mekanistis semata.

Consciousness is what makes the mind-body problem really intractable.
— David J. Chalmers

Ketika Penjelasan Mekanisme Belum Menjadi Penjelasan Pengalaman

Bayangkan seorang ilmuwan berhasil memetakan seluruh aktivitas otak seseorang yang sedang menikmati musik. Ia mengetahui neuron mana yang aktif, zat kimia apa yang dilepaskan, bahkan bagaimana sinyal listrik berpindah dari satu area otak ke area lainnya.

Pengetahuan itu sangat berharga. Akan tetapi, masih tersisa satu pertanyaan sederhana sekaligus mendalam: mengapa seluruh aktivitas tersebut terasa seperti mendengarkan musik?

Mengapa impuls listrik di dalam otak tidak hanya memproses informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman mendengar melodi yang indah? Mengapa rangkaian neuron mampu melahirkan rasa sakit, keharuan, aroma kopi, warna merah, atau kesadaran akan keberadaan diri sendiri?

Pertanyaan inilah yang disebut David Chalmers sebagai Hard Problem of Consciousness. Berbeda dengan persoalan tentang bagaimana otak bekerja, masalah ini mempertanyakan mengapa proses fisik itu memiliki dimensi pengalaman subjektif sama sekali.

Mungkin misteri terbesar bukanlah bahwa alam semesta dapat dipahami, melainkan bahwa ada seseorang yang mampu mengalaminya.
— David J. Chalmers

Mengapa Qualia Menjadi Tantangan?

Dalam filsafat pikiran, pengalaman subjektif sering disebut sebagai qualia. Istilah ini merujuk pada kualitas batin yang hanya dapat dialami dari sudut pandang orang pertama.

Tidak seorang pun dapat benar-benar mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kita dapat mengukur panjang gelombang cahaya merah atau aktivitas neuron ketika seseorang melihat warna tersebut, tetapi pengukuran itu belum menjelaskan bagaimana “merasakan merah” dari dalam pengalaman itu sendiri.

Di sinilah letak kesenjangan yang sering disebut sebagai explanatory gap. Penjelasan ilmiah mengenai mekanisme otak tampaknya belum otomatis menjelaskan mengapa mekanisme tersebut disertai pengalaman sadar.

“Kesadaran adalah apa yang membuat persoalan hubungan pikiran dan tubuh menjadi benar-benar sukar dipecahkan.”

Mengapa Perdebatan Ini Masih Terbuka?

Hingga hari ini, belum ada teori materialis yang memperoleh konsensus luas sebagai jawaban final atas persoalan tersebut. Hal ini bukan berarti materialisme telah terbukti salah, melainkan menunjukkan bahwa persoalan kesadaran masih menjadi wilayah penelitian yang aktif sekaligus diperdebatkan.

Sebagian filsuf dan ilmuwan optimistis bahwa perkembangan neuroscience pada akhirnya akan menutup kesenjangan itu. Menurut pandangan ini, sebagaimana kehidupan dahulu tampak misterius sebelum biologi modern berkembang, pengalaman subjektif pun mungkin akan memperoleh penjelasan yang memadai ketika pemahaman tentang otak semakin lengkap.

Sebaliknya, sejumlah filsuf berpendapat bahwa persoalan ini menunjukkan adanya batas pada kerangka materialisme itu sendiri. Tokoh seperti Thomas Nagel, David Chalmers, Galen Strawson, dan Iain McGilchrist mengusulkan bahwa kesadaran mungkin bukan sekadar hasil sampingan aktivitas materi, melainkan aspek fundamental dari realitas yang memerlukan kerangka metafisika yang lebih luas.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa diskusi mengenai kesadaran tidak lagi terbatas pada laboratorium neuroscience. Ia telah memasuki wilayah filsafat, ontologi, bahkan pertanyaan mendasar mengenai hakikat realitas.

Apakah Realitas Hanya Materi?

Pada akhirnya, perdebatan mengenai kesadaran membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar cara kerja otak.

Apakah seluruh realitas dapat direduksi menjadi partikel, energi, dan hukum fisika? Ataukah pengalaman sadar merupakan bagian mendasar dari struktur alam semesta yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui materi?

Pertanyaan ini belum memiliki jawaban yang diterima secara universal. Namun justru karena itulah diskusi tentang kesadaran menjadi salah satu medan intelektual paling menarik di abad ke-21. Di titik ini, ilmu pengetahuan dan filsafat tidak saling meniadakan, melainkan saling mendorong untuk memahami misteri terdalam tentang apa artinya menjadi manusia.

“Barangkali, kemajuan terbesar bukanlah ketika kita berhasil memetakan seluruh neuron di otak, melainkan ketika kita semakin memahami mengapa ada sesuatu yang terasa menjadi diri kita.”

B I B L I O

Chalmers, David J. The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. New York: Oxford University Press, 1996.

Dennett, Daniel C. Consciousness Explained. Boston: Little, Brown and Company, 1991.

Levine, Joseph. Purple Haze: The Puzzle of Consciousness. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Nagel, Thomas. Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. New York: Oxford University Press, 2012.

Tononi, Giulio. “Consciousness as Integrated Information: A Provisional Manifesto.” The Biological Bulletin 215, no. 3 (2008): 216–242.

Tantangan Thomas Nagel terhadap Materialisme

Selama beberapa dekade terakhir, materialisme menjadi paradigma dominan dalam sains modern. Pandangan ini beranggapan bahwa seluruh realitas—termasuk kehidupan, pikiran, dan kesadaran—pada akhirnya dapat dijelaskan melalui hukum-hukum fisika serta interaksi materi.

Namun, benarkah kesadaran manusia hanyalah hasil sampingan evolusi biologis?

Pertanyaan itulah yang diajukan filsuf Thomas Nagel melalui Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. Alih-alih menolak sains, Nagel justru mengkritik asumsi filosofis yang berada di balik materialisme modern. Menurutnya, paradigma tersebut belum mampu menjelaskan mengapa alam semesta dapat dipahami oleh akal dan bagaimana kesadaran bisa muncul.

Materialisme Naturalis: Segala Sesuatu Berasal dari Materi

Materialisme naturalis berangkat dari gagasan sederhana tetapi sangat kuat: semua yang ada merupakan konsekuensi dari proses fisik. Pikiran, kehidupan, bahkan nilai moral dianggap sebagai hasil perkembangan materi yang mengikuti hukum alam.

Dalam kerangka ini, realitas dipahami secara reduksionis. Fenomena yang kompleks dijelaskan melalui tingkatan yang lebih sederhana.

Urutannya biasanya digambarkan sebagai berikut:

  • Fisika partikel
  • Kimia
  • Biologi
  • DNA
  • Otak manusia
  • Pikiran sebagai produk sampingan (side effect)

Dengan demikian, kesadaran tidak dipandang sebagai sesuatu yang mendasar, melainkan sebagai konsekuensi dari organisasi materi yang semakin kompleks.

Pandangan inilah yang menjadi fondasi banyak teori ilmiah kontemporer.

Ambisi Menemukan “Theory of Everything

Materialisme modern juga memiliki cita-cita besar: menemukan hukum fisika yang mampu menjelaskan seluruh fenomena alam.

Jika hukum paling dasar berhasil ditemukan, maka seluruh kompleksitas kehidupan pada prinsipnya dianggap dapat dijelaskan sebagai konsekuensi dari hukum tersebut.

Pendekatan ini berhasil menjelaskan banyak fenomena fisik dengan sangat baik. Akan tetapi, menurut Nagel, keberhasilan itu tidak otomatis berarti bahwa kesadaran, akal budi, dan nilai dapat direduksi menjadi proses material semata.

Di sinilah kritiknya dimulai.

Krisis Rasionalitas dalam Materialisme

Nagel mengajukan sebuah argumen yang terkenal sebagai Evolutionary Circle.

Menurut teori evolusi, kemampuan berpikir manusia berkembang terutama karena memberikan keuntungan untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

Namun muncul persoalan penting.

Apabila akal manusia dibentuk terutama untuk kelangsungan hidup, mengapa kita harus mempercayainya sebagai alat yang mampu menemukan kebenaran objektif mengenai alam semesta?

Dengan kata lain, jika seleksi alam hanya memilih keyakinan yang berguna, bukan yang benar, maka kepercayaan kita terhadap seluruh hasil penalaran ilmiah juga ikut dipertanyakan.

Di sinilah muncul apa yang disebut Nagel sebagai pandangan yang “meruntuhkan dirinya sendiri” (self-undermining). Materialisme menggunakan kemampuan rasional manusia untuk membuktikan bahwa rasionalitas hanyalah produk adaptasi biologis. Ironisnya, penjelasan tersebut justru melemahkan alasan untuk mempercayai rasionalitas itu sendiri.

