Tag Archive for: Science and Philosophy

Mengapa Materialisme Belum Mampu Menjelaskan Kesadaran?

Kesadaran adalah sesuatu yang paling akrab bagi setiap manusia, tetapi justru menjadi salah satu teka-teki terbesar dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Kita mengetahui seperti apa rasanya melihat langit senja, merasakan sakit ketika terluka, jatuh cinta, atau menikmati secangkir kopi hangat. Pengalaman-pengalaman itu begitu nyata, bahkan lebih dekat daripada segala sesuatu yang dapat kita amati di luar diri.

Ironisnya, ketika sains modern mencoba menjelaskan bagaimana semua itu terjadi, muncul sebuah pertanyaan yang belum memperoleh jawaban yang disepakati: mengapa proses fisik di dalam otak disertai pengalaman subjektif? Pertanyaan inilah yang dikenal sebagai Hard Problem of Consciousness, salah satu perdebatan paling penting dalam filsafat pikiran kontemporer.

Keberhasilan Materialisme dalam Menjelaskan Otak

Sulit untuk menyangkal bahwa materialisme telah memberikan kontribusi luar biasa bagi ilmu pengetahuan modern. Melalui kemajuan neuroscience, psikologi kognitif, dan kecerdasan buatan, para ilmuwan kini memahami jauh lebih banyak tentang bagaimana otak bekerja dibandingkan beberapa dekade lalu.

Aktivitas neuron dapat dipetakan. Proses pembentukan memori mulai dipahami. Mekanisme perhatian, pengambilan keputusan, hingga bahasa juga semakin dapat dijelaskan melalui jaringan saraf dan pemrosesan informasi. Dalam banyak hal, pendekatan materialistik berhasil menunjukkan bahwa berbagai fungsi mental memiliki dasar biologis yang dapat diteliti secara empiris.

Selain itu, berbagai teori terus dikembangkan untuk menjelaskan hubungan antara otak dan pikiran. Teori identitas modern menganggap pengalaman mental identik dengan keadaan otak tertentu. Fungsionalisme memandang pikiran sebagai pola fungsi atau pemrosesan informasi, bukan sekadar bahan penyusunnya. Sementara itu, Global Workspace Theory, Integrated Information Theory, serta berbagai pendekatan neurokomputasional berusaha menjelaskan bagaimana aktivitas neural menghasilkan perilaku sadar.

Semua pendekatan tersebut memperkaya pemahaman kita mengenai mekanisme kerja otak. Namun, muncul pertanyaan yang tampaknya melampaui penjelasan mekanistis semata.

Consciousness is what makes the mind-body problem really intractable.
— David J. Chalmers

Ketika Penjelasan Mekanisme Belum Menjadi Penjelasan Pengalaman

Bayangkan seorang ilmuwan berhasil memetakan seluruh aktivitas otak seseorang yang sedang menikmati musik. Ia mengetahui neuron mana yang aktif, zat kimia apa yang dilepaskan, bahkan bagaimana sinyal listrik berpindah dari satu area otak ke area lainnya.

Pengetahuan itu sangat berharga. Akan tetapi, masih tersisa satu pertanyaan sederhana sekaligus mendalam: mengapa seluruh aktivitas tersebut terasa seperti mendengarkan musik?

Mengapa impuls listrik di dalam otak tidak hanya memproses informasi, tetapi juga menghadirkan pengalaman mendengar melodi yang indah? Mengapa rangkaian neuron mampu melahirkan rasa sakit, keharuan, aroma kopi, warna merah, atau kesadaran akan keberadaan diri sendiri?

Pertanyaan inilah yang disebut David Chalmers sebagai Hard Problem of Consciousness. Berbeda dengan persoalan tentang bagaimana otak bekerja, masalah ini mempertanyakan mengapa proses fisik itu memiliki dimensi pengalaman subjektif sama sekali.

Mungkin misteri terbesar bukanlah bahwa alam semesta dapat dipahami, melainkan bahwa ada seseorang yang mampu mengalaminya.
— David J. Chalmers

Mengapa Qualia Menjadi Tantangan?

