Bayangan Tuhan, Cahaya Perjumpaan

Malam turun perlahan di kafe kecil itu. Lampu kuning menggantung redup seperti bulan yang kelelahan. Di sudut ruangan, beberapa orang duduk mengelilingi meja kayu yang penuh noda kopi dan abu rokok. Mereka berbicara tentang Tuhan dengan semangat seperti penjelajah yang merasa telah menemukan peta langit. Kata-kata beterbangan: metafisika, eksistensi, kesadaran, absolut, logos.

Kadang terdengar tawa kecil, kadang dahi berkerut seperti nabi yang tersesat di lorong perpustakaan.

Asap rokok melayang tipis di udara, membentuk bayangan-bayangan yang sebentar hidup lalu lenyap. Di sana, Tuhan sering hadir sebagai topik diskusi, tetapi jarang sebagai keheningan yang mengguncang dada.

Ironis sekali: semakin panjang pembicaraan tentang Tuhan, semakin dingin kopi di cangkir mereka.

Ada sesuatu yang aneh pada manusia modern. Ia mengira kata-kata mampu menggantikan pengalaman. Ia percaya definisi bisa menggantikan perjumpaan. Padahal kata hanyalah jendela; orang-orang terlalu sibuk membersihkan kaca sampai lupa memandang langit.

Mereka mendebatkan cahaya sambil tetap duduk di dalam gelap.

Seorang filsuf tua di sudut ruangan tiba-tiba berkata pelan:

“Manusia hari ini mengenal Tuhan seperti turis mengenal laut: cukup lewat kartu pos.”

Semua tertawa kecil, lalu kembali tenggelam dalam argumentasi.

Padahal membicarakan Tuhan dan menjumpai Tuhan adalah dua dunia yang berbeda. Yang satu seperti membaca menu; yang lain seperti benar-benar merasakan lapar dan makan. Yang satu melatih lidah; yang lain membakar jiwa.

Membicarakan Tuhan adalah bayangan di dinding gua Plato. Bayangan itu bisa diperdebatkan: bentuknya, warnanya, asalnya. Orang bisa membuat teori tentangnya, menulis buku, membuka seminar, bahkan membangun reputasi dari sana. Tetapi bayangan tetap tidak pernah menjadi matahari. Ia tidak pernah menghangatkan kulit.

Manusia sering jatuh cinta pada bayangan karena bayangan lebih aman daripada cahaya. Cahaya terlalu nyata. Cahaya menyingkap debu di wajah, luka di hati, dan kekosongan yang selama ini disembunyikan oleh kalimat-kalimat indah.

Karena itu banyak orang lebih nyaman berbicara tentang Tuhan daripada diam di hadapan-Nya.

Diam itu menakutkan.

Sebab dalam diam, semua topeng mulai runtuh.

Di luar kafe, hujan kecil turun membasahi jalan. Seorang pelayan muda membuka pintu sebentar. Angin malam masuk bersama aroma tanah basah. Tak ada yang menyadari, kecuali seorang lelaki tua yang sejak tadi diam memandangi jendela.

Ia tidak ikut berdebat. Ia hanya memegang cangkir kopinya dengan kedua tangan, seolah sedang menghangatkan sesuatu yang lebih tua dari pikirannya sendiri.

Barangkali ia tahu sesuatu yang dilupakan semua orang di meja itu: bahwa Tuhan tidak selalu datang sebagai jawaban. Kadang Ia datang sebagai getaran yang membuat dada tiba-tiba sunyi.

Perjumpaan dengan Tuhan tidak selalu berbentuk suara dari langit atau mukjizat besar. Kadang ia hadir seperti cahaya pagi yang menembus kaca jendela tanpa meminta izin. Kau mungkin menolak mempercayainya, tetapi kulitmu tetap merasakan hangatnya.

Cahaya tidak sibuk menjelaskan dirinya.

Ia hanya hadir.

Dan kehadiran selalu lebih kuat daripada definisi.

Manusia modern terlalu mabuk pada penjelasan. Ia ingin mengukur semuanya: cinta, makna, bahkan Tuhan. Seolah-olah yang tak bisa dijelaskan berarti tak nyata. Maka lahirlah generasi yang pandai berbicara tentang cahaya tetapi kehilangan kemampuan untuk merasakan terang.

Kita sibuk mendefinisikan cahaya, sementara jiwa kita tetap hidup sebagai gua.

Mereka seperti orang yang membuat tesis tentang api sambil mati kedinginan.

Padahal ada pengalaman-pengalaman yang hanya bisa dimengerti oleh hati yang terbakar. Seperti musik yang tak selesai dijelaskan oleh notasi. Seperti rindu yang tak cukup diterjemahkan kamus. Seperti Tuhan yang terlalu hidup untuk dimasukkan ke dalam paragraf.

Kata-kata tentang Tuhan hanyalah brosur.

Perjumpaan dengan Tuhan adalah perjalanan.

Dan perjalanan selalu menuntut keberanian meninggalkan meja diskusi.

Mungkin itulah sebabnya para mistikus lebih banyak menangis daripada berdebat. Mereka tahu bahwa ketika cahaya sungguh datang, bahasa sering kali runtuh. Lidah menjadi kecil. Pikiran menjadi sunyi. Yang tersisa hanya rasa takjub yang sulit dijelaskan.

Karena cahaya sejati tidak membuat manusia merasa paling tahu.

Ia justru membuat manusia sadar betapa sedikit yang ia pahami.

Di penghujung malam, kafe mulai sepi. Kursi-kursi kosong berdiri seperti saksi dari percakapan panjang yang perlahan menguap bersama asap rokok. Orang-orang pulang membawa teori masing-masing, merasa menang dalam perdebatan yang sebenarnya tak pernah selesai.

Tetapi lelaki tua di sudut ruangan itu masih duduk diam.

Ia memandang cahaya lampu yang memantul di sisa kopi hitamnya. Lalu perlahan tersenyum kecil, seperti seseorang yang baru saja bertemu sesuatu yang tak sanggup ia ceritakan kepada siapa pun.

Sebab pada akhirnya, bayangan memang bisa diperdebatkan.

Tetapi cahaya—

hanya bisa dialami.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *