Sayap yang Terlupa

“You were born with wings, why prefer to crawl through life?”
— Jalaluddin Rumi

“Kau dilahirkan dengan sayap; mengapa memilih merayap sepanjang hidup?”

“Kita adalah makhluk langit; mengapa membiarkan diri terkungkung dunia?”
— Haidar Bagir

Ketika masih kecil, kita sering melihat burung yang dipelihara di dalam sangkar.

Mula-mula burung itu gelisah.

Ia meloncat dari satu tenggeran ke tenggeran lain, mengepakkan sayap ke jeruji, seolah ada ingatan samar tentang langit yang tak bisa dijelaskan.

Tetapi waktu adalah guru yang aneh.

Lama-kelamaan, kegelisahan dapat berubah menjadi kebiasaan.

Burung itu tetap hidup.
Tetap makan.
Tetap bernyanyi.

Hanya saja, ia berhenti menabrakkan dirinya pada batas.

Mungkin demikian pula manusia.

Kita bangun pagi, memeriksa layar telepon, menghitung tagihan, mengejar pengakuan, menyusun rencana lima tahunan, cemas pada komentar orang lain, lalu tertidur dengan kelelahan yang sulit dinamai.

Tidak ada yang salah dengan bekerja, mencari nafkah, membangun rumah, atau mencintai dunia.

Dunia adalah tempat kita belajar menyentuh kenyataan.

Namun ada perbedaan halus antara menggunakan dunia sebagai jalan dan menjadikannya sebagai sangkar.

Sebab sesuatu dalam diri manusia selalu lebih luas daripada daftar kebutuhannya.

Ada saat-saat tertentu ketika keluasan itu mengetuk.

Ketika memandangi langit selepas hujan.

Ketika mendengar azan dari kejauhan.

Ketika menyaksikan kematian seseorang yang kita cintai.

Ketika berada di tengah keramaian tetapi tiba-tiba merasa asing.

Seolah ada suara pelan yang bertanya:

“Apakah hanya ini?”

Bukan karena hidup ini kurang.

Melainkan karena jiwa mengenali bahwa dirinya tidak diciptakan untuk berhenti pada yang sementara.

Tasawuf menyebut dunia sebagai dunyā—yang dekat, yang rendah.

Bukan untuk dibenci.

Tetapi agar tidak disalahpahami.

Tanah diperlukan untuk menumbuhkan akar.

Namun akar tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi seluruh nasib pohon.

Ia tumbuh justru agar suatu hari cabang-cabangnya menjangkau langit.

Mungkin itulah arti ucapan Rumi.

Kita dilahirkan dengan sayap.

Bukan sayap yang membuat kita bebas dari kesedihan, kegagalan, atau kehilangan.

Melainkan kemampuan untuk melampaui semuanya tanpa kehilangan kemanusiaan.

Kemampuan mencintai tanpa memiliki.

Bersyukur tanpa menggenggam.

Berjalan di bumi tanpa melupakan langit.

Sebab yang paling tragis bukanlah jatuh.

Yang paling tragis adalah terbiasa merangkak, lalu menyebutnya kodrat.

Ada orang-orang yang begitu lama hidup di dalam sangkar ketakutan sehingga lupa bahwa pintunya tidak pernah terkunci.

Ada yang mengira dirinya hanyalah pekerjaannya.

Ada yang mengira dirinya hanyalah jumlah pengikutnya.

Ada yang mengira dirinya hanyalah luka masa lalunya.

Padahal identitas terdalam manusia selalu lebih luas daripada apa pun yang bisa hilang darinya.

Kita bukan makhluk bumi yang sesekali merindukan langit.

Barangkali kita adalah peziarah langit yang sedang belajar berjalan di bumi.

Dan setiap kerinduan yang tak dapat dijelaskan itu hanyalah ingatan yang mengetuk pelan dari rumah yang pernah kita kenal.

Aforisme kecilnya mungkin begini:

Jiwa tidak selalu kehilangan arah karena tersesat; kadang ia hanya lupa bahwa dirinya bersayap.

Maka tugas hidup bukan pertama-tama berlari lebih cepat.

Bukan menambah lebih banyak.

Bukan membuktikan lebih keras.

Kadang tugas itu sesederhana berhenti sejenak, mendengar kembali kegelisahan yang selama ini kita bungkam, lalu bertanya dengan jujur:

Apa yang membuat sayapku tetap terlipat?

Dan keberanian kecil apa yang hari ini dapat membantuku membukanya sedikit demi sedikit?

Barangkali terbang tidak selalu berarti meninggalkan bumi.

Barangkali terbang berarti menjalani kehidupan sehari-hari dengan ingatan yang utuh tentang siapa diri kita.

Membeli beras, mengantar anak ke sekolah, menyelesaikan pekerjaan, merawat orang tua, mencintai pasangan—namun tidak menyerahkan seluruh jiwa kepada yang fana.

Sebab manusia memang diciptakan dari tanah.

Tetapi ia juga ditiupkan rahasia langit.

Kita membutuhkan keduanya.

Tanah untuk berpijak.

Langit untuk mengingat ke mana hati ingin pulang.

Mungkin pertanyaan terpenting bukanlah:

“Seberapa tinggi aku telah terbang?”

Melainkan:

“Sayap apa dalam diriku yang selama ini kuterlipat sendiri?”

Lalu, dalam keheningan yang tidak tergesa-gesa, dengarkan apakah masih ada desir halus yang memanggilmu pulang.

B I B L I O

Bagir, Haidar. Semesta Cinta: Pengantar kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi. Bandung: Mizan, 2015.

Nasr, Seyyed Hossein. The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. New York: HarperOne, 2007.

Plato. Meno. Translated by G. M. A. Grube. Indianapolis: Hackett Publishing, 1981.

Rumi, Jalaluddin. The Essential Rumi. Translated by Coleman Barks. New York: HarperCollins, 1995.

Augustine. Confessions. Translated by Henry Chadwick. Oxford: Oxford University Press, 1991.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *