Api yang Tidak Membakar
“The wound is the place where the Light enters you.”
— Rumi
“Luka adalah tempat di mana Cahaya memasukimu.”
“O fire, be coolness and safety upon Abraham.”
— Al-Qur’an 21:69
“Wahai api, jadilah dingin dan penyelamat bagi Ibrahim.”
Suatu hari kita menyadari bahwa tubuh ini adalah sebuah tungku.
Mula-mula kesadaran itu datang diam-diam.
Ketika melihat rambut pertama yang memutih.
Ketika bangun pagi dan lutut tidak lagi secepat dulu.
Ketika orang yang kita cintai pergi tanpa bisa dicegah.
Ketika sebuah cita-cita yang kita rawat bertahun-tahun runtuh hanya dalam beberapa minggu.
Pada saat-saat seperti itu, kita mulai merasakan panas.
Api kehidupan sedang bekerja.
Sering kali kita mengira penderitaan datang untuk menghancurkan kita.
Karena itulah kita melawan.
Kita menambal retakan.
Mengecat ulang dinding yang mulai lapuk.
Mengumpulkan kembali puing-puing identitas yang tercerai-berai.
Kita berkata: aku pekerjaanku.
Aku reputasiku.
Aku keberhasilanku.
Aku peranku di mata orang lain.
Lalu kehidupan, dengan kesabaran seorang pandai besi tua, memasukkan semuanya ke dalam tungku.
Api tidak pernah berdebat.
Ia hanya membakar.
–
Ada sebuah kisah tua tentang Ibrahim.
Tentang seorang manusia yang dilemparkan ke dalam kobaran api.
Kisah itu sering dibaca sebagai mukjizat.
Dan memang demikian.
Tetapi di dalam setiap kisah besar selalu ada lorong lain yang mengarah ke dalam diri manusia.
Mungkin karena setiap manusia, pada waktunya, juga akan dilemparkan ke dalam api.
Bukan api kayu.
Bukan api batu bara.
Melainkan api kehilangan.
Api penolakan.
Api kesepian.
Api kegagalan.
Api yang membuat kita bertanya:
“Jika semua yang kuanggap diriku lenyap, siapa aku sebenarnya?”
Pertanyaan itu lebih panas daripada nyala mana pun.
“Tidak semua yang terbakar adalah kerugian. Kadang yang terbakar hanyalah kesalahpahaman tentang diri sendiri.”
–
Dalam tungku, logam yang murni tidak diciptakan oleh api.
Api hanya menyingkapkannya.
Yang hilang adalah kerak.
Yang luruh adalah campuran.
Yang gugur adalah sesuatu yang sejak awal bukan inti.
Mungkin demikian pula manusia.
Barangkali kehidupan tidak sedang berusaha mengubah kita menjadi orang lain.
Barangkali ia sedang berusaha memperlihatkan siapa kita sebelum segala topeng dikenakan.
Rumi menyebutnya pemurnian.
Para sufi menyebutnya penyucian hati.
Para filsuf eksistensial berbicara tentang krisis yang memaksa manusia berjumpa dengan dirinya sendiri.
Bahasanya berbeda.
Tetapi mereka seperti berdiri mengelilingi tungku yang sama.
Mengamati api yang sama.
Menunggu sesuatu yang sama.
Api kehidupan tidak selalu memberi jawaban. Kadang ia hanya mengambil semua jawaban yang palsu.
–
Tubuh ini terus menjadi tungku.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Setiap kegembiraan dan kesedihan menjadi kayu bakar yang dilemparkan ke dalam nyala.
Kita tidak keluar dari kehidupan sebagai orang yang sama ketika memasukinya.
Sesuatu selalu berubah.
Sesuatu selalu dilepaskan.
Sesuatu selalu dimurnikan.
Dan mungkin di situlah makna terdalam alegori Ibrahim.
Mukjizat terbesar bukanlah bahwa ia keluar dari api.
Melainkan bahwa api tidak menemukan apa pun dalam dirinya yang dapat dimusnahkan.
Karena yang hakiki tidak terbuat dari bahan yang dapat dibakar.
–
Barangkali seluruh hidup adalah perjalanan menuju penemuan itu.
Bahwa yang kita takutkan hilang ternyata memang harus hilang.
Dan yang tidak pernah kita sadari sebagai diri kita, justru tetap tinggal setelah semuanya pergi.
Maka mungkin pertanyaannya bukan:
“Bagaimana caranya menghindari api?”
Melainkan:
“Apa dalam diriku yang akan tetap ada ketika api selesai bekerja?”
–
Pada akhirnya,
setiap manusia akan bertemu apinya sendiri.
Dan ketika nyala itu selesai berbicara,
mungkin pertanyaannya bukan:
“Apa yang hilang dariku?”
melainkan:
“Apa yang tetap tinggal?”
B I B L I O
Jika ingin berjalan jauh, orang-orang ini akan jadi teman yang baik dan satu kitab yang luar biasa, Qu’ran:
Al-Ghazali. The Alchemy of Happiness. Louisville: Fons Vitae, 1995.
Heidegger. Discourse on Thinking. New York: Harper & Row, 1966.
Kierkegaard. The Sickness Unto Death. London: Penguin Classics, 1989.
Rumi. The Essential Rumi. Trans. Coleman Barks. New York: HarperOne, 2004.
The Qur’an, 21:69.


Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!