Tag Archive for: Kesadaran

Kehendak Bebas Itu Nyata, Ketika Sains Harus Mengakui Agensi Manusia

Ada pertanyaan yang tampaknya sederhana, tetapi dapat mengguncang seluruh cara kita memahami manusia: apakah kita sungguh memilih, atau hanya merasa sedang memilih?

Jika setiap peristiwa di alam semesta sepenuhnya merupakan akibat dari kondisi sebelumnya, maka keputusan manusia tampaknya tidak lebih dari mata rantai panjang sebab-akibat. Kita memilih pekerjaan, pasangan, keyakinan, atau tindakan tertentu karena keadaan biologis, pengalaman masa lalu, lingkungan, dan hukum fisika yang bekerja di dalam diri kita.

Dalam gambaran seperti itu, kehendak bebas mudah dianggap sebagai ilusi yang nyaman.

Namun, kosmolog George Ellis mengajak kita berhenti sejenak sebelum menerima kesimpulan tersebut. Dalam pembahasannya di Institute of Art and Ideas (IAI), Ellis mempertahankan gagasan bahwa free will atau kehendak bebas adalah sesuatu yang nyata, dan bahwa sains tidak semestinya menyingkirkan agensi manusia hanya karena alam dapat dijelaskan melalui hukum-hukum fisika.

Apakah Manusia Hanya Produk Hukum Fisika?

Masalahnya berawal dari cara kita membayangkan hubungan antara sebab dan akibat.

Dalam fisika klasik, kita cenderung membayangkan dunia sebagai rangkaian peristiwa yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan. Kondisi sebelumnya menghasilkan kondisi berikutnya. Jika seluruh keadaan alam semesta pada suatu saat diketahui secara sempurna, tampaknya masa depan pun dapat dianggap telah ditentukan.

Pandangan semacam ini menjadi salah satu sumber intuisi deterministik: manusia dianggap tidak benar-benar memilih karena keputusan mereka pada akhirnya dapat ditelusuri kembali kepada kondisi yang mendahuluinya.

Tetapi kehidupan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar lintasan benda-benda fisik sederhana.

Sebuah otak bukan hanya kumpulan partikel. Ia merupakan sistem kompleks yang memiliki organisasi, informasi, tujuan, kemampuan belajar, dan kemampuan merespons lingkungan. Pada tingkat tertentu, pola yang muncul dari sistem tersebut memiliki daya kausal yang tidak mudah direduksi menjadi deskripsi setiap partikelnya.

Di sinilah Ellis menempatkan persoalan kehendak bebas.

Dari Partikel Menuju Manusia: Masalah Kausalitas

Bayangkan sebuah kota.

Kota itu tersusun dari gedung, jalan, kendaraan, kabel, dan jutaan benda fisik lainnya. Namun kita tidak akan memahami bagaimana sebuah kota bekerja hanya dengan mempelajari satu batu bata.

Ada tingkat organisasi yang lebih tinggi.

Demikian pula manusia. Molekul membentuk sel, sel membentuk jaringan, jaringan membentuk organ, dan organ membentuk sistem biologis yang sangat kompleks. Pada tingkat yang lebih tinggi muncul kemampuan seperti persepsi, pengambilan keputusan, bahasa, perencanaan, dan tindakan yang diarahkan pada tujuan.

Karena itu, hubungan sebab-akibat tidak selalu harus dibayangkan hanya bergerak dari bawah ke atas. Dalam sistem kompleks, organisasi tingkat tinggi juga dapat memengaruhi bagaimana bagian-bagian di bawahnya berperilaku.

Dengan kata lain, kausalitas dapat bekerja secara dua arah: dari bagian menuju keseluruhan, tetapi juga dari keseluruhan menuju bagian.

Inilah salah satu gagasan penting yang membuat argumen Ellis menarik. Kehendak manusia tidak perlu dipahami sebagai sesuatu yang berada di luar alam. Justru sebaliknya, kehendak dapat dipahami sebagai kemampuan yang muncul dari organisasi alam yang sangat kompleks.

Alam Semesta Tidak Brisi iPhone Sejak Awal

Ada eksperimen pemikiran sederhana yang membantu menjelaskan persoalan ini.

Pada kondisi awal alam semesta tidak terdapat iPhone. Tidak ada Boeing 747. Tidak ada perpustakaan, universitas, kota, atau karya seni.

Namun miliaran tahun kemudian, benda-benda tersebut benar-benar ada.

Tentu saja, semua itu tetap tersusun dari materi yang mengikuti hukum-hukum fisika. Tetapi hukum fisika saja tidak memberi kita gambaran lengkap tentang bentuk spesifik yang akhirnya muncul melalui sejarah kehidupan dan kebudayaan manusia.

Sebuah pesawat terbang bukan sekadar kumpulan atom.

Ia merupakan hasil dari pengetahuan, tujuan, desain, keputusan, kerja sama, dan tindakan manusia. Atom-atom tersebut memang diperlukan. Tetapi penjelasan tentang atom saja tidak cukup untuk menjelaskan mengapa Boeing 747 itu ada.

Di sinilah konsep agency menjadi penting.

Manusia bukan sekadar sesuatu yang terjadi di alam. Manusia juga merupakan makhluk yang melakukan sesuatu terhadap alam.

Agensi Manusia Bukan Berarti Melanggar Hukum Alam

Namun ada kesalahpahaman yang perlu dihindari.

Mengatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas tidak harus berarti mengatakan bahwa manusia adalah makhluk gaib yang dapat keluar dari hukum fisika. Kehendak bebas tidak harus berarti kemampuan melakukan sesuatu tanpa sebab.

Justru persoalannya adalah: jenis sebab apa yang relevan ketika kita menjelaskan tindakan manusia?

Ketika seseorang memutuskan untuk belajar, misalnya, kita dapat menjelaskan proses itu melalui aktivitas neuron. Tetapi kita juga dapat menjelaskannya melalui alasan: ia ingin memahami sesuatu, memiliki tujuan tertentu, mempertimbangkan masa depan, lalu mengambil keputusan.

Kedua penjelasan tersebut tidak harus saling menghancurkan.

Penjelasan neurobiologis menjelaskan bagaimana keputusan itu diwujudkan secara fisik. Penjelasan pada tingkat manusia menjelaskan mengapa keputusan tersebut dibuat.

Dengan demikian, menjelaskan manusia secara ilmiah tidak harus berarti menghapus manusia sebagai agen.

Mengapa Kehendak Bebas Penting bagi Tanggung Jawab?

Persoalan ini bukan hanya permainan filsafat.

Jika manusia benar-benar tidak memiliki agensi, konsep seperti tanggung jawab, pilihan, niat, dan akuntabilitas ikut mengalami guncangan.

Mengapa seseorang harus bertanggung jawab atas tindakannya jika ia hanyalah hasil dari gen, lingkungan, masa lalu, dan hukum alam?

Sebaliknya, jika manusia memiliki kemampuan nyata untuk merespons alasan, mempertimbangkan kemungkinan, mengubah perilaku, dan mengarahkan tindakannya menuju tujuan, maka tanggung jawab memperoleh dasar yang berbeda.

Kita tidak lagi melihat manusia sebagai benda yang sekadar bergerak karena didorong dari belakang.

Kita melihat manusia sebagai agen yang mampu bertindak berdasarkan alasan.

Sains Tidak Harus Memilih antara Fisika dan Kebebasan

Di sinilah argumen Ellis memiliki konsekuensi filosofis yang lebih luas.

Sains berhasil luar biasa ketika menjelaskan dunia melalui hukum, mekanisme, dan pola yang dapat diuji. Tetapi keberhasilan itu tidak otomatis berarti bahwa semua realitas harus direduksi ke satu tingkat penjelasan yang sama.

Ellis sendiri telah lama menekankan bahwa kosmologi membawa persoalan filosofis yang tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan menambah data atau persamaan. Pertanyaan tentang apa yang ada, bagaimana alam semesta dipahami, serta hubungan kosmologi dengan makna dan tujuan membawa kita ke wilayah yang bersinggungan dengan filsafat.

