Ihdinas-Siratal Mustaqim

Ayat “Ihdinas-siratal mustaqim” (Tunjukilah kami jalan yang lurus) dalam Surat Al-Fatihah adalah inti spiritual dari hubungan manusia dengan Tuhan.

Ayat ini bukan sekadar permintaan petunjuk, melainkan permohonan eksistensial yang mencerminkan perjalanan jiwa menuju kesempurnaan.

Tafsiran Filosofis

Dalam kerangka filsafat Islam, khususnya hikmah muta’aliyah (filsafat transenden), ayat ini bisa dilihat sebagai:

1. Permohonan untuk kesempurnaan wujud

“Sirat al-mustaqim” bukan hanya jalan moral atau sosial, tapi jalan ontologis—jalan menuju kesempurnaan eksistensi. Manusia, sebagai makhluk rasional dan spiritual, memohon agar dituntun dari wujud rendah (materi) menuju wujud tinggi (spiritual dan ilahi). Jadi, doa ini adalah permohonan untuk transformasi ontologis, bukan sekadar etika.

2. Petunjuk sebagai pancaran cahaya Ilahi

Hidayah dalam ayat ini dipahami sebagai nur (cahaya) yang memancar dari Tuhan ke dalam hati manusia. Jalan lurus adalah jalan yang mengarah langsung kepada Tuhan, tanpa penyimpangan, tanpa hijab. Dalam filsafat, ini disebut sebagai jalan tauhid, di mana segala sesuatu kembali kepada asalnya: Allah.

Tafsiran Irfani (Spiritual-Mistik)

Allamah Thabathabai juga dikenal sebagai seorang arif (sufi-filosof), dan dalam pendekatan irfani melihat, ayat ini memiliki makna yang lebih dalam:

1. Sirat sebagai jalan suluk (spiritual journey)

“Sirat al-mustaqim” adalah jalan para salik (penempuh jalan spiritual) menuju fana’ (lenyapnya ego) dan baqa’ (kekekalan bersama Tuhan). Doa ini adalah permohonan untuk dibimbing dalam perjalanan batin, melewati maqamat (tahapan spiritual) hingga mencapai ma’rifah (pengetahuan langsung tentang Tuhan).

2. Hidayah sebagai tajalli (manifestasi Tuhan)

Hidayah bukan hanya informasi atau arahan, tapi penyingkapan hakikat. Dalam irfan, hidayah berarti dibukakan tabir, sehingga hamba bisa melihat realitas Ilahi dalam segala sesuatu. Maka, doa ini adalah permohonan agar mata hati terbuka, bukan hanya pikiran.

“Ihdinas-siratal mustaqim” adalah permohonan total: akal, hati, dan ruh bersatu dalam satu seruan kepada Tuhan agar dituntun menuju hakikat tertinggi.

Memohon Kasih Sayang

Menyebut Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm dalam doa atau basmalah bukan sekadar pujian, tapi juga permohonan implisit agar Allah melimpahkan kasih sayang-Nya.

Barangsiapa membaca Bismillāh al-Raḥmān al-Raḥīm, maka Allah akan memberkahi setiap langkahnya. Yang menggambarkan makna hadis.

Hadis Nabi ﷺ:

“Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan Bismillāh, maka ia abtar (kurang berkah).” (HR. Abu Dawud, al-Bayhaqī).

Ini menunjukkan bahwa kalimat itu sendiri adalah doa, permohonan rahmat yang meliputi kehidupan dunia (rahmat umum) dan akhirat (rahmat khusus).

Namun, kita terbiasa mengucapkan “Bismillah” sebelum memulai sesuatu, tapi sekadar refleks verbal, tanpa hadirnya hati.

Ini paradoks, karena doa yang seharusnya menjadi penghubung dengan Allah, justru jadi ritual otomatis tanpa kesadaran.

Tentu saja hilangnya ruh doa. Ucapan Bismillah seharusnya menghubungkan hati dengan Allah. Kalau hanya verbal, doa jadi kering tanpa makna.

Dan berkah berkurang. Para ulama menafsirkan hadis abtar sebagai kurang berkah. Artinya, amal yang dimulai dengan basmalah tanpa kesadaran hati bisa tidak menghasilkan keberkahan maksimal.

Adanya tumpang tindih antara doa dan maksiat yang bikin “perih”. Orang bisa saja berkata Bismillah sebelum melakukan hal yang salah, karena tidak ada kesadaran penuh. Ini menimbulkan kontradiksi moral.

Ar-Raḥmān Ar-Raḥīm

Kedua sifat ini sama-sama berasal dari akar kata raḥmah (rahmat) yang berarti kasih sayang. Namun, penggunaannya berbeda:

Ar-Raḥmān, menunjukkan rahmat Allah yang universal dan meliputi semua makhluk, baik mukmin maupun kafir, di dunia ini. Dan Ar-Raḥīm, menunjukkan rahmat Allah yang khusus, intens, dan berkelanjutan, terutama bagi hamba-hamba beriman di akhirat.

QS. Al-A‘rāf: 156

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu, maka akan Aku tetapkan rahmat itu bagi orang-orang yang bertakwa, menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.”

Notes:

Hadis dengan redaksi:

“Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan (ucapan) Bismillāh, maka urusan itu terputus (kurang berkah, tidak sempurna)” diriwayatkan oleh Abū Dāwud dalam Sunan Abī Dāwūd, Kitāb al-Adab, no. 4940; al-Bayhaqī dalam al-Sunan al-Kubrā (10/118); dan Ibn Ḥibbān dalam Ṣaḥīḥ Ibn Ḥibbān (3/239).

Hadis ini dinilai ḍa‘īf karena keterputusan sanad, namun diperkuat oleh jalur lain sehingga sebagian ulama menilainya ḥasan li-ghayrih.

Ungkapan populer “Barangsiapa membaca Bismillāh al-Raḥmān al-Raḥīm, maka Allah akan memberkahi setiap langkahnya” bukan redaksi hadis, melainkan penyederhanaan makna dari riwayat di atas dan riwayat-riwayat lain tentang keutamaan basmalah.

Alhamdulillah

Ucapan Alḥamdulillāh mencerminkan pengakuan terdalam bahwa segala bentuk pujian yang hakiki hanya milik Allah. Pujian dalam arti ḥamd bukan sekadar ucapan syukur atas nikmat, tetapi lebih luas: ia adalah pengakuan atas kesempurnaan mutlak yang ada pada Allah.

Semua kesempurnaan yang tampak pada makhluk hanyalah pancaran dan cerminan dari kesempurnaan-Nya. Maka, ketika manusia mengucapkan Alḥamdulillāh, sesungguhnya ia sedang mengakui bahwa tidak ada sumber kesempurnaan selain Allah, dan seluruh kebaikan yang terlihat di alam hanyalah perantara dari kemurahan-Nya.

“Alḥamdulillāh bukan sekadar ucapan, tapi harus dibuktikan dengan amal. Jika kita memuji Allah atas nikmat, maka gunakan nikmat itu sesuai kehendak-Nya.”
— al-Rāzī

Pujian sejati tidak boleh berhenti pada makhluk, sebab makhluk tidak memiliki kesempurnaan secara independen. Segala nikmat, baik berupa kehidupan, ilmu, keindahan, maupun kekuatan, hakikatnya bersumber dari Allah.

Dengan demikian, Alḥamdulillāh bukan hanya ekspresi rasa syukur, melainkan sebuah deklarasi tauhid yang mengikat hati, akal, dan lisan untuk kembali kepada Allah sebagai satu-satunya yang layak dipuji secara mutlak.

Masa Depan itu Diciptakan

Masa depan bukan untuk ditunggu, melainkan harus kita rancang dengan penuh kesadaran dan usaha. Langkah kecil yang kita lakukan hari ini adalah pondasi yang menentukan arah hidup kita esok hari. “The best way to predict the future is to create it.” Kunci keberhasilan bukan sekadar pada ramalan, melainkan pada tindakan nyata yang kita lakukan.

Prinsip ini sejalan dengan semangat banyak tokoh dunia yang menekankan pentingnya kerja keras dan tanggung jawab. Misalnya, Mahatma Gandhi pernah berkata, “The future depends on what you do today” atau dalam bahasa Indonesia, “Masa depan bergantung pada apa yang kamu lakukan hari ini.”

Cara terbaik untuk memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya.
– Peter Drucker

Dari sini kita belajar bahwa masa depan bukanlah hasil kebetulan, melainkan buah dari usaha yang konsisten dan keputusan yang kita ambil saat ini. Sikap disiplin, kerja keras, dan keberanian mengambil risiko akan membawa kita menuju masa depan yang lebih baik.

Islam juga menekankan pentingnya usaha dalam meraih masa depan. “Jika kiamat telah tiba sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka tanamlah ia.” (HR. Ahmad). Sekecil apa pun amal usaha, jika dilakukan dengan niat yang benar, tetap memiliki nilai besar.

Maka, menciptakan masa depan bukan hanya urusan duniawi, melainkan juga ibadah yang bernilai di sisi Allah. Dengan bekerja keras, berdoa, dan bertawakal, kita bukan hanya menciptakan masa depan bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.

Tuhan Itu Dekat, Kitalah yang Menciptakan Jarak

Sesungguhnya Tuhan itu tidak pernah jauh. Ia lebih dekat dari urat leher kita, lebih halus dari bisikan hati, lebih peka dari suara yang tak terucap. Yang menciptakan jarak bukan Dia—melainkan kita, dengan kelalaian, keraguan, dan kesibukan yang menjauhkan ruh dari sumbernya.

Kedekatan Tuhan bukan sekadar metafora, tapi realitas yang bisa dirasakan oleh hati yang jernih. Bahkan sebelum lidah bergerak, sebelum suara terbentuk, Dia sudah tahu. Ia mendengar yang tak terdengar, melihat yang tak tampak, dan memahami yang belum sempat kita pahami.

Dalam sunyi, dalam tangis yang tak bersuara, dalam doa yang hanya berupa getaran jiwa—di sanalah Tuhan paling dekat.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

“Sesungguhnya sebaik-baik iman adalah engkau mengetahui bahwa Allah bersamamu di mana pun engkau berada.” (HR. Thabrani – Shahih)

“Yang kalian seru adalah Rabb yang lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian daripada urat leher unta tunggangan kalian.” (HR. Muslim no. 2704)

Kedekatan Tuhan bukan soal ruang, tapi kesadaran. Ia tidak menunggu kita berseru keras, cukup kita hadir sepenuhnya. Karena dalam diam pun, Dia mendengar. Dalam gelisah pun, Dia tahu. Dan dalam kembali, Dia menyambut.

Penulis Transkrip

Penulis transkrip adalah seseorang yang mengubah audio atau video menjadi teks tertulis. Pekerjaan ini dibutuhkan di berbagai industri—mulai dari media, hukum, kesehatan, hingga pendidikan. Transkrip membantu dokumentasi, analisis, dan aksesibilitas konten.

Ada dua jenis utama. Transkripsi umum: Podcast, wawancara, konten YouTube dan transkripsi khusus: Medis, hukum, atau teknis—memerlukan pengetahuan bidang tertentu.

Bagaimana Memulainya?

Langkah awal menjadi penulis transkrip:

1. Siapkan alat kerja: Laptop/PC, headset berkualitas, software transkripsi (misalnya: oTranscribe, Express Scribe)
2. Latihan mendengarkan dan mengetik cepat. Gunakan video YouTube atau podcast untuk latihan mandiri.
3. Daftar di platform freelance. Rev, TranscribeMe, GoTranscript, atau Sribulancer untuk pasar lokal.
4. Bangun portofolio. Mulai dari proyek kecil, lalu kumpulkan testimoni dan contoh hasil kerja.

Tips Kerja

Agar sukses sebagai penulis transkrip perlu gunakan shortcut keyboard untuk efisiensi, latih kecepatan mengetik dan akurasi. Perhatikan detail: ejaan, tanda baca, dan konteks. Pelajari istilah teknis jika masuk ke niche tertentu. Dan jaga stamina mental—transkripsi bisa melelahkan jika tidak diatur.