Dalam filsafat pikiran, pengalaman subjektif sering disebut sebagai qualia. Istilah ini merujuk pada kualitas batin yang hanya dapat dialami dari sudut pandang orang pertama.

Tidak seorang pun dapat benar-benar mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang lain. Kita dapat mengukur panjang gelombang cahaya merah atau aktivitas neuron ketika seseorang melihat warna tersebut, tetapi pengukuran itu belum menjelaskan bagaimana “merasakan merah” dari dalam pengalaman itu sendiri.

Di sinilah letak kesenjangan yang sering disebut sebagai explanatory gap. Penjelasan ilmiah mengenai mekanisme otak tampaknya belum otomatis menjelaskan mengapa mekanisme tersebut disertai pengalaman sadar.

“Kesadaran adalah apa yang membuat persoalan hubungan pikiran dan tubuh menjadi benar-benar sukar dipecahkan.”

Mengapa Perdebatan Ini Masih Terbuka?

Hingga hari ini, belum ada teori materialis yang memperoleh konsensus luas sebagai jawaban final atas persoalan tersebut. Hal ini bukan berarti materialisme telah terbukti salah, melainkan menunjukkan bahwa persoalan kesadaran masih menjadi wilayah penelitian yang aktif sekaligus diperdebatkan.

Sebagian filsuf dan ilmuwan optimistis bahwa perkembangan neuroscience pada akhirnya akan menutup kesenjangan itu. Menurut pandangan ini, sebagaimana kehidupan dahulu tampak misterius sebelum biologi modern berkembang, pengalaman subjektif pun mungkin akan memperoleh penjelasan yang memadai ketika pemahaman tentang otak semakin lengkap.

Sebaliknya, sejumlah filsuf berpendapat bahwa persoalan ini menunjukkan adanya batas pada kerangka materialisme itu sendiri. Tokoh seperti Thomas Nagel, David Chalmers, Galen Strawson, dan Iain McGilchrist mengusulkan bahwa kesadaran mungkin bukan sekadar hasil sampingan aktivitas materi, melainkan aspek fundamental dari realitas yang memerlukan kerangka metafisika yang lebih luas.

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa diskusi mengenai kesadaran tidak lagi terbatas pada laboratorium neuroscience. Ia telah memasuki wilayah filsafat, ontologi, bahkan pertanyaan mendasar mengenai hakikat realitas.

Apakah Realitas Hanya Materi?

Pada akhirnya, perdebatan mengenai kesadaran membawa kita kepada pertanyaan yang jauh lebih besar daripada sekadar cara kerja otak.

Apakah seluruh realitas dapat direduksi menjadi partikel, energi, dan hukum fisika? Ataukah pengalaman sadar merupakan bagian mendasar dari struktur alam semesta yang tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui materi?

Pertanyaan ini belum memiliki jawaban yang diterima secara universal. Namun justru karena itulah diskusi tentang kesadaran menjadi salah satu medan intelektual paling menarik di abad ke-21. Di titik ini, ilmu pengetahuan dan filsafat tidak saling meniadakan, melainkan saling mendorong untuk memahami misteri terdalam tentang apa artinya menjadi manusia.

“Barangkali, kemajuan terbesar bukanlah ketika kita berhasil memetakan seluruh neuron di otak, melainkan ketika kita semakin memahami mengapa ada sesuatu yang terasa menjadi diri kita.”

B I B L I O

Chalmers, David J. The Conscious Mind: In Search of a Fundamental Theory. New York: Oxford University Press, 1996.

Dennett, Daniel C. Consciousness Explained. Boston: Little, Brown and Company, 1991.

Levine, Joseph. Purple Haze: The Puzzle of Consciousness. Oxford: Oxford University Press, 2001.

Nagel, Thomas. Mind and Cosmos: Why the Materialist Neo-Darwinian Conception of Nature Is Almost Certainly False. New York: Oxford University Press, 2012.

Tononi, Giulio. “Consciousness as Integrated Information: A Provisional Manifesto.” The Biological Bulletin 215, no. 3 (2008): 216–242.

Sayap yang Terlupa

“You were born with wings, why prefer to crawl through life?”
— Jalaluddin Rumi

“Kau dilahirkan dengan sayap; mengapa memilih merayap sepanjang hidup?”

“Kita adalah makhluk langit; mengapa membiarkan diri terkungkung dunia?”
— Haidar Bagir

Ketika masih kecil, kita sering melihat burung yang dipelihara di dalam sangkar.

Mula-mula burung itu gelisah.

Ia meloncat dari satu tenggeran ke tenggeran lain, mengepakkan sayap ke jeruji, seolah ada ingatan samar tentang langit yang tak bisa dijelaskan.

Tetapi waktu adalah guru yang aneh.

Lama-kelamaan, kegelisahan dapat berubah menjadi kebiasaan.

Burung itu tetap hidup.
Tetap makan.
Tetap bernyanyi.

Hanya saja, ia berhenti menabrakkan dirinya pada batas.

Mungkin demikian pula manusia.

Kita bangun pagi, memeriksa layar telepon, menghitung tagihan, mengejar pengakuan, menyusun rencana lima tahunan, cemas pada komentar orang lain, lalu tertidur dengan kelelahan yang sulit dinamai.

Tidak ada yang salah dengan bekerja, mencari nafkah, membangun rumah, atau mencintai dunia.

Dunia adalah tempat kita belajar menyentuh kenyataan.

Namun ada perbedaan halus antara menggunakan dunia sebagai jalan dan menjadikannya sebagai sangkar.

Sebab sesuatu dalam diri manusia selalu lebih luas daripada daftar kebutuhannya.

Ada saat-saat tertentu ketika keluasan itu mengetuk.

Ketika memandangi langit selepas hujan.

Ketika mendengar azan dari kejauhan.

Ketika menyaksikan kematian seseorang yang kita cintai.

Ketika berada di tengah keramaian tetapi tiba-tiba merasa asing.

Seolah ada suara pelan yang bertanya:

“Apakah hanya ini?”

Bukan karena hidup ini kurang.

Melainkan karena jiwa mengenali bahwa dirinya tidak diciptakan untuk berhenti pada yang sementara.

Tasawuf menyebut dunia sebagai dunyā—yang dekat, yang rendah.

Bukan untuk dibenci.

Tetapi agar tidak disalahpahami.

Tanah diperlukan untuk menumbuhkan akar.

Namun akar tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi seluruh nasib pohon.

Ia tumbuh justru agar suatu hari cabang-cabangnya menjangkau langit.

Mungkin itulah arti ucapan Rumi.

Kita dilahirkan dengan sayap.

Bukan sayap yang membuat kita bebas dari kesedihan, kegagalan, atau kehilangan.

Melainkan kemampuan untuk melampaui semuanya tanpa kehilangan kemanusiaan.

Kemampuan mencintai tanpa memiliki.

Bersyukur tanpa menggenggam.

Berjalan di bumi tanpa melupakan langit.

Sebab yang paling tragis bukanlah jatuh.

Yang paling tragis adalah terbiasa merangkak, lalu menyebutnya kodrat.

Ada orang-orang yang begitu lama hidup di dalam sangkar ketakutan sehingga lupa bahwa pintunya tidak pernah terkunci.

Ada yang mengira dirinya hanyalah pekerjaannya.

Ada yang mengira dirinya hanyalah jumlah pengikutnya.

Ada yang mengira dirinya hanyalah luka masa lalunya.

Padahal identitas terdalam manusia selalu lebih luas daripada apa pun yang bisa hilang darinya.

Kita bukan makhluk bumi yang sesekali merindukan langit.

Barangkali kita adalah peziarah langit yang sedang belajar berjalan di bumi.

Dan setiap kerinduan yang tak dapat dijelaskan itu hanyalah ingatan yang mengetuk pelan dari rumah yang pernah kita kenal.

Aforisme kecilnya mungkin begini:

Jiwa tidak selalu kehilangan arah karena tersesat; kadang ia hanya lupa bahwa dirinya bersayap.

Maka tugas hidup bukan pertama-tama berlari lebih cepat.

Bukan menambah lebih banyak.

Bukan membuktikan lebih keras.