Karena itu, mempertahankan kehendak bebas bukan berarti menolak sains.

Sebaliknya, bisa jadi justru berarti meminta sains memiliki gambaran yang lebih lengkap tentang apa yang sedang dijelaskannya.

Manusia Bukan Sekadar Penonton Alam Semesta

Ada sesuatu yang sangat menarik dalam persoalan ini.

Manusia bukan hanya mengamati alam semesta. Manusia juga mengubahnya.

Kita membangun bahasa, menciptakan teknologi, mendirikan institusi, membuat karya seni, mengembangkan teori ilmiah, dan mengambil keputusan yang kemudian mengubah kondisi dunia bagi generasi berikutnya.

Jika semua itu disebut sekadar “ilusi”, kita mungkin kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam pemahaman tentang manusia.

Sebab dunia yang kita tinggali bukan hanya dunia yang menyebabkan kita.

Dunia juga merupakan dunia yang kita ikut sebabkan.

Tindakan manusia menjadi bagian dari sejarah kausal alam semesta. Keputusan yang dibuat hari ini dapat menjadi kondisi awal bagi sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Kehendak Bebas sebagai Kemampuan untuk Menciptakan Kemungkinan

Mungkin karena itu, kehendak bebas sebaiknya tidak dibayangkan sebagai kemampuan ajaib untuk memilih tanpa sebab.

Pengertian yang lebih masuk akal adalah kemampuan sebuah makhluk kompleks untuk mempertimbangkan berbagai kemungkinan, merespons alasan, membentuk tujuan, lalu mengarahkan tindakannya berdasarkan proses tersebut.

Kebebasan tidak berarti bebas dari seluruh kondisi.

Kebebasan berarti memiliki kapasitas untuk bertindak melalui kondisi yang ada, bukan sekadar ditentukan olehnya secara pasif.

Manusia tetap memiliki masa lalu. Ia tetap memiliki tubuh, gen, lingkungan, dan keterbatasan. Tetapi dari semua itu muncul kemampuan untuk berkata: yang sudah terjadi bukan berarti satu-satunya kemungkinan yang harus terjadi berikutnya.

Di situlah agensi menemukan tempatnya.

Pada Akhirnya, Sains Perlu Menjelaskan Manusia sebagai Pelaku

Perdebatan tentang kehendak bebas sering terjebak pada pilihan yang terlalu sederhana: determinisme atau kebebasan, hukum alam atau kehendak manusia, fisika atau metafisika.

Padahal realitas mungkin lebih kaya daripada dikotomi tersebut.

Manusia memang bagian dari alam. Namun menjadi bagian dari alam tidak berarti menjadi benda pasif di dalamnya. Kompleksitas kehidupan memungkinkan munculnya tingkat organisasi baru, dan pada tingkat tertentu muncul kemampuan untuk memahami, menilai, memilih, serta bertindak.

Karena itu, pertanyaan tentang kehendak bebas belum selesai hanya karena kita menemukan mekanisme fisik yang berkaitan dengan keputusan manusia.

Justru di sanalah pertanyaan yang lebih dalam dimulai.

Bagaimana alam yang tunduk pada hukum dapat melahirkan makhluk yang mampu bertindak berdasarkan alasan dan tujuan?

George Ellis mengajak kita melihat kemungkinan bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut bukan dengan menyingkirkan kehendak bebas, melainkan dengan memperluas cara kita memahami kausalitas, kompleksitas, dan manusia.

Pada akhirnya, manusia bukan hanya bagian dari cerita alam semesta.

Manusia juga menjadi salah satu cara alam semesta menghasilkan sesuatu yang sebelumnya belum ada.

Mimpi dan Kesadaran, Siapa Sebenarnya Pengamat Realitas

Bayangkan Anda sedang bermimpi.

Anda berada di sebuah kota yang tidak pernah Anda kunjungi. Anda memiliki usia tertentu, keluarga tertentu, bahkan mungkin kehidupan yang sama sekali berbeda dari kehidupan ketika terjaga. Anda berbicara dengan seseorang yang sudah lama meninggal, berjalan di sebuah tempat yang tidak masuk akal, atau sedang menghadapi persoalan yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Namun selama mimpi berlangsung, semuanya terasa biasa.

Anda tidak berdiri di tengah mimpi sambil berkata, “Ini hanya konstruksi otak saya.”

Anda mengalaminya sebagai kenyataan.

Lalu Anda terbangun.

Dalam sekejap, dunia yang beberapa detik sebelumnya tampak begitu nyata berubah status menjadi “mimpi”. Identitas Anda kembali. Rumah kembali menjadi rumah. Tubuh kembali berada di tempat tidur. Waktu dan ruang kembali mengikuti aturan yang kita kenal.

Pengalaman sederhana ini menjadi titik berangkat yang menarik bagi filsuf Andrew T. Jaffe. Dalam artikel Dreams Show Us Consciousness Is Fundamental, ia menggunakan struktur mimpi untuk mengajukan pertanyaan yang jauh lebih besar: jika sebuah pengalaman dapat menghadirkan dunia, tubuh, identitas, orang lain, ruang, dan waktu tanpa semua itu harus hadir sebagaimana adanya di dunia terjaga, lalu apa sebenarnya posisi kesadaran terhadap dunia yang kita alami?

Pertanyaannya bukan apakah dunia ini “hanya mimpi”.

Pertanyaannya lebih mendasar:

Apa yang harus sudah ada agar sesuatu dapat disebut sebagai dunia yang dialami?

Mimpi Menggoyahkan Sesuatu yang Kita Anggap Stabil

Ada satu hal yang menarik dari mimpi: bukan hanya dunia yang dapat berubah, tetapi juga diri kita.

Dalam mimpi, kita dapat menjadi lebih muda atau lebih tua. Kita dapat memiliki ingatan yang berbeda. Kita dapat berada di tempat yang tidak pernah kita datangi. Bahkan kepribadian dan hubungan sosial kita dapat berubah tanpa menimbulkan rasa heran selama mimpi berlangsung.

Jaffe menyoroti ketidakstabilan autobiographical self, yaitu diri yang kita kenal melalui ingatan, usia, sejarah pribadi, dan hubungan dengan orang lain. Semua unsur itu dapat berubah dalam mimpi, sementara sesuatu tetap hadir: ada pengalaman yang sedang berlangsung dan ada “pengamat” yang mengalaminya.

Di sinilah mimpi menjadi lebih dari sekadar fenomena tidur.

Ia menjadi eksperimen filosofis alami.

Kita biasanya menganggap diri sebagai sesuatu yang paling pasti. Nama saya, tubuh saya, masa lalu saya, pekerjaan saya, keluarga saya, ingatan saya—semuanya terasa seperti fondasi identitas.

Tetapi mimpi memperlihatkan bahwa sebagian besar unsur tersebut ternyata dapat berubah tanpa menghentikan pengalaman itu sendiri.

Yang berubah adalah siapa saya di dalam pengalaman.

Yang tetap adalah kenyataan bahwa ada pengalaman.

Dari sini muncul perbedaan yang sangat penting: isi kesadaran tidak sama dengan kesadaran itu sendiri.

Kita dapat mengubah isi mimpi tanpa menghilangkan kenyataan bahwa sesuatu sedang dialami.

Dari Mimpi ke Pertanyaan yang Lebih Sulit

Di sinilah persoalan filsafat kesadaran dimulai.

Ilmu pengetahuan telah berhasil menjelaskan banyak sekali hal mengenai otak. Kita dapat mengamati aktivitas neural yang berkaitan dengan persepsi, memori, bahasa, emosi, pengambilan keputusan, dan pengalaman sadar.