Kesenjangan Keandalan Akal

Nagel kemudian menunjukkan adanya reliability gap.

Evolusi memang dapat menjelaskan mengapa organisme memiliki keyakinan yang membantu mereka bertahan hidup.

Namun, kemampuan bertahan hidup berbeda dengan kemampuan memahami kebenaran.

Seekor hewan dapat memiliki persepsi yang cukup akurat untuk menghindari predator tanpa harus memahami mekanika kuantum, kosmologi, atau matematika abstrak.

Sebaliknya, manusia mampu mengembangkan logika, fisika teoretis, dan filsafat. Kemampuan-kemampuan tersebut tampak melampaui sekadar kebutuhan biologis untuk bertahan hidup.

Karena itu, Nagel menilai bahwa asal-usul rasionalitas belum sepenuhnya dijelaskan oleh evolusi biologis.

Jalan Alternatif yang Diusulkan Thomas Nagel

Nagel tidak menawarkan penjelasan teistik tradisional. Ia juga tidak menerima reduksionisme materialistik.

Sebaliknya, ia mengusulkan kemungkinan bahwa pikiran merupakan aspek fundamental dari alam.

Artinya, kesadaran bukanlah kecelakaan kosmik, melainkan bagian inheren dari struktur realitas.

Pandangan ini sering disebut sebagai objektif idealisme atau bentuk teleological naturalism, yaitu gagasan bahwa alam memiliki kecenderungan internal yang memungkinkan munculnya kehidupan, kesadaran, dan rasionalitas.

Dalam perspektif ini, hukum alam mungkin tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip yang mengarahkan berkembangnya kesadaran.

Nagel tidak mengklaim bahwa teori tersebut telah terbukti. Ia hanya berpendapat bahwa kemungkinan itu layak dipertimbangkan secara ilmiah dan filosofis.

Perbandingan Tiga Cara Memahami Pikiran

Secara garis besar, terdapat tiga pendekatan besar mengenai asal-usul pikiran.

Materialisme naturalis memandang pikiran sebagai hasil sampingan proses biologis. Rasionalitas dianggap berkembang melalui seleksi alam, sementara hukum alam dipahami sepenuhnya sebagai hukum fisika.

Teisme klasik melihat pikiran sebagai ciptaan Tuhan. Rasionalitas manusia dipercaya karena berasal dari Sang Pencipta yang rasional, sedangkan keteraturan alam merupakan hasil desain ilahi.

Nagel mengambil posisi yang berbeda dari keduanya. Ia mengusulkan bahwa pikiran merupakan prinsip dasar dalam alam itu sendiri. Dengan demikian, keteraturan, rasionalitas, dan kesadaran berasal dari struktur internal kosmos, bukan sekadar akibat materi ataupun intervensi eksternal.

Mengapa Mind and Cosmos Menjadi Buku yang Kontroversial?

Buku Mind and Cosmos menuai kontroversi karena mengkritik asumsi yang selama ini dianggap mapan dalam filsafat sains.

Banyak ilmuwan menolak kesimpulan Nagel, tetapi sebagian filsuf menganggap kritiknya penting karena menunjukkan adanya persoalan konseptual yang belum terselesaikan.

Perlu dipahami bahwa Nagel tidak menolak evolusi biologis. Ia juga tidak menolak metode ilmiah.

Yang ia pertanyakan adalah apakah evolusi neo-Darwinian dan materialisme, tanpa tambahan prinsip apa pun, benar-benar cukup untuk menjelaskan munculnya kesadaran, rasionalitas, serta kemampuan manusia memahami hukum-hukum alam.

Pertanyaan tersebut masih menjadi salah satu perdebatan paling menarik dalam filsafat kontemporer.

Kritik Thomas Nagel mengingatkan bahwa keberhasilan sains tidak selalu berarti seluruh persoalan filosofis telah selesai. Sains mampu menjelaskan bagaimana banyak proses berlangsung, tetapi pertanyaan mengenai mengapa alam semesta dapat dipahami oleh pikiran manusia masih terbuka.

Mind and Cosmos bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan ajakan untuk memperluas cara kita memandang realitas. Jika kesadaran memang merupakan bagian mendasar dari alam, maka memahami kosmos berarti sekaligus memahami mengapa pikiran mampu mengenali kebenaran.

Barangkali, misteri terbesar alam semesta bukanlah luasnya galaksi, melainkan kenyataan bahwa alam semesta melahirkan makhluk yang mampu bertanya tentang dirinya sendiri.

B I B L I O

Nagel, Thomas. Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. Oxford: Oxford University Press, 2012.

Nagel, Thomas. The View from Nowhere. New York: Oxford University Press, 1986.

Plantinga, Alvin. Where the Conflict Really Lies: Science, Religion, and Naturalism. Oxford: Oxford University Press, 2011.

Feser, Edward. Aristotle’s Revenge: The Metaphysical Foundations of Physical and Biological Science. Neunkirchen-Seelscheid: Editiones Scholasticae, 2019.

Dennett, Daniel C. Darwin’s Dangerous Idea: Evolution and the Meanings of Life. New York: Simon & Schuster, 1995.

Ubun-ubun – Prefrontal Cortex

Ubun-ubun, dalam bahasa anatomi disebut sebagai “fontanel”, adalah bagian lunak di atas kepala manusia, terutama terlihat pada bayi. Pada bayi yang baru lahir, ubun-ubun adalah area di mana tulang-tulang tengkorak belum sepenuhnya menyatu. Hal ini memungkinkan tengkorak bayi lebih fleksibel saat melewati jalan lahir dan memberi ruang bagi otak untuk tumbuh dengan cepat di tahun-tahun awal kehidupannya.

Seiring bertambahnya usia, tulang-tulang ini akan menyatu secara perlahan, dan ubun-ubun akan mengeras serta menjadi lebih kecil hingga akhirnya tertutup sepenuhnya. Biasanya, ubun-ubun depan (anterior) menutup sekitar usia 18-24 bulan. Pada orang dewasa, area ini tidak lagi terlihat lunak karena tulang-tulang tengkoraknya sudah menyatu.

Fontanel sebenarnya bukan bagian dari otak, melainkan bagian lunak pada tengkorak yang berada di atas otak. Secara anatomi, fontanel adalah area di mana tulang-tulang tengkorak belum menyatu sepenuhnya pada bayi. Di bawah fontanel, terdapat struktur pelindung berupa meninges (selaput otak) dan cairan serebrospinal, yang melindungi otak dari benturan.

Di bawah fontanel adalah otak, khususnya bagian yang disebut korteks serebral, di antara bagiannya adalah Prefrontal Cortex. Yang memainkan peran utama dalam fungsi-fungsi kognitif seperti berpikir, merasakan, dan mengingat. Namun, fontanel sendiri lebih tepat dianggap sebagai bagian dari sistem tengkorak, bukan otak.

Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang sering dikaitkan dengan ubun-ubun, yaitu Surah Al-‘Alaq (96): 15-16, “Ketahuilah! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”

Kata “nasyiyah” dalam ayat ini diterjemahkan sebagai “ubun-ubun”. Beberapa ulama dan ilmuwan mengaitkan “nasyiyah” dengan prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, moralitas, dan perilaku

Al-Qur’an secara metaforis dan mendalam menyinggung pentingnya bagian ini dalam mengendalikan tindakan manusia, bahwa “nasyiyah” atau ubun-ubun sering ditafsirkan secara mendalam, baik dalam konteks teologis maupun ilmiah.

Ia merujuk pada orang yang mendustakan kebenaran dan bertindak durhaka. Penggunaan “nasyiyah” (ubun-ubun) dianggap sebagai simbol dari tempat pusat kontrol atau pengambilan keputusan manusia.

Dalam tafsir klasik, banyak ulama menyebut istilah ini untuk menggambarkan bahwa tindakan buruk seseorang berasal dari kendali dan keputusannya sendiri, yang secara simbolis diwakili oleh ubun-ubun.

Secara teologis, ayat ini mengingatkan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas manusia, termasuk pada bagian paling inti yang mengendalikan perilaku mereka, yaitu ubun-ubun. Ini adalah peringatan yang kuat tentang konsekuensi dari tindakan mendustakan atau melanggar perintah Allah.

Anatomi modern mengacu, ubun-ubun berada pada lokasi prefrontal cortex, yang terletak di bagian depan otak di belakang dahi dan menjadi bagian penting yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, kontrol diri dan impuls, moralitas dan etika dan perencanaan dan penyelesaian masalah.

Dan secara menakjubkan, seolah ayat “menyentuh” area otak yang secara ilmiah diketahui berperan dalam tindakan dan perilaku manusia. Ketika seseorang bertindak durhaka atau mendustakan, prefrontal cortex memainkan peran besar dalam membuat keputusan tersebut.