Kadang tugas itu sesederhana berhenti sejenak, mendengar kembali kegelisahan yang selama ini kita bungkam, lalu bertanya dengan jujur:

Apa yang membuat sayapku tetap terlipat?

Dan keberanian kecil apa yang hari ini dapat membantuku membukanya sedikit demi sedikit?

Barangkali terbang tidak selalu berarti meninggalkan bumi.

Barangkali terbang berarti menjalani kehidupan sehari-hari dengan ingatan yang utuh tentang siapa diri kita.

Membeli beras, mengantar anak ke sekolah, menyelesaikan pekerjaan, merawat orang tua, mencintai pasangan—namun tidak menyerahkan seluruh jiwa kepada yang fana.

Sebab manusia memang diciptakan dari tanah.

Tetapi ia juga ditiupkan rahasia langit.

Kita membutuhkan keduanya.

Tanah untuk berpijak.

Langit untuk mengingat ke mana hati ingin pulang.

Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:

“Seberapa tinggi aku telah terbang?”

Melainkan:

“Sayap apa dalam diriku yang selama ini kuterlipat sendiri?”

Lalu, dalam keheningan yang tidak tergesa-gesa, dengarkan apakah masih ada desir halus yang memanggilmu pulang.

B I B L I O

Bagir, Haidar. Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi. Bandung: Mizan, 2015.

Nasr, Seyyed Hossein. The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. New York: HarperOne, 2007.

Plato. Meno. Translated by G. M. A. Grube. Indianapolis: Hackett Publishing, 1981.

Rumi, Jalaluddin. The Essential Rumi. Translated by Coleman Barks. New York: HarperCollins, 1995.

Augustine. Confessions. Translated by Henry Chadwick. Oxford: Oxford University Press, 1991.

Bunga Majemuk Jiwa

Aḥabbul-a‘māli ilallāhi adwamuhā wa in qalla.
— Nabi Muhammad ﷺ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.”

“The heart is like a mirror. Every act leaves a trace upon it.”
— Abu Hamid Al-Ghazali

“Hati laksana cermin. Setiap perbuatan meninggalkan bekas padanya.”

Aku pernah mengira hidup berubah karena petir.

Karena satu keputusan besar.
Satu keberanian yang meledak.
Satu malam ketika langit terbuka dan segala sesuatu menjadi jelas.

Tetapi usia mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Gunung tidak lahir dari satu batu.
Laut tidak penuh oleh satu sungai.
Dan jiwa tidak dibentuk oleh satu peristiwa.

Ia dibentuk oleh apa yang berulang.

Takdir sering kali hanyalah kebiasaan yang diberi waktu.

Setiap pagi seseorang memilih untuk bangun atau menunda.
Memaafkan atau menyimpan luka.
Bersyukur atau mengeluh.
Mengingat atau melupakan.

Pilihan-pilihan itu begitu kecil sehingga nyaris tak terlihat.

Seperti benih yang tertidur di dalam tanah,
ia tampak tidak melakukan apa-apa.

Padahal kehidupan sedang bekerja diam-diam.

Yang paling kuat dalam hidup sering kali adalah yang paling sunyi.

Karena itu kita sering salah membaca waktu.

Kita menanam hari ini,
lalu kecewa karena esok belum menjadi hutan.

Kita berbuat baik sekali,
lalu bertanya mengapa dunia belum berubah.

Kita lupa bahwa matahari pun membutuhkan pagi-pagi yang tak terhitung
sebelum musim berganti.

Kebaikan bekerja seperti akar.

Tidak tergesa-gesa.
Tidak memamerkan diri.
Tetapi perlahan menyiapkan pohon bagi langit yang belum datang.

Apa yang tidak terlihat bukan berarti tidak bertumbuh.

Mungkin itulah sebabnya Nabi mengajarkan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit.

Bukan karena Tuhan memerlukan banyaknya perbuatan.

Melainkan karena pengulangan mengungkapkan arah hati.

Seseorang dapat berlari karena semangat.
Tetapi hanya cinta yang membuatnya terus berjalan.

Yang sesekali menunjukkan kemampuan.
Yang konsisten menunjukkan siapa diri kita.

Lalu aku melihat sisi lainnya.

Ternyata kerusakan juga tumbuh dengan cara yang sama.

Tidak ada pohon yang tumbang dalam sehari.

Ia mulai dari retakan kecil yang dibiarkan.
Dari rayap yang tak dianggap.
Dari musim-musim yang tak diperhatikan.

Begitu pula jiwa.

Satu kesombongan kecil.
Satu kebohongan yang dimaklumi.
Satu kemarahan yang dipelihara.

Mula-mula hanya tamu.

Lalu menjadi penghuni.

Kemudian menjadi tuan rumah.

Tidak semua penjara dibangun oleh rantai; sebagian dibangun oleh kebiasaan.

Maka pahala dan dosa tampaknya memiliki rahasia yang sama.

Keduanya menyukai pengulangan.

Keduanya tumbuh dari hal-hal kecil.

Keduanya menunggu dengan sabar.

Setetes demi setetes.

Hari demi hari.

Hingga manusia akhirnya menjadi apa yang selama ini ia lakukan.

Jiwa adalah arsip dari tindakan yang berulang.

Namun di titik inilah langit berbeda dari matematika.

Bunga majemuk mengenal angka.
Rahmat mengenal kemungkinan.

Dalam hitungan manusia,
kerugian yang bertahun-tahun terkumpul membutuhkan tahun-tahun lain untuk diperbaiki.

Tetapi dalam rahasia Tuhan,
satu taubat yang sungguh-sungguh dapat mengubah arah perjalanan.

Seperti kapal yang lama hanyut,
lalu menemukan kembali bintangnya.

Seperti musafir yang tersesat,
lalu melihat cahaya di kejauhan.

Rahmat adalah tempat di mana perhitungan berakhir dan harapan dimulai.

Kini aku tidak lagi mencari petir.

Aku lebih memperhatikan tetesan.

Satu halaman yang dibaca.
Satu doa yang diulang.
Satu kebaikan yang mungkin tidak dilihat siapa pun.

Karena aku mulai memahami sesuatu:

Bahwa kehidupan jarang berubah oleh satu ledakan besar.

Ia berubah oleh ribuan langkah kecil
yang cukup sabar untuk terus berjalan.

Dunia dibentuk oleh peristiwa besar; jiwa dibentuk oleh kebiasaan kecil.

Dan mungkin,
di hadapan Tuhan maupun waktu,
yang paling menentukan bukanlah seberapa tinggi kita pernah melompat,

melainkan ke mana kaki kita setia melangkah,
hari demi hari,
hingga akhir.

“Attention is the rarest and purest form of generosity.”
— Simone Weil

“Perhatian adalah bentuk kemurahan hati yang paling langka dan paling murni.”

“What you seek is seeking you.”
— Jalaluddin Rumi

“Apa yang engkau cari, sedang mencarimu.”

Jiwa tidak dibentuk oleh momen-momen besar yang sesekali datang, melainkan oleh hal-hal kecil yang kita izinkan tinggal.

B I B L I O

Aristotle. Nicomachean Ethics. Trans. Terence Irwin. Indianapolis: Hackett Publishing, 1999.

Api yang Tidak Membakar

“The wound is the place where the Light enters you.”
— Rumi

“Luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu.”

“O fire, be coolness and safety upon Abraham.”
— Al-Qur’an 21:69

“Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.”

Suatu hari kita menyadari bahwa tubuh ini adalah sebuah tungku.

Mula-mula kesadaran itu datang diam-diam.

Ketika melihat rambut pertama yang memutih.

Ketika bangun pagi dan lutut tidak lagi secepat dulu.

Ketika orang yang kita cintai pergi tanpa bisa dicegah.

Ketika sebuah cita-cita yang kita rawat bertahun-tahun runtuh hanya dalam beberapa minggu.

Pada saat-saat seperti itu, kita mulai merasakan panas.

Api kehidupan sedang bekerja.

Sering kali kita mengira penderitaan datang untuk menghancurkan kita.

Karena itulah kita melawan.

Kita menambal retakan.

Mengecat ulang dinding yang mulai lapuk.

Mengumpulkan kembali puing-puing identitas yang tercerai-berai.