Penelitian mengenai mimpi bahkan telah menemukan pola aktivitas otak yang berkaitan dengan pengalaman bermimpi. Studi menggunakan EEG menunjukkan bahwa pengalaman mimpi, baik dalam tidur REM maupun non-REM, berkaitan dengan pola aktivitas tertentu di wilayah kortikal posterior. Dengan kata lain, mimpi bukan fenomena tanpa jejak biologis; ia memiliki korelasi neural yang dapat dipelajari secara empiris.

Tetapi di sinilah sebuah perbedaan perlu dijaga.

Menemukan korelasi neural bukan otomatis sama dengan menjawab pertanyaan tentang mengapa aktivitas fisik tertentu terasa seperti sesuatu dari sudut pandang orang pertama.

Inilah yang dalam filsafat pikiran dikenal sebagai hard problem of consciousness: bagaimana pengalaman subjektif—rasa sakit, warna merah, rasa cinta, suara musik, atau pengalaman berada di dalam mimpi—berhubungan dengan proses fisik di otak? Perdebatan mengenai pertanyaan ini masih terbuka dan melibatkan berbagai posisi, dari physicalism hingga dualisme, panpsikisme, dan idealisme.

Maka persoalannya bukan:

“Apakah otak berhubungan dengan kesadaran?”

Tentu saja ada hubungan yang sangat kuat.

Persoalannya adalah:

Apakah hubungan itu sudah menjelaskan apa sebenarnya kesadaran?

Itu pertanyaan yang berbeda.

Fisika Dapat Menjelaskan Dunia, Tetapi Siapa yang Mengalaminya?

Di sinilah argumen Jaffe menjadi lebih radikal.

Ilmu pengetahuan bekerja dengan objek. Kita mengamati, mengukur, membandingkan, mengulang, dan membangun teori. Dari sini kita memperoleh pengetahuan luar biasa tentang alam semesta.

Tetapi seluruh kegiatan itu memiliki satu prasyarat yang sangat sederhana: ada pengalaman terhadap hasil pengamatan tersebut.

Kita dapat memetakan galaksi.

Kita dapat mengukur gelombang elektromagnetik.

Kita dapat memetakan aktivitas otak.

Tetapi pemetaan itu sendiri tidak otomatis menunjukkan di mana “orang yang mengalami” berada.

Jaffe menyebut ini sebagai observer problem: ilmu dapat semakin rinci menggambarkan proses yang berkaitan dengan pengalaman, tetapi pengamat sebagai subjek pengalaman tidak muncul sebagai sebuah objek biasa di dalam deskripsi tersebut.

Namun di sini kita perlu berhati-hati.

Kalimat “setiap eksperimen membutuhkan pengamat” tidak boleh dipahami sebagai klaim bahwa kesadaran manusia diperlukan agar alam fisik bekerja. Dalam fisika kuantum sendiri, istilah observer memiliki sejarah dan makna teknis yang kompleks. Kesadaran manusia bukan syarat yang diterima secara umum untuk terjadinya pengukuran; bahkan dalam pembacaan von Neumann, batas antara sistem, alat ukur, dan pengamat dapat ditempatkan pada posisi yang berbeda.

Jadi, argumen tentang kesadaran tidak perlu bergantung pada gagasan populer bahwa “pikiran manusia menciptakan realitas kuantum”.

Pertanyaan yang lebih kuat justru berada di tempat lain:

Bagaimana mungkin deskripsi objektif tentang dunia menjelaskan kenyataan subjektif bahwa dunia tersebut dialami?

Pertanyaan Ini Sudah Ada Sebelum Neurosains

Menariknya, persoalan ini bukan ciptaan filsafat kontemporer.

Berabad-abad sebelum pemindaian otak, para filsuf telah bergulat dengan pertanyaan tentang hubungan antara pengalaman dan realitas.

George Berkeley, misalnya, mengembangkan suatu bentuk idealisme yang mempertanyakan asumsi bahwa kita secara langsung mengetahui benda-benda material yang berdiri sendiri di luar pengalaman. Dalam kerangka Berkeley, apa yang kita kenal secara langsung adalah ide-ide dalam pengalaman dan pikiran yang mempersepsikannya.

Immanuel Kant mengambil jalan yang berbeda.

Ia tidak mengatakan secara sederhana bahwa dunia hanyalah ciptaan pikiran. Justru Kant mempertahankan realitas dunia pengalaman sekaligus berargumen bahwa cara dunia tampil bagi kita dibentuk oleh struktur pengalaman manusia—termasuk ruang dan waktu. Karena itu, Kant menjadi penting bukan karena ia membuktikan idealisme metafisis, melainkan karena ia menunjukkan bahwa kita tidak pernah berhadapan dengan realitas tanpa melalui kondisi-kondisi yang memungkinkan pengalaman itu sendiri.

Perbedaan ini penting.

Ada jarak antara dua pernyataan:

“Kesadaran adalah syarat bagi semua yang saya ketahui.”

dan:

“Kesadaran adalah substansi dasar dari seluruh realitas.”

Pernyataan pertama bersifat epistemologis.

Pernyataan kedua bersifat metafisis.

Dan lompatan dari yang pertama menuju yang kedua tidak otomatis sah.

Di Sini Mimpi Menjadi Eksperimen yang Menarik

Mimpi memberikan sesuatu yang tidak diberikan oleh pengalaman biasa.

Ketika terjaga, kita cenderung menganggap dunia sebagai sesuatu yang berada di luar diri kita. Ada tubuh. Ada meja. Ada jalan. Ada manusia lain. Ada ruang dan waktu.

Dalam mimpi, kesadaran dapat menghadirkan pengalaman yang memiliki struktur serupa: ada tubuh, ada ruang, ada orang lain, ada waktu, ada sebab-akibat, bahkan ada rasa bahwa “dunia ini benar-benar ada”.

Tetapi setelah bangun, kita menyadari bahwa dunia mimpi tersebut tidak memiliki status yang sama dengan dunia terjaga.

Itulah yang membuat mimpi menjadi begitu penting secara filosofis.

Ia menunjukkan bahwa pengalaman tentang dunia tidak identik dengan dunia sebagaimana kita bayangkan secara naif.

Namun sekali lagi, ini belum membuktikan bahwa kehidupan terjaga adalah mimpi.

Justru di sinilah argumen yang baik harus menahan diri.

Mimpi dapat menunjukkan bahwa kesadaran mampu mengalami dunia yang terstruktur tanpa struktur dunia tersebut harus identik dengan realitas eksternal. Tetapi dari fakta itu saja kita tidak dapat menyimpulkan bahwa realitas eksternal tidak ada.

Mimpi membuka pertanyaan.

Ia tidak menutupnya.

Neurosains Justru Membuat Pertanyaannya Semakin Menarik

Ada ironi di sini.

Semakin maju ilmu tentang otak, semakin jelas hubungan antara otak dan pengalaman sadar. Tetapi kemajuan itu sekaligus membuat kita semakin sadar bahwa ada beberapa jenis pertanyaan yang berbeda.

Kita dapat bertanya:

Bagian otak mana yang aktif ketika seseorang bermimpi?

Ini pertanyaan ilmiah.

Kita dapat bertanya:

Bagaimana pola aktivitas tersebut berkaitan dengan isi mimpi?

Ini juga pertanyaan ilmiah.

Tetapi kemudian muncul pertanyaan lain:

Mengapa pola aktivitas itu disertai pengalaman dari sudut pandang seseorang?

Ini sudah memasuki wilayah filsafat kesadaran.

Karena itu, mengatakan bahwa “neurosains belum menemukan satu titik di otak tempat pengamat berada” bukan berarti neurosains gagal. Justru konsep “pengamat” sendiri mungkin tidak tepat jika diperlakukan seperti organ yang dapat ditemukan di suatu koordinat.

Otak tidak harus memiliki sebuah “pusat penonton” di dalam kepala.

Sebaliknya, pengalaman sadar mungkin merupakan hasil dari dinamika terdistribusi yang jauh lebih kompleks. Penelitian tentang korelat neural kesadaran memang menunjukkan keterlibatan berbagai jaringan dan pola aktivitas, bukan sebuah lokasi tunggal yang sederhana.

Dengan demikian, kritik terhadap physicalism tidak boleh dibuat terlalu mudah.

Belum menemukan penjelasan lengkap bukan berarti penjelasan tersebut mustahil.

Tetapi sebaliknya:

memiliki korelasi neural bukan berarti persoalan metafisis sudah selesai.

Di antara dua ekstrem itulah perdebatan yang serius seharusnya berlangsung.

Dari Physicalism ke Idealisme: Sebuah Pergeseran Titik Berangkat

Physicalism memulai dari dunia fisik.

Secara sederhana, ia mengatakan bahwa segala sesuatu pada akhirnya bersifat fisik atau bergantung secara mendasar pada realitas fisik. Kesadaran kemudian harus dijelaskan dalam kerangka tersebut.

Idealisme mengambil titik berangkat yang berbeda.

Ia mengatakan bahwa aspek mental atau pengalaman bukan sesuatu yang dapat begitu saja ditempatkan sebagai produk sampingan dari materi. Dalam bentuk metafisisnya, idealisme bahkan berpendapat bahwa realitas pada akhirnya bersifat mental atau pengalaman.

Andrew Jaffe mengambil posisi yang dekat dengan arah ini melalui Cognitive Dream Interface Theory. Dalam kerangka tersebut, kesadaran diperlakukan sebagai sesuatu yang fundamental, sementara ruang, waktu, tubuh, dan dunia fisik dipahami sebagai tampilan atau struktur yang muncul di dalam pengalaman.

Gagasan ini menarik.

Tetapi menarik tidak sama dengan terbukti.

Dan justru di sinilah artikel Jaffe menjadi lebih berguna jika dibaca bukan sebagai jawaban final, melainkan sebagai tantangan terhadap cara kita biasanya menyusun pertanyaan.

Mungkin Masalahnya Ada pada Kata “Dasar”

Ketika seseorang mengatakan “kesadaran adalah fundamental”, kita perlu bertanya:

Fundamental dalam arti apa?

Fundamental secara epistemologis?

Kesadaran memang tampak sangat istimewa karena segala sesuatu yang kita ketahui muncul melalui pengalaman.

Fundamental secara ontologis?

Itu jauh lebih besar. Itu berarti kesadaran bukan sekadar kondisi pengetahuan kita tentang realitas, tetapi merupakan bagian paling dasar dari realitas itu sendiri.

Mimpi dengan sendirinya tidak membuktikan klaim tersebut.

Namun mimpi memberikan sebuah alasan kuat untuk berhenti menganggap pengalaman subjektif sebagai persoalan sampingan.

Selama berabad-abad, kita mungkin terlalu mudah menganggap bahwa dunia adalah sesuatu yang sudah selesai di luar sana, sedangkan kesadaran hanyalah semacam layar yang menerima gambar.

Tetapi mungkin analogi itu terlalu sederhana.

Mungkin yang kita sebut “dunia sebagaimana dialami” selalu merupakan hasil hubungan antara apa yang ada dan cara keberadaan itu muncul bagi suatu kesadaran.

Dari “Apa yang Ada?” ke “Bagaimana Sesuatu Menjadi Dunia?”

Perubahan kecil dalam pertanyaan dapat menghasilkan perubahan besar dalam filsafat.

Pertanyaan klasik:

Apa yang sebenarnya ada?

mengarah pada pencarian substansi paling dasar.

Tetapi kita dapat mengajukan pertanyaan lain:

Bagaimana sesuatu menjadi dunia bagi suatu makhluk yang mengalaminya?

Pertanyaan kedua membawa kita lebih dekat kepada pengalaman.

Di sini mimpi kembali menjadi guru yang aneh.

Dalam mimpi, kita tidak hanya melihat objek.

Kita mengalami sebuah dunia.

Ada jarak. Ada kedekatan. Ada ancaman. Ada harapan. Ada tubuh. Ada diri. Ada orang lain. Ada masa lalu. Ada masa depan.

Semua itu membentuk satu medan pengalaman yang koheren.

Ketika terbangun, kita menyadari bahwa dunia tersebut tidak sama dengan dunia fisik yang kita kenal.

Tetapi pengalaman tentang “dunia” itu sendiri ternyata dapat muncul dalam lebih dari satu keadaan kesadaran.

Dan itu adalah fakta yang jauh lebih sederhana sekaligus lebih dalam daripada klaim metafisis apa pun.

Apa yang Sebenarnya Dibuktikan oleh Mimpi?

Mungkin tidak sebanyak yang diklaim oleh para pendukung idealisme.

Tetapi juga tidak sesedikit yang sering diasumsikan oleh materialisme sederhana.

Mimpi tidak membuktikan bahwa dunia fisik adalah ilusi.

Mimpi tidak membuktikan bahwa otak tidak menghasilkan atau membentuk pengalaman.

Mimpi juga tidak membuktikan bahwa kesadaran adalah medan kosmis.

Yang ditunjukkannya adalah sesuatu yang lebih hati-hati:

identitas, dunia, dan pengalaman ternyata dapat dipisahkan secara konseptual.

Kita dapat mengalami dunia tanpa identitas terjaga yang sama.

Kita dapat mengalami tubuh yang berbeda.

Kita dapat mengalami ruang dan waktu dengan struktur yang berbeda.

Dan semua itu tetap hadir sebagai pengalaman.

Penelitian empiris tentang mimpi memperlihatkan bahwa pengalaman tersebut memiliki dasar neural yang dapat dipelajari. Filsafat kesadaran, pada saat yang sama, mengingatkan bahwa hubungan neural dan pengalaman belum otomatis menyelesaikan pertanyaan tentang hakikat pengalaman itu sendiri.

Maka persoalannya tidak lagi sesederhana “otak atau kesadaran”.

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah:

Apa yang sebenarnya kita maksud ketika mengatakan bahwa sesuatu itu “fisik”, dan apakah deskripsi fisik sudah cukup untuk menjelaskan seluruh kenyataan pengalaman?

Pada Akhirnya, Kita Kembali kepada Pengamat

Kita dapat terus memetakan otak.

Kita dapat menemukan semakin banyak korelasi antara aktivitas neural dan pengalaman.

Kita dapat membuat teori yang semakin canggih tentang mimpi.

Kita bahkan mungkin suatu hari dapat membangun sistem buatan yang tampak memiliki perilaku sadar.

Tetapi sebuah pertanyaan akan tetap mengikuti semua kemajuan itu:

Apa artinya mengalami sesuatu?

Bukan sekadar memproses informasi.

Bukan sekadar menghasilkan respons.

Bukan sekadar memiliki representasi internal.

Melainkan mengalami.

Ada sesuatu yang rasanya seperti menjadi seseorang.

Dan di sinilah mimpi memberikan pelajaran yang mungkin paling sederhana.

Ketika kita bermimpi, dunia dapat berubah.

Tubuh dapat berubah.

Nama dapat berubah.

Masa lalu dapat berubah.

Bahkan diri yang kita kenal dapat menghilang.

Tetapi pengalaman tetap berlangsung.

Mungkin karena itu pertanyaan terdalam tentang mimpi bukanlah:

“Apakah dunia ini nyata?”

Melainkan:

“Apa yang membuat sebuah dunia dapat hadir sebagai kenyataan bagi seseorang?”

Pertanyaan itu membawa kita dari ilmu tentang otak menuju filsafat tentang kesadaran.

Dan mungkin, lebih jauh lagi, menuju pertanyaan yang jauh lebih tua daripada sains modern:

Apakah kesadaran berada di dalam dunia—atau dunia, sebagaimana kita kenal, selalu hadir di dalam kesadaran?

Kita belum memiliki jawaban yang disepakati.

Tetapi mungkin justru di situlah nilai pertanyaannya.

Karena kadang-kadang, kemajuan pengetahuan tidak terjadi ketika kita menemukan jawaban yang lebih cepat.

Ia terjadi ketika kita akhirnya menyadari bahwa pertanyaan yang selama ini kita ajukan terlalu sempit.

B I B L I O G R A F I

Jaffe, Andrew T. “Dreams Show Us Consciousness Is Fundamental: The Structure of Dreams Reveals Reality’s Observer Problem.” Institute of Art and Ideas, August 13, 2026. [IAI TV] Dreams Show Us

Jaffe, Andrew T. “Reality Is a Dream Not a Simulation: Life as a Dream Is More Than Metaphor.” Institute of Art and Ideas, April 28, 2026. [IAI TV] Reality Is a Dream

Seth, Anil, and Adam B. Barrett. “Active Inference, Predictive Processing, and the Perception-Action Loop.” Behavioral and Brain Sciences 45 (2022).

Siclari, Francesca, Giulio Bernardi, Gennaro Cataldi, and Giulio Tononi. “The Neural Correlates of Dreaming.” Nature Neuroscience 20 (2017): 872–878. [Nature Neuroscience] The Neural Correlates of Dreaming

Hobson, J. Allan. “REM Sleep and Dreaming: Towards a Theory of Protoconsciousness.” Nature Reviews Neuroscience 10 (2009): 803–813. [Nature Reviews Neuroscience] REM Sleep and Dreaming

Chalmers, David J. “Facing Up to the Problem of Consciousness.” Journal of Consciousness Studies 2, no. 3 (1995): 200–219.

Goff, Philip, William Seager, and others. Consciousness and Fundamental Physics. Cambridge: Cambridge University Press.

Berkeley, George. A Treatise Concerning the Principles of Human Knowledge. 1710.

Kant, Immanuel. Critique of Pure Reason. 1781/1787.

Tononi, Giulio, Melanie Boly, Marcello Massimini, and Christof Koch. “Integrated Information Theory: From Consciousness to Its Physical Substrate.” Nature Reviews Neuroscience 17 (2016): 450–461.

Mengapa Materialisme Belum Mampu Menjelaskan Kesadaran?

Kesadaran adalah sesuatu yang paling akrab bagi setiap manusia, tetapi justru menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Kita mengetahui seperti apa rasanya melihat langit senja, merasakan sakit ketika terluka, jatuh cinta, atau menikmati secangkir kopi hangat. Pengalaman-pengalaman itu begitu nyata, bahkan lebih dekat daripada segala sesuatu yang dapat kita amati di luar diri.

Ironisnya, ketika sains modern mencoba menjelaskan bagaimana semua itu terjadi, muncul sebuah pertanyaan yang belum memperoleh jawaban yang disepakati: mengapa proses fisik di dalam otak disertai pengalaman subjektif? Pertanyaan inilah yang dikenal sebagai Hard Problem of Consciousness, salah satu perdebatan paling penting dalam filsafat pikiran kontemporer.

Keberhasilan Materialisme dalam Menjelaskan Otak

Sulit untuk menyangkal bahwa materialisme telah memberikan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan modern. Melalui kemajuan neuroscience, psikologi kognitif, dan kecerdasan buatan, para ilmuwan kini memahami jauh lebih banyak tentang bagaimana otak bekerja dibandingkan beberapa dekade lalu.

Aktivitas neuron dapat dipetakan. Proses pembentukan memori mulai dipahami. Mekanisme perhatian, pengambilan keputusan, hingga bahasa juga semakin dapat dijelaskan melalui jaringan saraf dan pemrosesan informasi. Dalam banyak hal, pendekatan materialistik berhasil menunjukkan bahwa berbagai fungsi mental memiliki dasar biologis yang dapat diteliti secara empiris.

Selain itu, berbagai teori terus dikembangkan untuk menjelaskan hubungan antara otak dan pikiran. Teori identitas modern menganggap pengalaman mental identik dengan keadaan otak tertentu. Fungsionalisme memandang pikiran sebagai pola fungsi atau pemrosesan informasi, bukan sekadar bahan penyusunnya. Sementara itu, Global Workspace Theory, Integrated Information Theory, serta berbagai pendekatan neurokomputasional berusaha menjelaskan bagaimana aktivitas neural menghasilkan perilaku sadar.

Semua pendekatan tersebut memperkaya pemahaman kita mengenai mekanisme kerja otak. Namun, muncul pertanyaan yang tampaknya melampaui penjelasan mekanistis semata.

Consciousness is what makes the mind-body problem really intractable.
— David J. Chalmers

Ketika Penjelasan Mekanisme Belum Menjadi Penjelasan Pengalaman

Bayangkan seorang ilmuwan berhasil memetakan seluruh aktivitas otak seseorang yang sedang menikmati musik. Ia mengetahui neuron mana yang aktif, zat kimia apa yang dilepaskan, bahkan bagaimana sinyal listrik berpindah dari satu area otak ke area lainnya.

Pengetahuan itu sangat berharga. Akan tetapi, masih tersisa satu pertanyaan sederhana sekaligus mendalam: mengapa seluruh aktivitas tersebut terasa seperti mendengarkan musik?

Mengapa impuls listrik di dalam otak tidak hanya memproses informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman mendengar melodi yang indah? Mengapa rangkaian neuron mampu melahirkan rasa sakit, keharuan, aroma kopi, warna merah, atau kesadaran akan keberadaan diri sendiri?

Pertanyaan inilah yang disebut David Chalmers sebagai Hard Problem of Consciousness. Berbeda dengan persoalan tentang bagaimana otak bekerja, masalah ini mempertanyakan mengapa proses fisik itu memiliki dimensi pengalaman subjektif sama sekali.

Mungkin misteri terbesar bukanlah bahwa alam semesta dapat dipahami, melainkan bahwa ada seseorang yang mampu mengalaminya.
— David J. Chalmers

Mengapa Qualia Menjadi Tantangan?

Dalam filsafat pikiran, pengalaman subjektif sering disebut sebagai qualia. Istilah ini merujuk pada kualitas batin yang hanya dapat dialami dari sudut pandang orang pertama.

Tidak seorang pun dapat benar-benar mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kita dapat mengukur panjang gelombang cahaya merah atau aktivitas neuron ketika seseorang melihat warna tersebut, tetapi pengukuran itu belum menjelaskan bagaimana “merasakan merah” dari dalam pengalaman itu sendiri.

Di sinilah letak kesenjangan yang sering disebut sebagai explanatory gap. Penjelasan ilmiah mengenai mekanisme otak tampaknya belum otomatis menjelaskan mengapa mekanisme tersebut disertai pengalaman sadar.

“Kesadaran adalah apa yang membuat persoalan hubungan pikiran dan tubuh menjadi benar-benar sukar dipecahkan.”

Mengapa Perdebatan Ini Masih Terbuka?

Hingga hari ini, belum ada teori materialis yang memperoleh konsensus luas sebagai jawaban final atas persoalan tersebut. Hal ini bukan berarti materialisme telah terbukti salah, melainkan menunjukkan bahwa persoalan kesadaran masih menjadi wilayah penelitian yang aktif sekaligus diperdebatkan.

Sebagian filsuf dan ilmuwan optimistis bahwa perkembangan neuroscience pada akhirnya akan menutup kesenjangan itu. Menurut pandangan ini, sebagaimana kehidupan dahulu tampak misterius sebelum biologi modern berkembang, pengalaman subjektif pun mungkin akan memperoleh penjelasan yang memadai ketika pemahaman tentang otak semakin lengkap.

Sebaliknya, sejumlah filsuf berpendapat bahwa persoalan ini menunjukkan adanya batas pada kerangka materialisme itu sendiri. Tokoh seperti Thomas Nagel, David Chalmers, Galen Strawson, dan Iain McGilchrist mengusulkan bahwa kesadaran mungkin bukan sekadar hasil sampingan aktivitas materi, melainkan aspek fundamental dari realitas yang memerlukan kerangka metafisika yang lebih luas.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa diskusi mengenai kesadaran tidak lagi terbatas pada laboratorium neuroscience. Ia telah memasuki wilayah filsafat, ontologi, bahkan pertanyaan mendasar mengenai hakikat realitas.