QS Al-‘Alaq (96:15-16) menyebut “nasyiyah” atau ubun-ubun sebagai simbol kekuasaan Allah atas manusia. Jika Allah “menarik” ubun-ubun seseorang, biasanya dipahami sebagai tindakan yang menunjukkan kontrol mutlak Allah atas kehidupan manusia, khususnya pada keputusan dan perilaku mereka.

Secara metaforis, “menarik ubun-ubun” adalah cara untuk menyampaikan konsekuensi dari kesombongan dan tindakan durhaka. Ini adalah peringatan bahwa manusia, meskipun merasa memiliki kontrol penuh atas tindakan mereka, tetap berada di bawah kekuasaan dan pengawasan Sang Pencipta.

Kerusakan ringan pada bagian prefrontal cortex, yang terletak di balik ubun-ubun, dapat memiliki dampak signifikan terhadap fungsi eksekutif seseorang. Prefrontal cortex adalah pusat pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan perencanaan jangka panjang. Bahkan gangguan kecil pada area ini bisa menyebabkan perubahan perilaku, kesulitan dalam pengambilan keputusan, atau ketidakmampuan untuk mengatur diri dengan baik. Ini mencerminkan pentingnya peran bagian otak ini dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dampak utama kerusakan prefrontal cortex adalah hilangnya kemampuan kontrol diri. Individu yang mengalami ini mungkin menjadi lebih impulsif, sulit menahan emosi, atau membuat keputusan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Sebagai contoh, seseorang mungkin mengambil risiko berbahaya yang sebelumnya akan mereka hindari, karena area otak yang biasanya mengatur pengambilan keputusan rasional mengalami gangguan.

Selain itu, prefrontal cortex berperan penting dalam perencanaan dan organisasi. Jika bagian ini terganggu, individu mungkin mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks atau mengikuti rutinitas. Aktivitas seperti membuat jadwal atau memprioritaskan pekerjaan dapat menjadi tantangan besar. Ini dapat memengaruhi tidak hanya produktivitas, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan, terutama jika gangguan ini tidak diatasi dengan bantuan profesional.

Kerusakan prefrontal cortex juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Area ini berhubungan erat dengan moralitas dan empati, yang merupakan kunci dalam interaksi manusia. Jika seseorang kehilangan sebagian kemampuan ini, mereka mungkin menunjukkan perilaku tidak sesuai norma sosial, tidak peka terhadap perasaan orang lain, atau bahkan memiliki konflik interpersonal yang meningkat. Ini menunjukkan bagaimana fungsi otak tidak hanya berdampak secara individual, tetapi juga secara sosial.

Akhirnya, penting untuk memahami bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Dengan terapi yang tepat, seperti latihan kognitif, rehabilitasi neuropsikologis, dan dukungan emosional, otak dapat memperbaiki diri dan menemukan cara baru untuk menjalankan fungsi yang terganggu. Oleh karena itu, meskipun kerusakan prefrontal cortex dapat berdampak serius, pendekatan yang terfokus dan penuh perhatian dapat membantu individu pulih dan mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

Relasi Fungsi Prefrontal Cortex

Dalam Al-Qur’an dan hadis, ada beberapa ayat dan konsep yang dapat dikaitkan dengan fungsi prefrontal cortex, meskipun istilah ini tidak disebutkan secara eksplisit.

QS Al-‘Alaq (96:15-16)

Ayat ini menyebutkan “nasyiyah” (ubun-ubun) sebagai simbol kontrol atas perilaku manusia. Dalam ilmu neuroscience, ini dapat dikaitkan dengan prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan moralitas.

QS An-Nur (24:30-31)

Ayat ini memerintahkan untuk menjaga pandangan. Dalam konteks neuroscience, menjaga pandangan dapat mengurangi impulsivitas yang dikendalikan oleh prefrontal cortex.

QS Al-Isra’ (17:36)

Ayat ini mengingatkan manusia untuk tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Fungsi ini sejalan dengan prefrontal cortex, yang berperan dalam analisis dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Prefrontal cortex berperan dalam niat dan perencanaan, sehingga hadis ini relevan dengan fungsi bagian otak tersebut.

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pengendalian diri adalah salah satu fungsi utama prefrontal cortex.


Para ahli neuroscience sering mengaitkan ayat Surah Al-‘Alaq (96:15-16) dengan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang terletak di belakang dahi, dikenal sebagai pusat pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan perilaku moral. Para ahli melihat, ayat ini secara metaforis menyinggung pentingnya bagian otak ini dalam mengendalikan tindakan manusia.

Dr. Keith L. Moore, seorang ahli anatomi dan embriologi terkenal, pernah menyatakan bahwa deskripsi “nasyiyah” dalam Al-Qur’an sangat relevan dengan pengetahuan modern tentang fungsi prefrontal cortex. Ia menganggap bahwa ini adalah salah satu bukti harmoni antara wahyu ilahi dan ilmu pengetahuan.

Dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-‘Alaq (96:15-16) berbicara “ubun-ubun”,

“Ketahuilah! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”

Ayat ini memiliki dimensi spiritual, etis, dan—dalam pandangan beberapa ilmuwan dan pemikir modern—dimensi ilmiah. Secara teologis, ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas manusia.

Termasuk aspek paling penting yang melibatkan kendali diri dan pengambilan keputusan, yang dalam hal ini diwakili oleh “nasyiyah” (ubun-ubun).

Tafsir klasik, “ubun-ubun” sering ditafsirkan sebagai simbol dari pusat kendali manusia, mencerminkan bagaimana perilaku durhaka dan dusta dikendalikan oleh niat dan keputusan individu.

Secara metaforis, ayat ini mengingatkan manusia bahwa tindakan mereka yang buruk dapat dikontrol atau dihentikan oleh Allah, yang memiliki kekuasaan mutlak atas semua.

Sains modern, “nasyiyah” dapat dihubungkan dengan bagian prefrontal cortex di otak manusia, yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian impuls.

Jadi ayat ini tidak hanya mengingatkan kita akan dimensi spiritual dalam hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang tanggung jawab moral dan kemampuan manusia untuk mengendalikan tindakan mereka.

Frase “Kami tarik ubun-ubunnya” dalam QS Al-‘Alaq (96) :15-16, diartikan sebagai gambaran simbolis atau metaforis, dan bukan secara langsung merujuk pada kerusakan fisik ubun-ubun. Sering dipahami sebagai pernyataan kekuasaan Allah atas manusia, khususnya terhadap mereka yang mendustakan dan durhaka.

Namun, jika kita mempertimbangkan kemungkinan untuk memaknainya dalam kerangka kerusakan, kita dapat mengaitkannya dengan konsekuensi yang dapat terjadi ketika prefrontal cortex (bagian otak di balik ubun-ubun) mengalami disfungsi atau gangguan.

Tidak hanya kehilangan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak, juga memicu gangguan kontrol impuls, sehingga seseorang cenderung bertindak tanpa berpikir panjang dan penurunan kemampuan moralitas dan perencanaan.

“Ditarik ubun-ubunnya” hingga kehilangan kontrol atas pusat pengambilan keputusan, ini bisa dianggap sebagai kerusakan, baik secara fisik maupun moral. Namun maknanya dalam konteks Al-Qur’an lebih cenderung spiritual, yang menggambarkan dominasi ilahi atas manusia.

Para ahli tafsir dan ilmuwan memberikan berbagai pandangan menarik terkait Surah Al-‘Alaq (96:15-16), yang menyebutkan “nasyiyah” atau ubun-ubun.

Ulama seperti Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa “nasyiyah” dalam ayat ini melambangkan pusat kendali manusia. Ayat ini dianggap sebagai peringatan keras kepada Abu Jahal, yang sering menentang Nabi Muhammad SAW. Imam Razi menafsirkan bahwa Allah akan “menarik ubun-ubun” orang yang mendustakan kebenaran sebagai simbol kekuasaan-Nya atas manusia.

Syekh Nawawi mengaitkan ayat ini dengan kisah Abu Jahal yang berniat mencelakai Nabi Muhammad SAW. Namun, niat tersebut gagal karena perlindungan Allah. “Menarik ubun-ubun” diartikan sebagai tindakan ilahi yang menunjukkan hukuman bagi orang yang durhaka.

Dalam Tafsir Jalalain, “nasyiyah” dipahami sebagai simbol dari tindakan manusia yang mendustakan dan durhaka. Ayat ini menegaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas manusia, termasuk pada bagian yang menjadi pusat kendali perilaku mereka.

Pendekatan Modern, beberapa ilmuwan modern menghubungkan “nasyiyah” dengan prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, moralitas, dan perilaku. Mereka melihat ayat ini sebagai indikasi mukjizat ilmiah Al-Qur’an, karena secara metaforis menyentuh fungsi otak yang baru dipahami dalam ilmu neuroscience.