1. Gunakan Shortcut Keyboard untuk Efisiensi

Dalam dunia transkripsi, waktu adalah aset. Shortcut keyboard seperti play/pause (F9), rewind (F7), atau insert timestamp bisa memangkas detik-detik berharga. Shortcut bukan sekadar trik—ia adalah alat navigasi dalam medan suara yang kompleks.

2. Latih Kecepatan Mengetik dan Akurasi

Transkripsi bukan lomba mengetik cepat, tapi seni menangkap makna dengan presisi. Dalam transkripsi, kecepatan mempercepat pendapatan, tapi akurasi menjaga reputasi.

3. Perhatikan Detail: Ejaan, Tanda Baca, dan Konteks

Satu koma bisa mengubah makna. Misalnya, “Mari makan, Ayah” vs “Mari makan Ayah.” Klien menyukai hasilnya karena terasa alami dan profesional. Detail kecil adalah pembeda antara transkrip biasa dan transkrip berkualitas.

4. Pelajari Istilah Teknis Jika Masuk ke Niche Tertentu

Kalo bingung dengan istilah tertentu jadi perlu membuat glosarium pribadi, membaca artikel medis ringan, dan menonton video edukatif. Niche bukan penghalang, tapi peluang—asal mau belajar bahasa teknisnya.

5. Jaga Stamina Mental—Transkripsi Bisa Melelahkan Jika Tidak Diatur

Mendengarkan suara monoton selama berjam-jam bisa membuat otak “mati rasa.” Untuk itu perlu dengan rutin melakukan stretching dan minum air putih. Transkripsi bukan sprint, tapi maraton. Menjaga stamina mental adalah kunci agar tetap produktif dan sehat.

Pendapatannya

Pendapatan penulis transkrip bervariasi tergantung platform, niche, dan kecepatan kerja: Umum (freelance): Tarif permenit Rp1.000 – Rp3.000. Potensi Bulanan (Estimasi) Rp2 juta – Rp5 juta. Medis atau Hukum (spesialis) Rp5.000 – Rp10.000. Potensi Bulanan (Estimasi) Rp6 juta – Rp12 juta. Proyek langsung (klien) atau Negosiasi langsung bisa lebih tinggi.

Catatan: Pendapatan bisa meningkat seiring reputasi dan efisiensi kerja.

Bismillah

Bismillah bukan hanya pembuka ritual atau bacaan, melainkan fondasi spiritual yang seharusnya menjiwai seluruh aktivitas manusia. Menjadi titik tolak dari kesadaran bahwa segala sesuatu yang kita kerjakan—

Baik itu kala membangun rumah, saat menulis buku, mengajar anak-anak, atau bahkan sekadar menyapa antar sesama—yang kesemuanya berakar pada hubungan kita dengan Tuhan.

Dengan mengucapkan Bismillah, manusia tidak hanya memulai sesuatu, tapi ia menegaskan bahwa dunia yang ia bangun bukan sekadar hasil kerja keras, melainkan pancaran dari rahmat dan izin Ilahi.

Dunia yang dikerjakan manusia, dalam kerangka ini, bukan dunia yang terlepas dari Tuhan, melainkan dunia yang terhubung, yang bernafas dalam irama kasih sayang-Nya: Ar-Rahman dan Ar-Rahim.

Spiritualitas bukan berada di luar kehidupan, tapi justru menjadi inti dari kehidupan itu sendiri. Bismillah adalah jembatan antara niat dan tindakan, antara dunia batin dan dunia lahir.

Ia menjadi basis spiritual yang menyucikan kerja, memberi makna pada usaha, dan mengarahkan manusia untuk tidak sekadar mencipta, tetapi mencipta dengan kesadaran Ilahi.

Bayangkan jika setiap manusia memulai pekerjaannya dengan kesadaran seperti itu—dunia yang dibangun akan lebih jujur, lebih adil, dan lebih penuh kasih. Dunia yang tidak hanya berfungsi, tapi juga berdoa.[]

Do’a

Doa yang hanya terjebak dalam rutinitas bisa kehilangan ruhnya—menjadi sekadar lisan tanpa getaran batin. Melangkah dari rutinitas berarti membuka ruang untuk kehadiran yang lebih dalam:

Menghadirkan kesadaran, kejujuran, bahkan keberanian untuk berbicara kepada Tuhan bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan seluruh diri.

Kadang kita perlu diam lebih lama, menangis tanpa kata, atau bahkan bertanya dengan nada ragu. Karena doa bukan hanya soal hafalan, tapi tentang hubungan.

Dan hubungan yang hidup selalu berkembang—kadang penuh syukur, kadang penuh keluhan, kadang hanya sunyi yang penuh makna.

Doa bukan sekadar ritual, tapi dialog langsung dengan Tuhan yang M A H A D E K A T :

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah): Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Hubungan spiritual dalam Islam bersifat langsung dan personal. Jelas dikatakan QS Al-Baqarah: 186 “Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Karena itulah, “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Editor dan Proofreader

Editor dan proofreader adalah dua profesi penting dalam dunia literasi digital. Editor bertugas menyempurnakan isi, struktur, dan gaya tulisan agar komunikatif dan sesuai tujuan, sementara proofreader fokus pada koreksi teknis seperti ejaan, tanda baca, dan tata bahasa. Keduanya berperan menjaga kualitas teks—baik artikel, buku, konten digital, maupun dokumen bisnis—dan menjadi garda terakhir sebelum publikasi.

Cara Memulainya

Memulai karier sebagai editor atau proofreader tidak harus menunggu gelar akademik. Yang dibutuhkan adalah:

Kemampuan Bahasa. Kuasai tata bahasa, ejaan, dan gaya penulisan agar bisa menyunting dengan presisi.

Ketelitian dan Fokus. Proofreading butuh mata tajam dan kesabaran tinggi untuk menangkap kesalahan kecil.

Portofolio Awal. Mulailah dengan proyek gratis atau berbayar kecil untuk membangun reputasi dan bukti kerja.

Platform Freelance. Daftar di situs seperti Upwork, Fiverr, atau Sribulancer untuk menemukan klien pertama.

Personal Branding. Buat profil profesional di media sosial atau blog untuk mempromosikan jasa editingmu.

Mulailah dari Proyek Kecil. Bantu teman, gabung komunitas penulis, atau cari klien di platform freelance seperti Upwork, Fiverr, Freelancer, atau Sribulancer. Kamu juga bisa menawarkan jasa di media sosial atau blog pribadi.

Tips Kerja

Gunakan Tools Bantu. Aplikasi seperti Grammarly dan Hemingway bisa mempercepat proses koreksi awal.

Baca Dua Kali. Satu kali untuk isi dan logika, satu kali untuk teknis seperti ejaan dan tanda baca.

Checklist Revisi. Buat daftar poin yang harus dicek agar proses editing lebih sistematis dan konsisten.

Komunikasi Efektif. Bangun hubungan profesional dengan penulis, beri umpan balik yang jelas dan sopan.

Tentukan Niche. Fokus pada bidang tertentu—akademik, bisnis, kreatif—agar lebih mudah membangun keahlian dan jaringan.

Pendapatannya

Pendapatan editor dan proofreader sangat bervariasi tergantung pengalaman, niche, dan jenis proyek.

Pemula Freelance. Rp50.000–Rp150.000 per artikel, cocok untuk membangun portofolio dan pengalaman.

Editor Profesional. Rp300.000–Rp1.000.000 per proyek tergantung kompleksitas dan panjang naskah.

Proofreader Buku. Rp1.500.000–Rp5.000.000 per naskah, terutama untuk proyek penerbitan atau self-publishing.

Pasar Internasional. $10–$50 per jam di platform global, dengan potensi penghasilan yang lebih tinggi jika memiliki spesialisasi.

Pendapatan Pasif. Bisa juga membuka kelas online, e-book, atau template editing sebagai sumber tambahan.

Dengan konsistensi dan reputasi, profesi ini bisa menjadi sumber penghasilan utama yang fleksibel dan berkelanjutan.

Tumbangnya Teknokrasi: Narasi Baru Ekonomi Indonesia

Kejatuhan Soeharto pada Mei 1998 bukan hanya akhir dari sebuah rezim, tetapi titik balik sejarah yang memperlihatkan bagaimana kekuatan global dapat mengguncang fondasi politik nasional. Krisis moneter yang melanda Asia pada 1997 menjalar ke Indonesia dengan cepat, menyebabkan nilai rupiah terjun bebas, inflasi melonjak, dan kepercayaan publik terhadap stabilitas ekonomi runtuh. Dalam situasi genting itu, pemerintah Indonesia menggandeng International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia untuk menyelamatkan ekonomi. Namun, paket bantuan yang ditawarkan datang dengan syarat reformasi struktural yang ketat—penutupan bank, pencabutan subsidi, dan liberalisasi pasar—yang justru memperparah penderitaan rakyat dan memperbesar jurang ketimpangan sosial.

Di balik kebijakan teknokratis yang tampak rasional, tersembunyi tekanan politik yang sangat besar. IMF menolak keras rencana Soeharto untuk menerapkan currency board, dan negara-negara Barat, termasuk Amerika Serikat, turut menekan agar Indonesia tetap mengikuti resep IMF. Ketika Soeharto tetap menunjuk kroni-kroninya dan enggan melakukan reformasi politik, kepercayaan internasional pun runtuh. Di dalam negeri, kemarahan rakyat memuncak. Demonstrasi mahasiswa, kerusuhan sosial, dan desakan publik tak terbendung. Dalam atmosfer yang penuh ketegangan, Soeharto akhirnya mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Kisah ini bukan sekadar cerita tentang angka dan kebijakan ekonomi. Ini adalah narasi tentang benturan antara kedaulatan nasional dan arsitektur keuangan global, antara stabilitas teknokratis dan tuntutan demokratis. Kejatuhan Soeharto menjadi simbol bagaimana kekuatan eksternal—lembaga keuangan internasional, tekanan diplomatik, dan arus globalisasi—dapat memengaruhi arah politik suatu bangsa. Indonesia tidak hanya mengalami krisis ekonomi, tetapi juga mengalami kelahiran ulang: sebuah transisi menuju era reformasi yang membuka ruang bagi demokrasi, transparansi, dan redefinisi hubungan antara negara dan rakyatnya.

Mari kita lihat di konteks saat ini dan biar lebih jelas—dan menarik untuk ditelusuri. Dalam pemerintahan Prabowo Subianto, peran Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan menjadi sorotan tajam, terutama menjelang dan sesudah gelombang demonstrasi besar-besaran yang terjadi sejak akhir Agustus hingga awal September 2025.

Sri Mulyani, yang dikenal sebagai teknokrat dengan pendekatan fiskal konservatif dan keterikatan kuat pada prinsip-prinsip ekonomi global, sempat menjadi simbol stabilitas di tengah ketidakpastian. Namun, dalam konteks pemerintahan Prabowo yang mengusung agenda pertumbuhan cepat dan ekonomi kerakyatan, pendekatan Sri Mulyani mulai dianggap tidak selaras. Ketegangan memuncak ketika demonstrasi pecah, dipicu oleh ketidakpuasan publik terhadap kebijakan ekonomi, ketimpangan sosial, dan persepsi bahwa pemerintah terlalu tunduk pada arsitektur keuangan global yang tidak berpihak pada rakyat.

Sebagai respons atas tekanan politik dan sosial yang meningkat, Prabowo mengganti Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa pada 8 September 2025. Pergantian ini dipandang sebagai langkah strategis untuk menggeser arah kebijakan ekonomi dari pendekatan teknokratis berbasis IMF dan Bank Dunia menuju model yang lebih populis dan pro-BRICS—mengutamakan pertumbuhan, keterlibatan sektor swasta, dan penguatan ekonomi domestik. Dalam konteks ini, “tumbangnya” Sri Mulyani bukan hanya soal jabatan, tapi simbol dari pergeseran poros kekuatan: dari Barat ke Timur, dari stabilitas fiskal ke ekspansi pertumbuhan, dari teknokrasi ke politik massa.