Apakah Realitas Hanya Materi?

Pada akhirnya, perdebatan mengenai kesadaran membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar cara kerja otak.

Apakah seluruh realitas dapat direduksi menjadi partikel, energi, dan hukum fisika? Ataukah pengalaman sadar merupakan bagian mendasar dari struktur alam semesta yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui materi?

Pertanyaan ini belum memiliki jawaban yang diterima secara universal. Namun justru karena itulah diskusi tentang kesadaran menjadi salah satu medan intelektual paling menarik di abad ke-21. Di titik ini, ilmu pengetahuan dan filsafat tidak saling meniadakan, melainkan saling mendorong untuk memahami misteri terdalam tentang apa artinya menjadi manusia.

“Barangkali, kemajuan terbesar bukanlah ketika kita berhasil memetakan seluruh neuron di otak, melainkan ketika kita semakin memahami mengapa ada sesuatu yang terasa menjadi diri kita.”

B I B L I O

Chalmers, David J. The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. New York: Oxford University Press, 1996.

Dennett, Daniel C. Consciousness Explained. Boston: Little, Brown and Company, 1991.

Levine, Joseph. Purple Haze: The Puzzle of Consciousness. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Nagel, Thomas. Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. New York: Oxford University Press, 2012.

Tononi, Giulio. “Consciousness as Integrated Information: A Provisional Manifesto.” The Biological Bulletin 215, no. 3 (2008): 216–242.

Tantangan Thomas Nagel terhadap Materialisme

Selama beberapa dekade terakhir, materialisme menjadi paradigma dominan dalam sains modern. Pandangan ini beranggapan bahwa seluruh realitas—termasuk kehidupan, pikiran, dan kesadaran—pada akhirnya dapat dijelaskan melalui hukum-hukum fisika serta interaksi materi.

Namun, benarkah kesadaran manusia hanyalah hasil sampingan evolusi biologis?

Pertanyaan itulah yang diajukan filsuf Thomas Nagel melalui Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. Alih-alih menolak sains, Nagel justru mengkritik asumsi filosofis yang berada di balik materialisme modern. Menurutnya, paradigma tersebut belum mampu menjelaskan mengapa alam semesta dapat dipahami oleh akal dan bagaimana kesadaran bisa muncul.

Materialisme Naturalis: Segala Sesuatu Berasal dari Materi

Materialisme naturalis berangkat dari gagasan sederhana tetapi sangat kuat: semua yang ada merupakan konsekuensi dari proses fisik. Pikiran, kehidupan, bahkan nilai moral dianggap sebagai hasil perkembangan materi yang mengikuti hukum alam.

Dalam kerangka ini, realitas dipahami secara reduksionis. Fenomena yang kompleks dijelaskan melalui tingkatan yang lebih sederhana.

Urutannya biasanya digambarkan sebagai berikut:

  • Fisika partikel
  • Kimia
  • Biologi
  • DNA
  • Otak manusia
  • Pikiran sebagai produk sampingan (side effect)

Dengan demikian, kesadaran tidak dipandang sebagai sesuatu yang mendasar, melainkan sebagai konsekuensi dari organisasi materi yang semakin kompleks.

Pandangan inilah yang menjadi fondasi banyak teori ilmiah kontemporer.

Ambisi Menemukan “Theory of Everything

Materialisme modern juga memiliki cita-cita besar: menemukan hukum fisika yang mampu menjelaskan seluruh fenomena alam.

Jika hukum paling dasar berhasil ditemukan, maka seluruh kompleksitas kehidupan pada prinsipnya dianggap dapat dijelaskan sebagai konsekuensi dari hukum tersebut.

Pendekatan ini berhasil menjelaskan banyak fenomena fisik dengan sangat baik. Akan tetapi, menurut Nagel, keberhasilan itu tidak otomatis berarti bahwa kesadaran, akal budi, dan nilai dapat direduksi menjadi proses material semata.

Di sinilah kritiknya dimulai.

Krisis Rasionalitas dalam Materialisme

Nagel mengajukan sebuah argumen yang terkenal sebagai Evolutionary Circle.

Menurut teori evolusi, kemampuan berpikir manusia berkembang terutama karena memberikan keuntungan untuk bertahan hidup dan bereproduksi.

Namun muncul persoalan penting.

Apabila akal manusia dibentuk terutama untuk kelangsungan hidup, mengapa kita harus mempercayainya sebagai alat yang mampu menemukan kebenaran objektif mengenai alam semesta?

Dengan kata lain, jika seleksi alam hanya memilih keyakinan yang berguna, bukan yang benar, maka kepercayaan kita terhadap seluruh hasil penalaran ilmiah juga ikut dipertanyakan.

Di sinilah muncul apa yang disebut Nagel sebagai pandangan yang “meruntuhkan dirinya sendiri” (self-undermining). Materialisme menggunakan kemampuan rasional manusia untuk membuktikan bahwa rasionalitas hanyalah produk adaptasi biologis. Ironisnya, penjelasan tersebut justru melemahkan alasan untuk mempercayai rasionalitas itu sendiri.

Kesenjangan Keandalan Akal

Nagel kemudian menunjukkan adanya reliability gap.

Evolusi memang dapat menjelaskan mengapa organisme memiliki keyakinan yang membantu mereka bertahan hidup.

Namun, kemampuan bertahan hidup berbeda dengan kemampuan memahami kebenaran.

Seekor hewan dapat memiliki persepsi yang cukup akurat untuk menghindari predator tanpa harus memahami mekanika kuantum, kosmologi, atau matematika abstrak.

Sebaliknya, manusia mampu mengembangkan logika, fisika teoretis, dan filsafat. Kemampuan-kemampuan tersebut tampak melampaui sekadar kebutuhan biologis untuk bertahan hidup.

Karena itu, Nagel menilai bahwa asal-usul rasionalitas belum sepenuhnya dijelaskan oleh evolusi biologis.

Jalan Alternatif yang Diusulkan Thomas Nagel

Nagel tidak menawarkan penjelasan teistik tradisional. Ia juga tidak menerima reduksionisme materialistik.

Sebaliknya, ia mengusulkan kemungkinan bahwa pikiran merupakan aspek fundamental dari alam.

Artinya, kesadaran bukanlah kecelakaan kosmik, melainkan bagian inheren dari struktur realitas.

Pandangan ini sering disebut sebagai objektif idealisme atau bentuk teleological naturalism, yaitu gagasan bahwa alam memiliki kecenderungan internal yang memungkinkan munculnya kehidupan, kesadaran, dan rasionalitas.

Dalam perspektif ini, hukum alam mungkin tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengandung prinsip-prinsip yang mengarahkan berkembangnya kesadaran.

Nagel tidak mengklaim bahwa teori tersebut telah terbukti. Ia hanya berpendapat bahwa kemungkinan itu layak dipertimbangkan secara ilmiah dan filosofis.

Perbandingan Tiga Cara Memahami Pikiran

Secara garis besar, terdapat tiga pendekatan besar mengenai asal-usul pikiran.

Materialisme naturalis memandang pikiran sebagai hasil sampingan proses biologis. Rasionalitas dianggap berkembang melalui seleksi alam, sementara hukum alam dipahami sepenuhnya sebagai hukum fisika.

Teisme klasik melihat pikiran sebagai ciptaan Tuhan. Rasionalitas manusia dipercaya karena berasal dari Sang Pencipta yang rasional, sedangkan keteraturan alam merupakan hasil desain ilahi.

Nagel mengambil posisi yang berbeda dari keduanya. Ia mengusulkan bahwa pikiran merupakan prinsip dasar dalam alam itu sendiri. Dengan demikian, keteraturan, rasionalitas, dan kesadaran berasal dari struktur internal kosmos, bukan sekadar akibat materi ataupun intervensi eksternal.