Kita berkata: aku pekerjaanku.

Aku reputasiku.

Aku keberhasilanku.

Aku peranku di mata orang lain.

Lalu kehidupan, dengan kesabaran seorang pandai besi tua, memasukkan semuanya ke dalam tungku.

Api tidak pernah berdebat.

Ia hanya membakar.

Ada sebuah kisah tua tentang Ibrahim.

Tentang seorang manusia yang dilemparkan ke dalam kobaran api.

Kisah itu sering dibaca sebagai mukjizat.

Dan memang demikian.

Tetapi di dalam setiap kisah besar selalu ada lorong lain yang mengarah ke dalam diri manusia.

Mungkin karena setiap manusia, pada waktunya, juga akan dilemparkan ke dalam api.

Bukan api kayu.

Bukan api batu bara.

Melainkan api kehilangan.

Api penolakan.

Api kesepian.

Api kegagalan.

Api yang membuat kita bertanya:

“Jika semua yang kuanggap diriku lenyap, siapa aku sebenarnya?”

Pertanyaan itu lebih panas daripada nyala mana pun.

“Tidak semua yang terbakar adalah kerugian. Kadang yang terbakar hanyalah kesalahpahaman tentang diri sendiri.”

Dalam tungku, logam yang murni tidak diciptakan oleh api.

Api hanya menyingkapkannya.

Yang hilang adalah kerak.

Yang luruh adalah campuran.

Yang gugur adalah sesuatu yang sejak awal bukan inti.

Mungkin demikian pula manusia.

Barangkali kehidupan tidak sedang berusaha mengubah kita menjadi orang lain.

Barangkali ia sedang berusaha memperlihatkan siapa kita sebelum segala topeng dikenakan.

Rumi menyebutnya pemurnian.

Para sufi menyebutnya penyucian hati.

Para filsuf eksistensial berbicara tentang krisis yang memaksa manusia berjumpa dengan dirinya sendiri.

Bahasanya berbeda.

Tetapi mereka seperti berdiri mengelilingi tungku yang sama.

Mengamati api yang sama.

Menunggu sesuatu yang sama.

Api kehidupan tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya mengambil semua jawaban yang palsu.

Tubuh ini terus menjadi tungku.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Setiap kegembiraan dan kesedihan menjadi kayu bakar yang dilemparkan ke dalam nyala.

Kita tidak keluar dari kehidupan sebagai orang yang sama ketika memasukinya.

Sesuatu selalu berubah.

Sesuatu selalu dilepaskan.

Sesuatu selalu dimurnikan.

Dan mungkin di situlah makna terdalam alegori Ibrahim.

Mukjizat terbesar bukanlah bahwa ia keluar dari api.

Melainkan bahwa api tidak menemukan apa pun dalam dirinya yang dapat dimusnahkan.

Karena yang hakiki tidak terbuat dari bahan yang dapat dibakar.

Barangkali seluruh hidup adalah perjalanan menuju penemuan itu.

Bahwa yang kita takutkan hilang ternyata memang harus hilang.

Dan yang tidak pernah kita sadari sebagai diri kita, justru tetap tinggal setelah semuanya pergi.

Maka mungkin pertanyaannya bukan:

“Bagaimana caranya menghindari api?”

Melainkan:

“Apa dalam diriku yang akan tetap ada ketika api selesai bekerja?”

Pada akhirnya,
setiap manusia akan bertemu apinya sendiri.
Dan ketika nyala itu selesai berbicara,
mungkin pertanyaannya bukan:
“Apa yang hilang dariku?”
melainkan:
“Apa yang tetap tinggal?”

B I B L I O

Jika ingin berjalan jauh, orang-orang ini akan jadi teman yang baik dan satu kitab yang luar biasa, Qu’ran:

Al-Ghazali. The Alchemy of Happiness. Louisville: Fons Vitae, 1995.
Heidegger. Discourse on Thinking. New York: Harper & Row, 1966.
Kierkegaard. The Sickness Unto Death. London: Penguin Classics, 1989.
Rumi. The Essential Rumi. Trans. Coleman Barks. New York: HarperOne, 2004.

The Qur’an, 21:69.