Mengapa Mind and Cosmos Menjadi Buku yang Kontroversial?

Buku Mind and Cosmos menuai kontroversi karena mengkritik asumsi yang selama ini dianggap mapan dalam filsafat sains.

Banyak ilmuwan menolak kesimpulan Nagel, tetapi sebagian filsuf menganggap kritiknya penting karena menunjukkan adanya persoalan konseptual yang belum terselesaikan.

Perlu dipahami bahwa Nagel tidak menolak evolusi biologis. Ia juga tidak menolak metode ilmiah.

Yang ia pertanyakan adalah apakah evolusi neo-Darwinian dan materialisme, tanpa tambahan prinsip apa pun, benar-benar cukup untuk menjelaskan munculnya kesadaran, rasionalitas, serta kemampuan manusia memahami hukum-hukum alam.

Pertanyaan tersebut masih menjadi salah satu perdebatan paling menarik dalam filsafat kontemporer.

Kritik Thomas Nagel mengingatkan bahwa keberhasilan sains tidak selalu berarti seluruh persoalan filosofis telah selesai. Sains mampu menjelaskan bagaimana banyak proses berlangsung, tetapi pertanyaan mengenai mengapa alam semesta dapat dipahami oleh pikiran manusia masih terbuka.

Mind and Cosmos bukanlah penolakan terhadap sains, melainkan ajakan untuk memperluas cara kita memandang realitas. Jika kesadaran memang merupakan bagian mendasar dari alam, maka memahami kosmos berarti sekaligus memahami mengapa pikiran mampu mengenali kebenaran.

Barangkali, misteri terbesar alam semesta bukanlah luasnya galaksi, melainkan kenyataan bahwa alam semesta melahirkan makhluk yang mampu bertanya tentang dirinya sendiri.

B I B L I O

Nagel, Thomas. Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. Oxford: Oxford University Press, 2012.

Nagel, Thomas. The View from Nowhere. New York: Oxford University Press, 1986.

Plantinga, Alvin. Where the Conflict Really Lies: Science, Religion, and Naturalism. Oxford: Oxford University Press, 2011.

Feser, Edward. Aristotle’s Revenge: The Metaphysical Foundations of Physical and Biological Science. Neunkirchen-Seelscheid: Editiones Scholasticae, 2019.

Dennett, Daniel C. Darwin’s Dangerous Idea: Evolution and the Meanings of Life. New York: Simon & Schuster, 1995.

Ubun-ubun – Prefrontal Cortex

Ubun-ubun, dalam bahasa anatomi disebut sebagai “fontanel”, adalah bagian lunak di atas kepala manusia, terutama terlihat pada bayi. Pada bayi yang baru lahir, ubun-ubun adalah area di mana tulang-tulang tengkorak belum sepenuhnya menyatu. Hal ini memungkinkan tengkorak bayi lebih fleksibel saat melewati jalan lahir dan memberi ruang bagi otak untuk tumbuh dengan cepat di tahun-tahun awal kehidupannya.

Seiring bertambahnya usia, tulang-tulang ini akan menyatu secara perlahan, dan ubun-ubun akan mengeras serta menjadi lebih kecil hingga akhirnya tertutup sepenuhnya. Biasanya, ubun-ubun depan (anterior) menutup sekitar usia 18-24 bulan. Pada orang dewasa, area ini tidak lagi terlihat lunak karena tulang-tulang tengkoraknya sudah menyatu.

Fontanel sebenarnya bukan bagian dari otak, melainkan bagian lunak pada tengkorak yang berada di atas otak. Secara anatomi, fontanel adalah area di mana tulang-tulang tengkorak belum menyatu sepenuhnya pada bayi. Di bawah fontanel, terdapat struktur pelindung berupa meninges (selaput otak) dan cairan serebrospinal, yang melindungi otak dari benturan.

Di bawah fontanel adalah otak, khususnya bagian yang disebut korteks serebral, di antara bagiannya adalah Prefrontal Cortex. Yang memainkan peran utama dalam fungsi-fungsi kognitif seperti berpikir, merasakan, dan mengingat. Namun, fontanel sendiri lebih tepat dianggap sebagai bagian dari sistem tengkorak, bukan otak.

Dalam Al-Qur’an, ada ayat yang sering dikaitkan dengan ubun-ubun, yaitu Surah Al-‘Alaq (96): 15-16, “Ketahuilah! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”

Kata “nasyiyah” dalam ayat ini diterjemahkan sebagai “ubun-ubun”. Beberapa ulama dan ilmuwan mengaitkan “nasyiyah” dengan prefrontal cortex, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan, moralitas, dan perilaku

Al-Qur’an secara metaforis dan mendalam menyinggung pentingnya bagian ini dalam mengendalikan tindakan manusia, bahwa “nasyiyah” atau ubun-ubun sering ditafsirkan secara mendalam, baik dalam konteks teologis maupun ilmiah.

Ia merujuk pada orang yang mendustakan kebenaran dan bertindak durhaka. Penggunaan “nasyiyah” (ubun-ubun) dianggap sebagai simbol dari tempat pusat kontrol atau pengambilan keputusan manusia.

Dalam tafsir klasik, banyak ulama menyebut istilah ini untuk menggambarkan bahwa tindakan buruk seseorang berasal dari kendali dan keputusannya sendiri, yang secara simbolis diwakili oleh ubun-ubun.

Secara teologis, ayat ini mengingatkan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas manusia, termasuk pada bagian paling inti yang mengendalikan perilaku mereka, yaitu ubun-ubun. Ini adalah peringatan yang kuat tentang konsekuensi dari tindakan mendustakan atau melanggar perintah Allah.

Anatomi modern mengacu, ubun-ubun berada pada lokasi prefrontal cortex, yang terletak di bagian depan otak di belakang dahi dan menjadi bagian penting yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, kontrol diri dan impuls, moralitas dan etika dan perencanaan dan penyelesaian masalah.

Dan secara menakjubkan, seolah ayat “menyentuh” area otak yang secara ilmiah diketahui berperan dalam tindakan dan perilaku manusia. Ketika seseorang bertindak durhaka atau mendustakan, prefrontal cortex memainkan peran besar dalam membuat keputusan tersebut.

QS Al-‘Alaq (96:15-16) menyebut “nasyiyah” atau ubun-ubun sebagai simbol kekuasaan Allah atas manusia. Jika Allah “menarik” ubun-ubun seseorang, biasanya dipahami sebagai tindakan yang menunjukkan kontrol mutlak Allah atas kehidupan manusia, khususnya pada keputusan dan perilaku mereka.

Secara metaforis, “menarik ubun-ubun” adalah cara untuk menyampaikan konsekuensi dari kesombongan dan tindakan durhaka. Ini adalah peringatan bahwa manusia, meskipun merasa memiliki kontrol penuh atas tindakan mereka, tetap berada di bawah kekuasaan dan pengawasan Sang Pencipta.

Kerusakan ringan pada bagian prefrontal cortex, yang terletak di balik ubun-ubun, dapat memiliki dampak signifikan terhadap fungsi eksekutif seseorang. Prefrontal cortex adalah pusat pengambilan keputusan, kontrol impuls, dan perencanaan jangka panjang. Bahkan gangguan kecil pada area ini bisa menyebabkan perubahan perilaku, kesulitan dalam pengambilan keputusan, atau ketidakmampuan untuk mengatur diri dengan baik. Ini mencerminkan pentingnya peran bagian otak ini dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dampak utama kerusakan prefrontal cortex adalah hilangnya kemampuan kontrol diri. Individu yang mengalami ini mungkin menjadi lebih impulsif, sulit menahan emosi, atau membuat keputusan secara sembarangan tanpa mempertimbangkan konsekuensi. Sebagai contoh, seseorang mungkin mengambil risiko berbahaya yang sebelumnya akan mereka hindari, karena area otak yang biasanya mengatur pengambilan keputusan rasional mengalami gangguan.

Selain itu, prefrontal cortex berperan penting dalam perencanaan dan organisasi. Jika bagian ini terganggu, individu mungkin mengalami kesulitan untuk menyelesaikan tugas-tugas kompleks atau mengikuti rutinitas. Aktivitas seperti membuat jadwal atau memprioritaskan pekerjaan dapat menjadi tantangan besar. Ini dapat memengaruhi tidak hanya produktivitas, tetapi juga kualitas hidup secara keseluruhan, terutama jika gangguan ini tidak diatasi dengan bantuan profesional.

Kerusakan prefrontal cortex juga dapat berdampak pada hubungan sosial. Area ini berhubungan erat dengan moralitas dan empati, yang merupakan kunci dalam interaksi manusia. Jika seseorang kehilangan sebagian kemampuan ini, mereka mungkin menunjukkan perilaku tidak sesuai norma sosial, tidak peka terhadap perasaan orang lain, atau bahkan memiliki konflik interpersonal yang meningkat. Ini menunjukkan bagaimana fungsi otak tidak hanya berdampak secara individual, tetapi juga secara sosial.

Akhirnya, penting untuk memahami bahwa otak memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi, yang dikenal sebagai neuroplastisitas. Dengan terapi yang tepat, seperti latihan kognitif, rehabilitasi neuropsikologis, dan dukungan emosional, otak dapat memperbaiki diri dan menemukan cara baru untuk menjalankan fungsi yang terganggu. Oleh karena itu, meskipun kerusakan prefrontal cortex dapat berdampak serius, pendekatan yang terfokus dan penuh perhatian dapat membantu individu pulih dan mengatasi tantangan yang mereka hadapi.

Relasi Fungsi Prefrontal Cortex

Dalam Al-Qur’an dan hadis, ada beberapa ayat dan konsep yang dapat dikaitkan dengan fungsi prefrontal cortex, meskipun istilah ini tidak disebutkan secara eksplisit.

QS Al-‘Alaq (96:15-16)

Ayat ini menyebutkan “nasyiyah” (ubun-ubun) sebagai simbol kontrol atas perilaku manusia. Dalam ilmu neuroscience, ini dapat dikaitkan dengan prefrontal cortex, yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan dan moralitas.

QS An-Nur (24:30-31)

Ayat ini memerintahkan untuk menjaga pandangan. Dalam konteks neuroscience, menjaga pandangan dapat mengurangi impulsivitas yang dikendalikan oleh prefrontal cortex.

QS Al-Isra’ (17:36)

Ayat ini mengingatkan manusia untuk tidak mengikuti sesuatu tanpa ilmu. Fungsi ini sejalan dengan prefrontal cortex, yang berperan dalam analisis dan pengambilan keputusan berdasarkan informasi.

Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Prefrontal cortex berperan dalam niat dan perencanaan, sehingga hadis ini relevan dengan fungsi bagian otak tersebut.

Rasulullah SAW bersabda,

“Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Pengendalian diri adalah salah satu fungsi utama prefrontal cortex.


Para ahli neuroscience sering mengaitkan ayat Surah Al-‘Alaq (96:15-16) dengan fungsi prefrontal cortex, bagian otak yang terletak di belakang dahi, dikenal sebagai pusat pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan perilaku moral. Para ahli melihat, ayat ini secara metaforis menyinggung pentingnya bagian otak ini dalam mengendalikan tindakan manusia.

Dr. Keith L. Moore, seorang ahli anatomi dan embriologi terkenal, pernah menyatakan bahwa deskripsi “nasyiyah” dalam Al-Qur’an sangat relevan dengan pengetahuan modern tentang fungsi prefrontal cortex. Ia menganggap bahwa ini adalah salah satu bukti harmoni antara wahyu ilahi dan ilmu pengetahuan.

Dalam Al-Qur’an, yaitu Surah Al-‘Alaq (96:15-16) berbicara “ubun-ubun”,

“Ketahuilah! Jika dia tidak berhenti (berbuat demikian), niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”

Ayat ini memiliki dimensi spiritual, etis, dan—dalam pandangan beberapa ilmuwan dan pemikir modern—dimensi ilmiah. Secara teologis, ayat ini menunjukkan kekuasaan Allah atas manusia.

Termasuk aspek paling penting yang melibatkan kendali diri dan pengambilan keputusan, yang dalam hal ini diwakili oleh “nasyiyah” (ubun-ubun).

Tafsir klasik, “ubun-ubun” sering ditafsirkan sebagai simbol dari pusat kendali manusia, mencerminkan bagaimana perilaku durhaka dan dusta dikendalikan oleh niat dan keputusan individu.

Secara metaforis, ayat ini mengingatkan manusia bahwa tindakan mereka yang buruk dapat dikontrol atau dihentikan oleh Allah, yang memiliki kekuasaan mutlak atas semua.

Sains modern, “nasyiyah” dapat dihubungkan dengan bagian prefrontal cortex di otak manusia, yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengendalian impuls.

Jadi ayat ini tidak hanya mengingatkan kita akan dimensi spiritual dalam hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga memberikan refleksi mendalam tentang tanggung jawab moral dan kemampuan manusia untuk mengendalikan tindakan mereka.

Frase “Kami tarik ubun-ubunnya” dalam QS Al-‘Alaq (96) :15-16, diartikan sebagai gambaran simbolis atau metaforis, dan bukan secara langsung merujuk pada kerusakan fisik ubun-ubun. Sering dipahami sebagai pernyataan kekuasaan Allah atas manusia, khususnya terhadap mereka yang mendustakan dan durhaka.

Namun, jika kita mempertimbangkan kemungkinan untuk memaknainya dalam kerangka kerusakan, kita dapat mengaitkannya dengan konsekuensi yang dapat terjadi ketika prefrontal cortex (bagian otak di balik ubun-ubun) mengalami disfungsi atau gangguan.

Tidak hanya kehilangan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak, juga memicu gangguan kontrol impuls, sehingga seseorang cenderung bertindak tanpa berpikir panjang dan penurunan kemampuan moralitas dan perencanaan.

“Ditarik ubun-ubunnya” hingga kehilangan kontrol atas pusat pengambilan keputusan, ini bisa dianggap sebagai kerusakan, baik secara fisik maupun moral. Namun maknanya dalam konteks Al-Qur’an lebih cenderung spiritual, yang menggambarkan dominasi ilahi atas manusia.

Para ahli tafsir dan ilmuwan memberikan berbagai pandangan menarik terkait Surah Al-‘Alaq (96:15-16), yang menyebutkan “nasyiyah” atau ubun-ubun.

Ulama seperti Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa “nasyiyah” dalam ayat ini melambangkan pusat kendali manusia. Ayat ini dianggap sebagai peringatan keras kepada Abu Jahal, yang sering menentang Nabi Muhammad SAW. Imam Razi menafsirkan bahwa Allah akan “menarik ubun-ubun” orang yang mendustakan kebenaran sebagai simbol kekuasaan-Nya atas manusia.

Syekh Nawawi mengaitkan ayat ini dengan kisah Abu Jahal yang berniat mencelakai Nabi Muhammad SAW. Namun, niat tersebut gagal karena perlindungan Allah. “Menarik ubun-ubun” diartikan sebagai tindakan ilahi yang menunjukkan hukuman bagi orang yang durhaka.

Dalam Tafsir Jalalain, “nasyiyah” dipahami sebagai simbol dari tindakan manusia yang mendustakan dan durhaka. Ayat ini menegaskan bahwa Allah memiliki kekuasaan penuh atas manusia, termasuk pada bagian yang menjadi pusat kendali perilaku mereka.

Pendekatan Modern, beberapa ilmuwan modern menghubungkan “nasyiyah” dengan prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan, moralitas, dan perilaku. Mereka melihat ayat ini sebagai indikasi mukjizat ilmiah Al-Qur’an, karena secara metaforis menyentuh fungsi otak yang baru dipahami dalam ilmu neuroscience.